JAKARTA – Kondisi kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia kembali berada di titik nadir yang sangat mengkhawatirkan. Salah satu mamalia besar paling langka di dunia, Badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni), dilaporkan kini hanya tersisa dua ekor saja di habitat aslinya. Menghadapi ancaman kepunahan total yang sudah di depan mata, para ilmuwan, praktisi lingkungan, dan pemerintah kini tengah berpacu dengan waktu melalui rencana implementasi teknologi reproduksi berbantuan, yakni program bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF).
Spesies endemik yang sempat dikira telah punah puluhan tahun lalu ini berada dalam status Critically Endangered (Sangat Terancam Punah). Faktor penyusutan lahan hutan akibat pembukaan perkebunan skala besar, pertambangan ilegal, hingga aktivitas perburuan liar masa lalu menjadi penyebab utama menyusutnya populasi satwa soliter ini hingga ke titik kritis.
Dengan populasi yang hanya menyisakan dua individu yang diketahui hidup, metode perkawinan secara alami di alam liar sudah mustahil untuk diandalkan. Selain jarak jelajah antar-individu yang terlalu jauh di dalam hutan pedalaman Kalimantan, faktor usia dan potensi gangguan reproduksi pada satwa yang terisolasi menjadi kendala biologis yang sangat besar.
Fakta Sains: Pemanfaatan teknologi IVF atau bayi tabung ini diadopsi dari kesuksesan para ilmuwan internasional dalam menyelamatkan genetik Badak Putih Utara di Afrika yang juga berada di ambang kepunahan serupa.
Program penyelamatan darurat ini akan melibatkan pengambilan sel telur (oosit) dari badak betina tersisa yang ada di kantong perlindungan. Sel telur tersebut nantinya akan dibuahi di laboratorium khusus menggunakan sperma badak jantan yang telah dibekukan dan disimpan dalam bank genetik (biobank) nasional. Jika proses pembuahan berhasil, embrio yang terbentuk akan ditanamkan kembali ke rahim badak bertindak sebagai induk pengganti (surrogate mother).
Mengingat tingkat kesulitan dan risiko yang sangat tinggi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggandeng berbagai lembaga konservasi internasional, ahli genetika satwa liar dari Jerman dan Malaysia, serta universitas terkemuka di Indonesia. Langkah awal yang sedang dilakukan saat ini adalah memperketat proteksi kawasan habitat tersisa guna memastikan kedua badak tersebut terhindar dari stres dan ancaman pemburu.
Pembangunan fasilitas laboratorium rekayasa reproduksi satwa canggih juga mulai dikebut di Kalimantan Tengah dan Timur. Proyek ini diharapkan tidak hanya menjadi penyelamat bagi Badak Kalimantan, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran global untuk penyelamatan spesies langka lainnya di Asia Tenggara.
Upaya penyelamatan melalui jalur sains ini tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit serta komitmen politik dan sosial yang kuat dari semua pihak. Kehilangan Badak Kalimantan bukan hanya menjadi tamparan keras bagi dunia konservasi Indonesia, melainkan juga hilangnya satu rantai penting dalam keseimbangan ekosistem hutan hujan tropis dunia.
Masyarakat global kini menaruh harapan besar pada tabung-tabung reaksi para ilmuwan. Keberhasilan program bayi tabung ini akan menjadi bukti nyata bagaimana batasan teknologi modern dapat berkolaborasi dengan alam demi menebus kesalahan manusia di masa lalu dan memberikan kesempatan kedua bagi Badak Kalimantan untuk kembali lestari.