Biarlah Kota Sibuk dengan Startup, Desa Tetap Hidup dari Cangkul dan Keringat!

S Sawalika 25 Mei 2026 2 dilihat 3 menit baca

Jakarta, Bandung, Surabaya. Di kota-kota besar ini, gaya hidup anak mudanya nggak jauh-jauh dari layar HP, es kopi susu, dan istilah-istilah keren bahasa Inggris. Valuasi, funding, scale up, sama startup udah jadi bahasa tongkrongan sehari-hari. Semua orang berlomba bikin aplikasi yang katanya bakal 'mendisrupsi' dunia. Seolah-olah, kesuksesan itu cuma bisa diukur dari seberapa digital hidup kita. Tapi kalau kita menengok ke belakang, jauh dari estetiknya co-working space atau urusan modal miliaran, ada kehidupan nyata yang jalannya beda banget. Biarkan aja orang kota sibuk dengan startup-nya, orang desa bakal tetap hidup dari cangkul dan keringat mereka sendiri.

Fenomena startup memang tak bisa dipungkiri membawa angin segar bagi perekonomian digital Indonesia. Anak-anak muda berbakat mendapatkan modal miliaran rupiah. Mereka bekerja di balik meja mewah, mengenakan kaus oblong berlogo perusahaan, dan bermimpi menjadi unicorn di usia dua puluhan. Dunia maya menjadi ladang garap mereka. Namun, di tengah eforia ini, kita sering lupa bahwa di balik kemewahan dan kecepatan dunia digital, ada fondasi kehidupan yang sangat tradisional, fisik, dan nyata yang tak pernah bisa direplikasi oleh baris-baris kode program (coding).

Tatkala orang-orang kota sibuk bergelut dengan papan ketik, orang desa tetap setia menghunjamkan cangkul ke bumi. Jauh sebelum subuh pecah, para petani telah terjaga. Alih-alih memeriksa layar dashboard analitik, tatapan mereka lurus menembus langit demi membaca tanda-tanda alam. Seorang petani tidak akrab dengan istilah pivot dalam manajemen bisnis; bagi mereka, pivot adalah gerakan nyata memutar haluan bajak di ujung pematang. Bulir keringat yang membasahi kening, pekatnya lumpur yang membalut kaki, serta anyaman caping penantang terik adalah realitas otentik yang tidak bisa dilewati begitu saja seperti iklan di YouTube. Di hamparan inilah napas kehidupan yang sebenarnya dirajut. Di sawah tidak ada ruang untuk berita bohong, yang ada hanyalah hukum alam yang mutlak: tanpa benih yang ditanam tak akan ada panen yang dituai; tanpa air yang mengalir, tanaman akan mati layu.

Lucunya, anak-anak kota yang tiap hari sibuk mengurus startup sebenarnya sangat tergantung sama hasil kerja keras petani desa. Waktu mereka makan siang di restoran mewah dan bayar pakai e-wallet hasil dana investor, nasi yang mereka makan itu asalnya dari padi yang dipotong pakai arit di sawah. Sebuah startup bisa aja bangkrut besok pagi, aplikasinya juga bisa langsung di-uninstall sama pengguna. Tapi, kebutuhan dasar manusia buat makan nggak akan pernah bisa distop cuma karena perkara server down.

Sejatinya, petani adalah founder sejati. Mereka mendirikan perusahaan kehidupan bernama ketahanan pangan. Modal mereka bukan dolar dari Silicon Valley, melainkan biji-bijian dan air hujan. Keuntungan (profit) mereka bukanlah valuasi miliaran dolar yang goyah di pasar saham, melainkan sebuah bangsa yang terhindar dari kelaparan.

Tentu ini bukan berarti kita harus antipati terhadap kemajuan teknologi atau mengecilkan arti inovasi startup. Sebaliknya, keduanya wajib berjalan beriringan. Teknologi yang dirancang di pusat kota semestinya didistribusikan untuk meringankan beban para petani di desa—mulai dari membangun sistem irigasi pintar, memutus rantai tengkulak agar hasil panen bisa langsung dipasarkan, hingga mendeteksi tingkat kesuburan tanah. Jangan sampai yang terjadi justru sebaliknya: kota sibuk bersolek dengan teknologinya, sementara desa ditinggalkan dan para pahlawan pangan diabaikan.

Pesan utamanya adalah tentang penghormatan. Jangan biarkan eforia kota membuat kita lupa daratan. Jangan biarkan gemerlap smartphone membuat kita buta pada realitas bahwa tulang punggung negara ini bukanlah gedung-gedung pencakar langit, melainkan hamparan sawah yang menghijau.

Biarkan pusat perkotaan melanjutkan ekspansi inovasi, proyeksi futuristik, dan aktivitas di ruang siber. Akan tetapi, selama eksistensi manusia masih bergantung pada pemenuhan kebutuhan pangan dasar, wilayah rural akan tetap memegang posisi sentral sebagai denyut nadi stabilitas nasional. Sebuah eksistensi yang vitalitasnya dipertahankan secara konsisten melalui kontribusi tenaga fisik dan kultivasi tanah oleh para petani.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait