Selama lebih dari satu dekade, Amazon Web Services (AWS) berdiri nyaris tak tergoyahkan sebagai penguasa pasar komputasi awan global. Ia adalah pionir yang mengubah cara perusahaan membangun infrastruktur digital, dan hingga kini masih memegang pangsa pasar terbesar di dunia. Namun di balik angka-angka yang terlihat mendominasi, ada retakan yang mulai melebar. Boom kecerdasan buatan (AI) yang meledak dalam beberapa tahun terakhir justru menjadi arena di mana AWS tampak kedodoran menghadapi dua rivalnya: Microsoft Azure dan Google Cloud.
Berdasarkan data industri terbaru, AWS masih memimpin pasar infrastruktur cloud dunia dengan pangsa sekitar 28-30 persen, jauh di atas Azure yang berada di kisaran 21-25 persen dan Google Cloud di 13-14 persen. Pendapatan kuartalan AWS pun tetap raksasa, mencapai puluhan miliar dolar setiap tiga bulan. Jika hanya melihat ukuran, AWS tetap raja.
Namun laju pertumbuhan bercerita lain. Pada kuartal pertama 2026, pendapatan AWS tumbuh sekitar 28 persen dibanding tahun sebelumnya—angka yang sebenarnya cukup kuat dan menjadi pertumbuhan tercepat AWS dalam belasan kuartal terakhir. Masalahnya, Azure tumbuh sekitar 40 persen pada periode yang sama, sementara Google Cloud melesat hingga 63 persen. Dengan kata lain, dua pesaing terdekatnya sedang berlari jauh lebih kencang, dan celah pertumbuhan itu adalah yang terlebar dalam beberapa tahun terakhir.
Ironisnya, ledakan permintaan AI yang seharusnya menjadi berkah bagi seluruh industri cloud justru menjadi medan di mana AWS kehilangan momentum relatif. Ada beberapa alasan di baliknya.
Pertama, narasi diferensiasi AI. Google Cloud, misalnya, mulai memosisikan solusi AI perusahaannya sebagai pendorong utama pertumbuhan, dengan eksekutif puncaknya menyebut AI perusahaan sebagai motor pertumbuhan cloud nomor satu untuk pertama kalinya. Keunggulan Google dalam riset AI dan infrastruktur chip kustomnya memberi kesan bahwa mereka “lebih pintar” dalam soal AI dibanding AWS yang secara historis dikenal unggul dalam infrastruktur mentah, bukan riset model.
Kedua, integrasi erat Azure dengan model-model AI generatif populer memberi Microsoft jalur langsung ke perusahaan-perusahaan yang ingin cepat mengadopsi AI tanpa membangun semuanya dari nol. Ketika perusahaan sudah menggunakan ekosistem Microsoft 365 dan produk enterprise lainnya, migrasi ke Azure untuk kebutuhan AI terasa jauh lebih mulus.
Ketiga, meski AWS juga memiliki layanan AI sendiri dengan tingkat pendapatan tahunan yang telah melampaui belasan miliar dolar, angka itu masih tertinggal jauh dari lonjakan bisnis AI Microsoft yang tumbuh lebih dari seratus persen dalam setahun. AWS terkesan bermain bertahan, mengandalkan kekuatan infrastrukturnya yang sudah mapan, alih-alih menjadi pihak yang menentukan arah tren AI generatif berikutnya.
Penting dicatat, ini bukan berarti AWS sedang runtuh. Skala AWS tetap sangat besar, marginnya tetap sehat—bahkan salah satu yang tertinggi di antara tiga pemain besar—dan basis pelanggan enterprisenya sudah mengakar selama bertahun-tahun lewat kontrak jangka panjang dan biaya migrasi yang tinggi. Sembilan dari sepuluh perusahaan besar kini menjalankan strategi multi-cloud, artinya AWS tidak harus “menang mutlak” untuk tetap relevan; ia hanya perlu tidak tertinggal terlalu jauh.
Namun pasar modal dan analis industri jeli membaca sinyal pertumbuhan, bukan hanya ukuran absolut. Ketika investor menilai masa depan sebuah perusahaan cloud, kecepatan pertumbuhan di segmen AI menjadi indikator penting soal siapa yang akan memimpin dekade berikutnya. Jika tren ini berlanjut—Google dan Microsoft terus tumbuh dua hingga tiga kali lipat lebih cepat dari AWS di segmen AI—maka dalam beberapa tahun ke depan peta kekuatan cloud bisa benar-benar berubah, meski AWS mungkin masih memimpin dari sisi pangsa pasar nominal.
Amazon tampaknya sadar akan tantangan ini. Perusahaan terus menggenjot belanja modal untuk infrastruktur AI, memperluas kemitraan dengan penyedia model AI pihak ketiga, dan mempercepat pengembangan chip kustomnya sendiri untuk mengejar efisiensi biaya komputasi AI. Pertanyaannya adalah apakah langkah-langkah ini cukup cepat untuk mengimbangi laju inovasi dan persepsi pasar terhadap Azure dan Google Cloud.
AWS belum “dalam bahaya” dalam arti harfiah—ia masih raja dari sisi ukuran dan profitabilitas. Tetapi mahkotanya kini tidak lagi berkilau tanpa tantangan. Boom AI telah mengubah arena kompetisi cloud dari sekadar soal siapa yang punya server terbanyak, menjadi soal siapa yang paling cepat berinovasi dan paling dipercaya membawa perusahaan memasuki era kecerdasan buatan. Dan di arena baru inilah, untuk pertama kalinya dalam lama, AWS bukan lagi yang terdepan.