Terbaru
Tok! Wamen Pertanian Sepakati Harga Ayam Rp 19.500 dan Telur Rp 24.000 per Kg Mulai 15 Juli Ketegangan Membara di Teluk: Serangan Iran ke Pangkalan AS Guncang Stabilitas Regional Suara Anak Muda untuk Keadilan Iklim, Kesadaran Saja Tak Cukup, Saatnya Bertindak! Robot Humanoid di China Kini Merakit Robot Lain, Babak Baru Otomatisasi Industri Dimulai Biodiesel B50 Sudah Tersedia di 57% SPBU Pertamina, Pemerintah Targetkan Distribusi Penuh dalam Tiga Bulan Harga Minyak Dunia Kembali Naik akibat Ketegangan AS-Iran, Kementerian ESDM Antisipasi Dampaknya bagi Indonesia Harga Pangan Hari Ini Kompak Turun, Beras, Cabai, Daging hingga Minyak Goreng Mengalami Penurunan Perjalanan Xbox: Dari Penantang PlayStation hingga Menghadapi Restrukturisasi Besar Tok! Wamen Pertanian Sepakati Harga Ayam Rp 19.500 dan Telur Rp 24.000 per Kg Mulai 15 Juli Ketegangan Membara di Teluk: Serangan Iran ke Pangkalan AS Guncang Stabilitas Regional Suara Anak Muda untuk Keadilan Iklim, Kesadaran Saja Tak Cukup, Saatnya Bertindak! Robot Humanoid di China Kini Merakit Robot Lain, Babak Baru Otomatisasi Industri Dimulai Biodiesel B50 Sudah Tersedia di 57% SPBU Pertamina, Pemerintah Targetkan Distribusi Penuh dalam Tiga Bulan Harga Minyak Dunia Kembali Naik akibat Ketegangan AS-Iran, Kementerian ESDM Antisipasi Dampaknya bagi Indonesia Harga Pangan Hari Ini Kompak Turun, Beras, Cabai, Daging hingga Minyak Goreng Mengalami Penurunan Perjalanan Xbox: Dari Penantang PlayStation hingga Menghadapi Restrukturisasi Besar

Biar Berdesakan Tetap Setia, Ini Alasan Transportasi Publik Jakarta Makin Jadi Primadona

S Sawalika 26 Mei 2026 17 dilihat 3 menit baca

Bayangkan pemandangan pagi hari di Stasiun Sudirman atau Halte Harmoni. Lautan manusia berseragam rapi, tas ransel di punggung, dan kopi dalam genggaman, semuanya bergerak kompak menuju peron atau halte. Pemandangan kereta rel listrik (KRL) atau TransJakarta yang sudah terisi penuh sesak sebelum pintu benar-benar menutup bukanlah halangan. Fenomena "berdesakan" ini seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika ibu kota. Namun, anehnya, dibandingkan beberapa tahun silam, antusiasme warga Jakarta terhadap transportasi publik justru kian membludak.

Lalu, apa sebenarnya alasan transportasi publik Jakarta makin menjadi primadona, meski penggunanya harus rela berpeluh dan berdesakan?

Alasan pertama yang paling sering mengemuka adalah urusan efisiensi biaya. Memelihara kendaraan pribadi di ibu kota bukan cuma perkara menebus harga beli kendaraan, melainkan biaya operasional harian yang perlahan menguras dompet. Mulai dari harga BBM yang kian melambung, tarif parkir di pusat kota yang luar biasa mahal, hingga biaya rutin servis bulanan. Sebaliknya, hanya dengan mengeluarkan modal mulai dari Rp3.000 untuk TransJakarta hingga Rp5.000 untuk KRL, warga sudah bisa menempuh perjalanan pulang-pergi jarak jauh. Selisih dana yang dihemat ini tentu bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain yang jauh lebih bermanfaat.

Alasan kedua menyangkut akurasi waktu. Jakarta terkenal dengan kemacetannya yang tak bisa ditebak. Sebuah perjalanan 10 kilometer bisa memakan waktu dua jam di jam sibuk. Naik kendaraan pribadi sering kali membuat seseorang harus berangkat lebih pagi dan tetap berisiko terlambat. Berbeda dengan transportasi publik seperti MRT atau KRL yang berjalan di rel khusus. Waktu tempuhnya bisa diprediksi dengan sangat akurat. Bagu para pekerja, ketepatan waktu ini adalah harga mati yang menjaga profesionalisme mereka di kantor.

Berikutnya, ada alasan kesehatan mental alias me time. Menyetir sendiri di Jakarta itu butuh fokus tingkat dewa dan sering bikin darah tinggi karena macet atau kelakuan pengendara lain yang ugal-ugalan. Nah, naik transportasi umum bisa membebaskan kita dari stres itu. Biarpun kondisinya penuh dan desak-desakan di dalam gerbong, kita masih bisa merem sejenak buat balas dendam kurang tidur, baca buku, dengerin podcast, atau asyik scroll media sosial dengan santai tanpa perlu takut menabrak kendaraan di depan.

Tak hanya itu, Pemerintah DKI Jakarta lewat kerja sama berbagai operator kini sukses merajut ekosistem transportasi yang saling terhubung. Dahulu, berganti moda transportasi dari bus ke kereta kerap menjadi momok karena penumpang harus repot keluar-masuk gerbang dan membeli tiket baru. Kini, kehadiran kartu JakLingko dan titik-titik transit strategis seperti di Stasiun Dukuh Atas atau Halte Harmoni membuat perpindahan tersebut berjalan mulus. Warga dapat dengan mudah mengombinasikan mikrotrans, TransJakarta, lalu menyambung ke MRT atau KRL hanya dengan satu kali ketuk kartu. Kemudahan fasilitas ini terbukti ampuh memangkas friksi dan rasa enggan warga untuk bepergian.

Terakhir, ada pergeseran gaya hidup, terutama di kalangan generasi muda. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan hidup semakin meningkat. Memilih transportasi publik adalah salah satu bentuk nyata mengurangi jejak karbon dan polusi udara di Jakarta. Selain itu, tren minimalism juga membuat banyak milenial dan Gen Z lebih memilih utilitas daripada status sosial. Punya kendaraan pribadi bukan lagi tolok ukur kesuksesan; memiliki mobilitas yang efisien dan tanggap terhadap isu lingkungan justru dinilai lebih keren.

Ujung-ujungnya, rasa sesak dan gerah pas desak-desakan di dalam bus atau kereta itu jadi semacam 'tiket masuk' yang ikhlas dibayar sama warga Jakarta. Kalau dibandingin sama stresnya kena macet, borosnya uang bensin, plus waktu di jalan yang nggak jelas, desak-desakan bareng ribuan orang lain sih berasa nggak ada apa-apanya. Transportasi umum di Jakarta memang belum sempurna, tapi perkembangannya jalan terus dan terbukti jadi urat nadi transportasi kota yang nggak bisa digantikan oleh apa pun.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Digerebek Terkait Korupsi Blackout, Kafe Money Changer Ini Sembunyikan Rp 67,2 Miliar

Digerebek Terkait Korupsi Blackout, Kafe Money Changer Ini Sembunyikan Rp 67,2 Miliar

JAKARTA – Penyidikan kasus dugaan korupsi besar yang memicu kelumpuhan total jaringan listrik atau blackout memasuki babak baru yang sangat mengejutkan. Dalam sebuah operasi tangkap tangan dan penggerebekan intensif, tim penyidik kepolisian berhasil menyita barang bukti uang tunai dengan nilai...

09 Jul 2026

Asosiasi Sebut Penjualan Ritel Melambat Usai Musim Konsumsi, Pelaku Usaha Harap Stimulus Pemerintah

Asosiasi Sebut Penjualan Ritel Melambat Usai Musim Konsumsi, Pelaku Usaha Harap Stimulus Pemerintah

Kinerja sektor ritel nasional mengalami perlambatan pada Mei 2026 seiring berakhirnya periode konsumsi tinggi yang biasanya terjadi saat Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta Hari Raya Idulfitri. Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menilai kondisi tersebut merupakan siklus...

09 Jul 2026

9 Juli 2026 Diperingati sebagai Berbagai Momentum Nasional dan Internasional

9 Juli 2026 Diperingati sebagai Berbagai Momentum Nasional dan Internasional

Jakarta – Tanggal 9 Juli 2026 menjadi hari yang dipenuhi berbagai momentum penting, baik di tingkat nasional maupun internasional. Beragam organisasi, lembaga pemerintah, institusi pendidikan, hingga komunitas masyarakat memanfaatkan hari ini untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran publik...

09 Jul 2026

Cakupan Peserta Program Magang Nasional Diperluas, Kini Menjangkau Lulusan Profesi dan Penyandang Disabilitas

Cakupan Peserta Program Magang Nasional Diperluas, Kini Menjangkau Lulusan Profesi dan Penyandang Disabilitas

Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui berbagai program ketenagakerjaan. Salah satu langkah terbaru yang dilakukan adalah memperluas cakupan peserta Program Magang Nasional Angkatan II tahun 2026. Tidak hanya menyasar lulusan baru...

06 Jul 2026