Bagi banyak orang, Hari Kemenangan di Rusia selalu identik dengan suara yang menggetarkan dada. Deru tank, barisan rudal, dan langkah ribuan tentara di Lapangan Merah sudah lama menjadi gambaran yang melekat setiap tanggal 9 Mei. Dari tahun ke tahun, perayaan ini bukan hanya menjadi penghormatan atas kemenangan Uni Soviet terhadap Nazi Jerman dalam Perang Dunia II, tetapi juga cara Rusia menunjukkan bahwa kekuatan militernya masih berdiri kokoh. Karena itu, perayaan pada 9 Mei 2026 terasa berbeda sejak awal.
Lapangan Merah di Moskow tetap dipenuhi pasukan berseragam rapi. Musik militer tetap dimainkan. Para pejabat tinggi negara tetap hadir di tribun kehormatan. Dari kejauhan, semuanya tampak seperti peringatan Hari Kemenangan yang biasa. Namun ketika parade dimulai, banyak orang segera menyadari ada sesuatu yang hilang.
Tidak ada tank. Tidak ada kendaraan lapis baja yang bergerak perlahan melewati batu-batu bersejarah di pusat kota Moskow. Tidak ada peluncur rudal yang biasanya menjadi pusat perhatian kamera. Tidak ada gemuruh mesin berat yang selama ini menjadi ciri khas perayaan tersebut.
Untuk pertama kalinya sejak 2007, Rusia memutuskan untuk tidak membawa peralatan militer berat ke Lapangan Merah. Keputusan ini cukup mengejutkan, mengingat parade Hari Kemenangan selama hampir dua dekade terakhir selalu menempatkan kekuatan persenjataan sebagai salah satu daya tarik utama.
Bukan berarti Rusia benar-benar menyembunyikan kemampuan militernya. Persenjataan strategis seperti rudal balistik antarbenua Yars, kapal selam nuklir Arkhangelsk, dan sistem pertahanan udara S-500 tetap diperlihatkan kepada publik. Hanya saja, semuanya ditampilkan melalui layar raksasa dan siaran televisi nasional.
Dengan kata lain, kekuatan itu tetap ada, tetapi tidak lagi melintas di jalanan. Ia hadir dalam bentuk gambar, video, dan visual digital. Seolah-olah parade tahun ini ingin mengatakan bahwa simbol kekuatan tidak selalu harus ditampilkan dengan cara yang sama.
Meski lebih sederhana, parade tetap menyimpan sejumlah momen penting. Salah satunya adalah kemunculan unit drone dalam formasi darat. Untuk pertama kalinya, pasukan sistem pesawat tanpa awak ikut ambil bagian dalam Hari Kemenangan. Kehadiran mereka menjadi penanda perubahan zaman. Jika pada masa lalu tank dan rudal menjadi lambang utama peperangan, maka hari ini teknologi tanpa awak mulai mengambil peran yang semakin besar.
Rusia juga menghadirkan kontingen militer dari Korea Utara. Kehadiran mereka langsung menarik perhatian dunia internasional. Di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah, partisipasi tersebut dipandang sebagai simbol bahwa hubungan kedua negara masih berlangsung erat.
Di langit Moskow, unsur spektakuler tetap dipertahankan. Jet tempur Sukhoi Su-25 melintas dan meninggalkan jejak asap putih, biru, dan merah, membentuk warna bendera Rusia. Atraksi itu menjadi salah satu momen yang paling ditunggu, sekaligus pengingat bahwa semangat kebanggaan nasional tetap dipertahankan meskipun format parade berubah.
Lalu muncul pertanyaan yang cukup menarik: mengapa Rusia memilih format yang lebih tenang?
Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari situasi politik dan keamanan yang sedang berlangsung.
Pada saat peringatan Hari Kemenangan digelar, Rusia dan Ukraina tengah menjalani gencatan senjata sementara selama tiga hari, dari 9 hingga 11 Mei 2026. Kesepakatan tersebut dimediasi oleh Donald Trump, yang saat ini menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. Selain menghentikan serangan untuk sementara, kedua pihak juga menyepakati pertukaran masing-masing 1.000 tawanan perang.
Bagi sebagian orang, gencatan senjata ini dipandang sebagai jeda singkat di tengah konflik yang masih belum menemukan titik akhir. Bagi Rusia, momen tersebut memberi ruang untuk menggelar salah satu perayaan nasional terpenting tanpa tekanan militer yang terlalu besar.
Namun alasan diplomatik bukan satu-satunya faktor. Keamanan menjadi pertimbangan utama. Dalam beberapa waktu terakhir, ancaman serangan drone semakin meningkat. Membawa kendaraan tempur berat ke pusat kota tentu akan menambah kompleksitas pengamanan. Dengan format yang lebih sederhana, risiko tersebut dapat dikurangi tanpa menghilangkan makna simbolik parade.
Dalam pidatonya, Vladimir Putin tidak secara langsung membahas invasi ke Ukraina. Ia memilih menekankan bahwa seluruh rakyat Rusia memiliki peran dalam mendukung tujuan nasional. Ia juga menghubungkan perjuangan melawan Nazi pada 1945 dengan situasi yang dihadapi Rusia saat ini, yang menurutnya merupakan bentuk perlawanan terhadap tekanan dari NATO.
Pidato itu menunjukkan bahwa Hari Kemenangan tidak hanya dimaknai sebagai peringatan sejarah. Ia juga menjadi ruang bagi pemerintah untuk menegaskan narasi politik masa kini. Masa lalu dan masa sekarang disatukan dalam satu panggung, dengan pesan bahwa semangat perjuangan masih terus berlanjut.
Moskow sendiri dilaporkan tetap kondusif selama seluruh rangkaian acara berlangsung. Tidak ada insiden besar yang mengganggu parade. Ribuan orang menyaksikan jalannya peringatan dengan tertib, sementara perhatian dunia tertuju pada bagaimana Rusia memilih menampilkan dirinya di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Pada akhirnya, Hari Kemenangan 2026 menghadirkan gambaran yang cukup menarik. Rusia tetap merayakan sejarahnya dengan penuh penghormatan. Pasukan tetap berbaris. Pesawat tetap terbang. Bendera tetap berkibar. Namun suara paling keras tahun ini justru datang dari apa yang tidak ditampilkan dan mungkin di situlah makna terbesarnya.
Bahwa bahkan negara yang selama ini identik dengan demonstrasi kekuatan pun, pada saat tertentu, memilih berbicara dengan nada yang lebih tenang. Di tengah gencatan senjata yang hanya bersifat sementara, Hari Kemenangan 2026 menjadi pengingat bahwa sejarah, politik, dan keamanan selalu berjalan berdampingan. Dan kadang-kadang, justru dalam kesederhanaan, sebuah perayaan mampu menyampaikan pesan yang paling kuat.