Selama beberapa dekade, Indonesia telah begitu nyaman menduduki singgasana sebagai raja otomotif Asia Tenggara. Dengan produksi yang menembus jutaan unit per tahun dan jaringan pabrik raksasa milik Toyota, Honda, hingga Astra International, posisi Indonesia seolah tak tergoyahkan. Namun, kenyamanan itu kini sedang diguncang oleh satu ancaman nyata dari utara: Vietnam. Pertanyaan besarnya, apakah Vietnam benar-benar siap menyalip Indonesia dan merebut mahkota hub otomotif utama di kawasan ini?
Tak bisa dipungkiri, fondasi industri otomotif Indonesia masih sangat besar. Pasar domestik kita yang berpenduduk lebih dari 270 juta jiwa menjadi tameng kuat yang menyerap sebagian besar produksi lokal. Ekosistem supply chain untuk mobil berbahan bakar internal (ICE) di Indonesia sudah terintegrasi dengan sempurna, mulai dari pabrik komponen hingga perakitan utama. Vietnam, di sisi lain, masih sangat bergantung pada impor komponen dan pasar domestiknya jauh lebih kecil.
Di tengah perubahan cepat industri otomotif global yang beralih dari mobil BBM ke kendaraan listrik, Vietnam memilih jalan pintas yang cerdas. Mereka tidak membuang energi untuk mengejar ketertinggalan di teknologi mesin konvensional, melainkan langsung melompat ke era kendaraan listrik sebagai strategi utama mereka.
Pilar utama Vietnam dalam industri ini adalah VinFast, anak perusahaan dari konglomerat raksasa Vingroup. Berkat sokongan modal yang sangat besar dari pemerintah dan induk perusahaannya, VinFast menunjukkan komitmen yang sangat serius. Mereka telah mendirikan fasilitas perakitan mutakhir di Hai Phong dengan kapasitas produksi mencapai ratusan ribu unit EV per tahun. Tak hanya itu, VinFast juga gencar melakukan ekspansi internasional dengan merambah pasar Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia Tenggara—termasuk Indonesia. Langkah berani ini menjadi pencapaian baru yang belum pernah diraih oleh merek otomotif lokal mana pun di kawasan Asia Tenggara.
Vietnam juga memiliki senjata rahasia lain yang sangat mematikan: Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA). Sebagai anggota CPTPP dan memiliki perjanjian EVFTA (EU-Vietnam Free Trade Agreement), mobil buatan Vietnam seperti VinFast bisa masuk ke pasar Eropa dengan tarif bea masuk yang jauh lebih rendah, bahkan nol persen. Ini adalah keunggulan kompetitif yang sangat krusial yang belum dimiliki oleh Indonesia dalam negosiasi dagangnya ke blok Eropa.
Sementara itu, Indonesia terjebak dalam paradoks sumber daya. Kita membanggakan nikel sebagai kunci baterai EV, namun program hilirisasi sejauh ini hanya terkonsentrasi pada smelter, bukan produksi mobil listrik secara utuh. Kita sering terlena dengan kekayaan alam, padahal kepemilikan bahan baku tidak serta-merta menjadikan kita hub otomotif dunia. Investor asing justru ragu menjadikan Indonesia basis produksi ekspor karena terhambat oleh rumitnya perizinan, konflik regulasi pusat-daerah, serta kebijakan insentif fiskal yang berubah-ubah. Kegagalan menggaet investasi Tesla adalah bukti nyata bahwa ada yang perlu segera diperbaiki.
Vietnam menawarkan apa yang tidak bisa ditawarkan Indonesia saat ini: kecepatan. Pemerintah Vietnam memberikan jalur cepat (fast track) untuk perizinan pabrik, insentif pajak yang tegas jangka panjang, dan birokrasi terpusat yang sangat responsif terhadap kebutuhan investor.
Mungkin Vietnam belum akan menyalip total produksi Indonesia dalam dua atau tiga tahun ke depan karena basis industri mobil konvensional kita yang sangat kokoh. Namun, mari jujur: dalam hal inovasi, valuasi bisnis, dan daya tarik investasi energi hijau, Vietnam melaju kencang meninggalkan kita. Selama kita masih terjebak pada euforia nikel dan birokrasi yang berbelit, posisi Indonesia sebagai pusat otomotif regional perlahan terancam. Vietnam sudah bersiap mengambil alih tongkat estafet tersebut, dan itu hanya masalah waktu jika kita tidak segera berbenah.