AS Tekan Ekonomi Iran, Hubungan dengan China Terancam Memanas

T Tirza 22 Agu 2026 2 dilihat 4 menit baca

Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui rencana isolasi ekonomi yang disebut berpotensi menjadi salah satu langkah paling besar dalam sejarah kebijakan sanksi internasional. Strategi tersebut tidak hanya menyasar Iran, tetapi juga negara-negara dan mitra ekonomi yang masih melakukan hubungan dagang dengan Teheran. Kebijakan ini pun berpotensi memperbesar ketegangan antara AS dan China, mengingat Beijing memiliki hubungan ekonomi yang cukup erat dengan Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa Washington berencana meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan membidik jaringan ekonomi yang membantu negara tersebut mempertahankan aktivitas perdagangannya. Dalam wawancara dengan CNBC pada Kamis, 20 Agustus 2026, Bessent menggambarkan rencana tersebut sebagai upaya isolasi ekonomi terkoordinasi dalam skala yang sangat besar.

Pernyataan Bessent juga membawa kembali peringatan keras yang pernah disampaikan mantan Presiden AS George W. Bush kepada negara-negara sekutu setelah serangan 11 September. Dalam konteks kebijakan terbaru terhadap Iran, Bessent menekankan pilihan yang dihadapi negara-negara lain secara tegas, yakni berada di pihak AS atau mengambil posisi yang berseberangan dengan kebijakan Washington.

“Ini bakal menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia,” ujar Bessent. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah AS tidak hanya ingin memperketat tekanan langsung terhadap Iran, tetapi juga berupaya memperluas dampak kebijakan kepada pihak-pihak yang menjadi mitra dagang Teheran.

Langkah ini menjadi perhatian besar karena China berpotensi menjadi salah satu negara yang paling terdampak secara politik dan ekonomi. China selama ini memiliki hubungan perdagangan dan kerja sama ekonomi dengan Iran, termasuk dalam sektor energi. Ketika AS berupaya menekan negara-negara yang masih menjalin hubungan ekonomi dengan Teheran, kebijakan tersebut dapat menempatkan Beijing dalam posisi yang semakin sulit.

Hubungan antara Washington dan Beijing sendiri telah menghadapi berbagai persoalan, mulai dari persaingan perdagangan, teknologi, keamanan, hingga pengaruh geopolitik. Rencana isolasi ekonomi Iran berpotensi membuka sumber ketegangan baru. Jika AS meningkatkan tekanan terhadap perusahaan atau negara yang membeli komoditas dari Iran, maka China dapat memandang langkah tersebut sebagai bentuk perluasan pengaruh kebijakan ekonomi AS terhadap hubungan perdagangan internasional.

Iran memiliki posisi penting dalam peta energi dunia karena menjadi salah satu negara dengan cadangan minyak dan gas yang besar. Meskipun berbagai sanksi telah diterapkan terhadap Teheran dalam beberapa tahun terakhir, Iran tetap berupaya mempertahankan ekspor dan hubungan perdagangan melalui sejumlah jalur alternatif. Negara-negara mitra pun menjadi bagian penting dalam kemampuan Iran untuk menjaga perputaran ekonominya.

Karena itu, strategi baru Washington diperkirakan akan menyasar bukan hanya aktivitas ekonomi yang dilakukan langsung oleh pemerintah Iran. Pengawasan terhadap transaksi internasional, perusahaan perdagangan, lembaga keuangan, jalur pelayaran, serta pembelian energi dapat menjadi bagian dari tekanan ekonomi yang lebih luas. Dampaknya dapat dirasakan oleh berbagai pihak yang terhubung secara tidak langsung dengan perdagangan Iran.

Bagi China, persoalan tersebut dapat menjadi semakin kompleks. Beijing tentu memiliki kepentingan untuk menjaga keamanan pasokan energi dan mempertahankan hubungan perdagangan dengan berbagai negara. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan China juga memiliki kepentingan besar terhadap akses pasar internasional, termasuk sistem keuangan global yang masih dipengaruhi kuat oleh AS.

Kondisi tersebut menciptakan dilema bagi perusahaan yang beroperasi secara internasional. Mereka harus mempertimbangkan risiko apabila terus melakukan transaksi dengan pihak yang terkena sanksi AS. Sanksi sekunder atau pembatasan akses terhadap pasar dan sistem keuangan AS dapat menjadi ancaman serius bagi perusahaan yang memiliki aktivitas bisnis lintas negara.

Selain meningkatkan ketegangan antara AS dan China, kebijakan tersebut juga berpotensi memengaruhi pasar energi global. Setiap langkah yang menghambat perdagangan minyak Iran dapat memicu kekhawatiran mengenai pasokan energi. Pasar minyak sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, terutama jika ketegangan terjadi di kawasan Timur Tengah yang memiliki peran penting dalam produksi dan distribusi energi dunia.

Kenaikan tekanan ekonomi terhadap Iran juga dapat membuat negara tersebut semakin memperkuat kerja sama dengan mitra yang bersedia mempertahankan hubungan perdagangan. Situasi ini berpotensi mempercepat terbentuknya jalur perdagangan alternatif serta sistem pembayaran yang tidak sepenuhnya bergantung pada mekanisme keuangan yang dikendalikan negara-negara Barat.

Namun, keberhasilan strategi isolasi ekonomi tetap bergantung pada dukungan internasional. Semakin banyak negara yang bergabung dengan kebijakan AS, semakin besar pula tekanan terhadap Iran. Sebaliknya, jika negara-negara besar seperti China memilih mempertahankan hubungan ekonomi dengan Teheran, efektivitas isolasi tersebut dapat menghadapi hambatan yang cukup besar.

Rencana pemerintah AS ini pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan Iran. Kebijakan tersebut dapat menjadi ujian baru bagi hubungan Washington dan Beijing, terutama dalam menentukan batas pengaruh sanksi ekonomi terhadap perdagangan global. Jika AS benar-benar mengambil tindakan terhadap mitra dagang Iran dalam skala luas, respons China akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah ketegangan geopolitik berikutnya.

Dunia kini menunggu langkah konkret yang akan diumumkan pemerintah AS terkait strategi tekanan ekonomi tersebut. Kebijakan yang digambarkan sebagai isolasi ekonomi terkoordinasi dalam skala besar berpotensi membawa dampak luas terhadap Iran, China, pasar energi, perdagangan internasional, hingga hubungan antarnegara. Perkembangan selanjutnya akan menjadi perhatian karena setiap keputusan yang diambil dapat kembali memanaskan persaingan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
T

Ditulis oleh

Tirza

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait