Terbaru
Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Batu Bara PLN, Polisi Temukan Brankas Berisi Dolar AS dan Dolar Singapura Amarah Prancis Memuncak: Senator Paraguay Serang Rasis Kylian Mbappé Booming AI Dorong Pertumbuhan Ekonomi Korea Selatan, Industri Semikonduktor Jadi Motor Utama Membedah Data Penjualan Ritel Terbaru, Sinyal Pelemahan Daya Beli dan Arah Ekonomi Indonesia Diplomasi Unik Presiden Erdogan Beri Hadiah Pistol sebagai Suvenir ke Pemimpin NATO Siap Bersaing dengan Singapura, RI Bidik Investasi Rp 500 Triliun Lewat Pusat Finansial Internasional BEI Tetap Lelang 11 Kursi Anggota Bursa Meski Rencana Demutualisasi Masih Bergulir Meta Kenakan Biaya Langganan untuk Fitur AI di Smart Glasses, Ini Rincian Tarif dan Keuntungannya Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Batu Bara PLN, Polisi Temukan Brankas Berisi Dolar AS dan Dolar Singapura Amarah Prancis Memuncak: Senator Paraguay Serang Rasis Kylian Mbappé Booming AI Dorong Pertumbuhan Ekonomi Korea Selatan, Industri Semikonduktor Jadi Motor Utama Membedah Data Penjualan Ritel Terbaru, Sinyal Pelemahan Daya Beli dan Arah Ekonomi Indonesia Diplomasi Unik Presiden Erdogan Beri Hadiah Pistol sebagai Suvenir ke Pemimpin NATO Siap Bersaing dengan Singapura, RI Bidik Investasi Rp 500 Triliun Lewat Pusat Finansial Internasional BEI Tetap Lelang 11 Kursi Anggota Bursa Meski Rencana Demutualisasi Masih Bergulir Meta Kenakan Biaya Langganan untuk Fitur AI di Smart Glasses, Ini Rincian Tarif dan Keuntungannya

Biarlah Kota Sibuk dengan Startup, Desa Tetap Hidup dari Cangkul dan Keringat!

S Sawalika 25 Mei 2026 17 dilihat 3 menit baca

Jakarta, Bandung, Surabaya. Di kota-kota besar ini, gaya hidup anak mudanya nggak jauh-jauh dari layar HP, es kopi susu, dan istilah-istilah keren bahasa Inggris. Valuasi, funding, scale up, sama startup udah jadi bahasa tongkrongan sehari-hari. Semua orang berlomba bikin aplikasi yang katanya bakal 'mendisrupsi' dunia. Seolah-olah, kesuksesan itu cuma bisa diukur dari seberapa digital hidup kita. Tapi kalau kita menengok ke belakang, jauh dari estetiknya co-working space atau urusan modal miliaran, ada kehidupan nyata yang jalannya beda banget. Biarkan aja orang kota sibuk dengan startup-nya, orang desa bakal tetap hidup dari cangkul dan keringat mereka sendiri.

Fenomena startup memang tak bisa dipungkiri membawa angin segar bagi perekonomian digital Indonesia. Anak-anak muda berbakat mendapatkan modal miliaran rupiah. Mereka bekerja di balik meja mewah, mengenakan kaus oblong berlogo perusahaan, dan bermimpi menjadi unicorn di usia dua puluhan. Dunia maya menjadi ladang garap mereka. Namun, di tengah eforia ini, kita sering lupa bahwa di balik kemewahan dan kecepatan dunia digital, ada fondasi kehidupan yang sangat tradisional, fisik, dan nyata yang tak pernah bisa direplikasi oleh baris-baris kode program (coding).

Tatkala orang-orang kota sibuk bergelut dengan papan ketik, orang desa tetap setia menghunjamkan cangkul ke bumi. Jauh sebelum subuh pecah, para petani telah terjaga. Alih-alih memeriksa layar dashboard analitik, tatapan mereka lurus menembus langit demi membaca tanda-tanda alam. Seorang petani tidak akrab dengan istilah pivot dalam manajemen bisnis; bagi mereka, pivot adalah gerakan nyata memutar haluan bajak di ujung pematang. Bulir keringat yang membasahi kening, pekatnya lumpur yang membalut kaki, serta anyaman caping penantang terik adalah realitas otentik yang tidak bisa dilewati begitu saja seperti iklan di YouTube. Di hamparan inilah napas kehidupan yang sebenarnya dirajut. Di sawah tidak ada ruang untuk berita bohong, yang ada hanyalah hukum alam yang mutlak: tanpa benih yang ditanam tak akan ada panen yang dituai; tanpa air yang mengalir, tanaman akan mati layu.

Lucunya, anak-anak kota yang tiap hari sibuk mengurus startup sebenarnya sangat tergantung sama hasil kerja keras petani desa. Waktu mereka makan siang di restoran mewah dan bayar pakai e-wallet hasil dana investor, nasi yang mereka makan itu asalnya dari padi yang dipotong pakai arit di sawah. Sebuah startup bisa aja bangkrut besok pagi, aplikasinya juga bisa langsung di-uninstall sama pengguna. Tapi, kebutuhan dasar manusia buat makan nggak akan pernah bisa distop cuma karena perkara server down.

Sejatinya, petani adalah founder sejati. Mereka mendirikan perusahaan kehidupan bernama ketahanan pangan. Modal mereka bukan dolar dari Silicon Valley, melainkan biji-bijian dan air hujan. Keuntungan (profit) mereka bukanlah valuasi miliaran dolar yang goyah di pasar saham, melainkan sebuah bangsa yang terhindar dari kelaparan.

Tentu ini bukan berarti kita harus antipati terhadap kemajuan teknologi atau mengecilkan arti inovasi startup. Sebaliknya, keduanya wajib berjalan beriringan. Teknologi yang dirancang di pusat kota semestinya didistribusikan untuk meringankan beban para petani di desa—mulai dari membangun sistem irigasi pintar, memutus rantai tengkulak agar hasil panen bisa langsung dipasarkan, hingga mendeteksi tingkat kesuburan tanah. Jangan sampai yang terjadi justru sebaliknya: kota sibuk bersolek dengan teknologinya, sementara desa ditinggalkan dan para pahlawan pangan diabaikan.

Pesan utamanya adalah tentang penghormatan. Jangan biarkan eforia kota membuat kita lupa daratan. Jangan biarkan gemerlap smartphone membuat kita buta pada realitas bahwa tulang punggung negara ini bukanlah gedung-gedung pencakar langit, melainkan hamparan sawah yang menghijau.

Biarkan pusat perkotaan melanjutkan ekspansi inovasi, proyeksi futuristik, dan aktivitas di ruang siber. Akan tetapi, selama eksistensi manusia masih bergantung pada pemenuhan kebutuhan pangan dasar, wilayah rural akan tetap memegang posisi sentral sebagai denyut nadi stabilitas nasional. Sebuah eksistensi yang vitalitasnya dipertahankan secara konsisten melalui kontribusi tenaga fisik dan kultivasi tanah oleh para petani.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Membedah Data Penjualan Ritel Terbaru, Sinyal Pelemahan Daya Beli dan Arah Ekonomi Indonesia

Membedah Data Penjualan Ritel Terbaru, Sinyal Pelemahan Daya Beli dan Arah Ekonomi Indonesia

Data terbaru Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dirilis Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal bahwa konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional, mulai kehilangan momentum. Penurunan Indeks Penjualan Riil (IPR) dalam dua bulan terakhir menunjukkan aktivitas...

09 Jul 2026

BEI Tetap Lelang 11 Kursi Anggota Bursa Meski Rencana Demutualisasi Masih Bergulir

BEI Tetap Lelang 11 Kursi Anggota Bursa Meski Rencana Demutualisasi Masih Bergulir

Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan proses lelang 11 kursi Anggota Bursa (AB) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 tetap akan dilaksanakan sesuai mekanisme yang berlaku saat ini. Kepastian tersebut disampaikan meskipun pemerintah telah membuka jalan bagi proses demutualisasi melalui Undang-Undang...

09 Jul 2026

IHSG Berbalik Menguat ke Zona Hijau, Saham Barang Baku hingga Energi Jadi Penopang Utama

IHSG Berbalik Menguat ke Zona Hijau, Saham Barang Baku hingga Energi Jadi Penopang Utama

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan sesi pertama pada Kamis (9/7/2026) di zona hijau setelah sempat bergerak di area negatif pada awal perdagangan. Penguatan sektor barang baku, energi, dan transportasi menjadi faktor utama yang mendorong indeks kembali bangkit...

09 Jul 2026

Lolos dari Ketegangan Selat Hormuz, Kapal Pertamina Pride Tempuh 15 Hari Perjalanan ke Indonesia

Lolos dari Ketegangan Selat Hormuz, Kapal Pertamina Pride Tempuh 15 Hari Perjalanan ke Indonesia

JAKARTA – Keberhasilan gemilang dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional kembali ditunjukkan oleh lini logistik laut Indonesia. Kapal tanker raksasa ( Very Large Crude Carrier /VLCC) milik PT Pertamina International Shipping (PIS), Pertamina Pride , dilaporkan telah berhasil melewati jalur...

09 Jul 2026