Bos Ripple Gagal Cuan Rp1 Triliun Gegara Jual XRP Terlalu Cepat

H Herman 10 Mei 2026 3 dilihat 3 menit baca

Keputusan mantan Chief Technology Officer (CTO) Ripple, yaitu David Schwartz, kembali menjadi sorotan di kalangan komunitas cryptocurrency setelah data lama mengenai kepemilikan aset digitalnya kembali viral di media sosial dan forum investasi. Pembahasan ini ramai diperbincangkan karena Schwartz diketahui pernah memiliki sekitar 26 juta XRP sejak tahun 2012. Jumlah tersebut kini dianggap sangat fantastis jika dihitung berdasarkan harga XRP pada masa kejayaannya beberapa tahun lalu.

Menariknya, XRP yang dimiliki Schwartz bukan berasal dari hadiah atau pemberian perusahaan Ripple. Ia memperoleh token tersebut dengan membeli menggunakan Bitcoin (BTC) pada masa awal perkembangan cryptocurrency. Saat itu, pasar aset digital masih belum sebesar sekarang dan banyak investor yang belum memahami potensi teknologi blockchain secara menyeluruh. Keputusan Schwartz membeli XRP sejak awal menunjukkan bahwa ia memiliki keyakinan besar terhadap masa depan proyek tersebut.

Pada sekitar tahun 2012, nilai total 26 juta XRP milik Schwartz diperkirakan hanya berada di angka sekitar US$130 ribu. Nilai itu sebenarnya sudah tergolong besar pada masanya, tetapi belum seberapa dibandingkan dengan perkembangan harga XRP di tahun-tahun berikutnya. Setahun kemudian, nilai aset tersebut meningkat menjadi sekitar US$390 ribu seiring mulai meningkatnya perhatian investor terhadap cryptocurrency. Tren positif itu terus berlanjut hingga tahun 2014 ketika nilai kepemilikannya diperkirakan mencapai sekitar US$520 ribu.

Namun perjalanan harga XRP tidak selalu mulus. Pada periode 2015 hingga 2016, pasar cryptocurrency mengalami tekanan cukup besar yang menyebabkan harga berbagai aset digital mengalami penurunan tajam, termasuk XRP. Saat itu, harga rata-rata XRP hanya berada di kisaran US$0,006 per token. Akibatnya, total nilai kepemilikan Schwartz turun drastis menjadi sekitar US$156 ribu. Penurunan tersebut menjadi salah satu contoh tingginya volatilitas pasar crypto yang sering kali membuat investor mengalami ketidakpastian besar.

Situasi mulai berubah pada tahun 2017 ketika pasar cryptocurrency memasuki fase bull run terbesar dalam sejarahnya. Harga XRP perlahan mulai naik dan menarik perhatian investor global. Sayangnya, pada periode awal kenaikan tersebut, Schwartz memutuskan untuk menjual sebagian besar XRP miliknya ketika harga masih berada di sekitar US$0,1 per token. Keputusan itu kini dianggap sebagai salah satu contoh “penjualan terlalu dini” dalam dunia investasi cryptocurrency.

Pasalnya, beberapa bulan setelah penjualan tersebut, harga XRP mengalami lonjakan luar biasa hingga mencapai rata-rata sekitar US$2,3 pada akhir 2017. Jika Schwartz mempertahankan seluruh 26 juta XRP miliknya sampai titik tersebut, total nilai asetnya diperkirakan bisa mencapai sekitar US$59,8 juta atau setara lebih dari Rp1 triliun dengan kurs saat ini. Angka fantastis itu membuat banyak anggota komunitas crypto kembali membahas kisah tersebut sebagai pelajaran penting tentang kesabaran dan strategi investasi jangka panjang.

Hingga saat ini, harga XRP sendiri masih mengalami fluktuasi. Nilainya kini berada di kisaran US$1,4 per token. Walaupun angka tersebut masih sekitar 63 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high sebesar US$3,8 yang pernah tercapai pada Januari 2018, harga tersebut tetap dianggap cukup tinggi dibandingkan masa awal XRP pertama kali diperkenalkan. Kondisi ini membuat cerita mengenai keputusan Schwartz menjual asetnya terlalu cepat kembali menjadi topik hangat di komunitas crypto global.

Banyak investor crypto menilai kisah ini sebagai pengingat bahwa pasar aset digital sangat sulit diprediksi. Tidak sedikit investor yang menjual aset terlalu cepat karena takut harga kembali turun, sementara sebagian lainnya justru memilih menahan aset dalam jangka panjang demi potensi keuntungan lebih besar. Di sisi lain, keputusan Schwartz juga dianggap wajar karena pada saat itu belum ada yang benar-benar mengetahui seberapa besar perkembangan industri cryptocurrency di masa depan.

Kisah David Schwartz kini menjadi salah satu cerita paling terkenal dalam dunia crypto mengenai peluang besar yang terlewat akibat penjualan dini. Meski demikian, Schwartz sendiri tetap dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan teknologi blockchain dan cryptocurrency hingga saat ini.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
H

Ditulis oleh

Herman

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Sinkronisasi Orbit Mei 2026 Menyaksikan Pertemuan Segitiga Emas Mars Saturnus dan Jupiter di Cakrawala Timur

Sinkronisasi Orbit Mei 2026 Menyaksikan Pertemuan Segitiga Emas Mars Saturnus dan Jupiter di Cakrawala Timur

Memasuki pertengahan bulan Mei 2026, panggung langit malam Indonesia kembali menawarkan pemandangan yang luar biasa indah sekaligus memiliki nilai edukasi sains yang tinggi melalui kehadiran fenomena konjungsi segitiga emas yang melibatkan tiga raksasa tata surya kita yakni Mars, Saturnus, dan...

10 Mei 2026

Ekonomi Indonesia Tumbuh Tinggi, Tetapi Daya Beli Masyarakat Jadi Sorotan

Ekonomi Indonesia Tumbuh Tinggi, Tetapi Daya Beli Masyarakat Jadi Sorotan

Pemerintah menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia pada awal tahun 2026 menunjukkan pertumbuhan yang cukup positif. Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,61 persen pada Triwulan I-2026. Angka tersebut dinilai lebih baik dibandingkan beberapa periode sebelumnya dan dianggap sebagai tanda...

10 Mei 2026

Waspada! BPOM Sita 11 Produk Kecantikan Berisi Racun: Merkuri, Pemicu Kanker, hingga Perusak Organ Ginjal

Waspada! BPOM Sita 11 Produk Kecantikan Berisi Racun: Merkuri, Pemicu Kanker, hingga Perusak Organ Ginjal

JAKARTA — Sebelum merogoh kocek untuk produk kecantikan favorit, ada baiknya Anda mengecek daftar terbaru dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Berdasarkan hasil pengawasan triwulan I Tahun 2026, BPOM resmi menarik dan mencabut izin edar 11 produk kosmetik yang...

09 Mei 2026

Hustle & Healing: Strategi Gen Z 2026 Mengoptimalkan Work-Life Balance di Era Digital

Hustle & Healing: Strategi Gen Z 2026 Mengoptimalkan Work-Life Balance di Era Digital

BEKASI – Memasuki pertengahan tahun 2026, dinamika dunia kerja dan pendidikan bagi Generasi Z di Indonesia mengalami pergeseran terminologi yang sangat signifikan. Fenomena ini melahirkan gaya hidup baru yang dikenal sebagai seni Hustle & Healing , sebuah pendekatan di mana...

09 Mei 2026