Terbaru
Biar Berdesakan Tetap Setia, Ini Alasan Transportasi Publik Jakarta Makin Jadi Primadona Kalender Ekonomi Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga Warnai Pekan Ini Tragedi Berdarah Jelang Sidang Skripsi Seorang Mahasiswa di Sumba Tewas Mengenaskan Akibat Tertembak Senjata Api Teman Sendiri Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Gegerkan UPN Yogyakarta, Tujuh Dosen Diperiksa Universitas Swasta Terkemuka Mulai Mengintegrasikan Modul Validasi Deteksi Plagiarisme Mandiri Guna Memperketat Standardisasi Orisinalitas Laporan Ilmiah Lonjakan Minat Pelaku Usaha Mikro Beralih Menggunakan Jasa Kreator Konten Virtual Berbasis Kecerdasan Buatan Guna Memotong Biaya Pemasaran Digital Siap-siap, 5 Profesi Ini Paling Rawan Kena 'Gusur' AI Tahun Depan! Google Batasi Gemini Intelligence Hanya untuk Ponsel Android Premium Biar Berdesakan Tetap Setia, Ini Alasan Transportasi Publik Jakarta Makin Jadi Primadona Kalender Ekonomi Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga Warnai Pekan Ini Tragedi Berdarah Jelang Sidang Skripsi Seorang Mahasiswa di Sumba Tewas Mengenaskan Akibat Tertembak Senjata Api Teman Sendiri Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Gegerkan UPN Yogyakarta, Tujuh Dosen Diperiksa Universitas Swasta Terkemuka Mulai Mengintegrasikan Modul Validasi Deteksi Plagiarisme Mandiri Guna Memperketat Standardisasi Orisinalitas Laporan Ilmiah Lonjakan Minat Pelaku Usaha Mikro Beralih Menggunakan Jasa Kreator Konten Virtual Berbasis Kecerdasan Buatan Guna Memotong Biaya Pemasaran Digital Siap-siap, 5 Profesi Ini Paling Rawan Kena 'Gusur' AI Tahun Depan! Google Batasi Gemini Intelligence Hanya untuk Ponsel Android Premium

Biar Berdesakan Tetap Setia, Ini Alasan Transportasi Publik Jakarta Makin Jadi Primadona

S Sawalika 26 Mei 2026 3 dilihat 3 menit baca

Bayangkan pemandangan pagi hari di Stasiun Sudirman atau Halte Harmoni. Lautan manusia berseragam rapi, tas ransel di punggung, dan kopi dalam genggaman, semuanya bergerak kompak menuju peron atau halte. Pemandangan kereta rel listrik (KRL) atau TransJakarta yang sudah terisi penuh sesak sebelum pintu benar-benar menutup bukanlah halangan. Fenomena "berdesakan" ini seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika ibu kota. Namun, anehnya, dibandingkan beberapa tahun silam, antusiasme warga Jakarta terhadap transportasi publik justru kian membludak.

Lalu, apa sebenarnya alasan transportasi publik Jakarta makin menjadi primadona, meski penggunanya harus rela berpeluh dan berdesakan?

Alasan pertama yang paling sering mengemuka adalah urusan efisiensi biaya. Memelihara kendaraan pribadi di ibu kota bukan cuma perkara menebus harga beli kendaraan, melainkan biaya operasional harian yang perlahan menguras dompet. Mulai dari harga BBM yang kian melambung, tarif parkir di pusat kota yang luar biasa mahal, hingga biaya rutin servis bulanan. Sebaliknya, hanya dengan mengeluarkan modal mulai dari Rp3.000 untuk TransJakarta hingga Rp5.000 untuk KRL, warga sudah bisa menempuh perjalanan pulang-pergi jarak jauh. Selisih dana yang dihemat ini tentu bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain yang jauh lebih bermanfaat.

Alasan kedua menyangkut akurasi waktu. Jakarta terkenal dengan kemacetannya yang tak bisa ditebak. Sebuah perjalanan 10 kilometer bisa memakan waktu dua jam di jam sibuk. Naik kendaraan pribadi sering kali membuat seseorang harus berangkat lebih pagi dan tetap berisiko terlambat. Berbeda dengan transportasi publik seperti MRT atau KRL yang berjalan di rel khusus. Waktu tempuhnya bisa diprediksi dengan sangat akurat. Bagu para pekerja, ketepatan waktu ini adalah harga mati yang menjaga profesionalisme mereka di kantor.

Berikutnya, ada alasan kesehatan mental alias me time. Menyetir sendiri di Jakarta itu butuh fokus tingkat dewa dan sering bikin darah tinggi karena macet atau kelakuan pengendara lain yang ugal-ugalan. Nah, naik transportasi umum bisa membebaskan kita dari stres itu. Biarpun kondisinya penuh dan desak-desakan di dalam gerbong, kita masih bisa merem sejenak buat balas dendam kurang tidur, baca buku, dengerin podcast, atau asyik scroll media sosial dengan santai tanpa perlu takut menabrak kendaraan di depan.

Tak hanya itu, Pemerintah DKI Jakarta lewat kerja sama berbagai operator kini sukses merajut ekosistem transportasi yang saling terhubung. Dahulu, berganti moda transportasi dari bus ke kereta kerap menjadi momok karena penumpang harus repot keluar-masuk gerbang dan membeli tiket baru. Kini, kehadiran kartu JakLingko dan titik-titik transit strategis seperti di Stasiun Dukuh Atas atau Halte Harmoni membuat perpindahan tersebut berjalan mulus. Warga dapat dengan mudah mengombinasikan mikrotrans, TransJakarta, lalu menyambung ke MRT atau KRL hanya dengan satu kali ketuk kartu. Kemudahan fasilitas ini terbukti ampuh memangkas friksi dan rasa enggan warga untuk bepergian.

Terakhir, ada pergeseran gaya hidup, terutama di kalangan generasi muda. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan hidup semakin meningkat. Memilih transportasi publik adalah salah satu bentuk nyata mengurangi jejak karbon dan polusi udara di Jakarta. Selain itu, tren minimalism juga membuat banyak milenial dan Gen Z lebih memilih utilitas daripada status sosial. Punya kendaraan pribadi bukan lagi tolok ukur kesuksesan; memiliki mobilitas yang efisien dan tanggap terhadap isu lingkungan justru dinilai lebih keren.

Ujung-ujungnya, rasa sesak dan gerah pas desak-desakan di dalam bus atau kereta itu jadi semacam 'tiket masuk' yang ikhlas dibayar sama warga Jakarta. Kalau dibandingin sama stresnya kena macet, borosnya uang bensin, plus waktu di jalan yang nggak jelas, desak-desakan bareng ribuan orang lain sih berasa nggak ada apa-apanya. Transportasi umum di Jakarta memang belum sempurna, tapi perkembangannya jalan terus dan terbukti jadi urat nadi transportasi kota yang nggak bisa digantikan oleh apa pun.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Tiba di Tanah Air, Sembilan Relawan WNI yang Ditahan Pasukan Israel Selamat di Bandara Soekarno-Hatta

Tiba di Tanah Air, Sembilan Relawan WNI yang Ditahan Pasukan Israel Selamat di Bandara Soekarno-Hatta

JAKARTA — Sembilan relawan warga negara Indonesia (WNI) yang sempat ditahan oleh pasukan keamanan Israel saat menjalankan misi kemanusiaan di Jalur Gaza, akhirnya resmi menginjakkan kaki kembali di tanah air. Pesawat yang membawa rombongan kemanusiaan tersebut mendarat dengan selamat di...

25 Mei 2026

Langkah Tepat KemenPPPA Dorong Polri Gandeng Interpol Usut Eksploitasi Anak di Lokasari

Langkah Tepat KemenPPPA Dorong Polri Gandeng Interpol Usut Eksploitasi Anak di Lokasari

JAKARTA – Kasus dugaan eksploitasi seksual anak bawah umur di kawasan Lokasari, Jakarta Barat, yang diduga melibatkan warga negara asing (WNA) asal Jepang, telah membuka mata banyak pihak mengenai urgensi penegakan hukum transnasional. Menanggapi situasi pelik ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan...

25 Mei 2026

3 Tahun Berjalan, Apakah Program Makan Bergizi Beneran Sampai ke Anak Kita?

3 Tahun Berjalan, Apakah Program Makan Bergizi Beneran Sampai ke Anak Kita?

Program ambisius ini punya niat mulia: tidak ada anak Indonesia yang belajar dengan perut kosong. Tapi antara janji di podium dan realita di kantin sekolah, jaraknya kadang menganga. Kalau Anda punya anak di sekolah dasar, kemungkinan besar sudah pernah mendengar...

25 Mei 2026

Isu “Pocong” di Cipondoh Bikin Resah

Isu “Pocong” di Cipondoh Bikin Resah

Warga di kawasan Cipondoh, Kota Tangerang, dalam beberapa hari terakhir dibuat resah oleh kemunculan isu penampakan sosok menyerupai “pocong” yang disebut-sebut muncul di sejumlah titik permukiman saat larut malam. Kabar tersebut menyebar cepat melalui media sosial, grup percakapan warga, hingga...

24 Mei 2026