Pendiri SoftBank Group Corp. Masayoshi Son, yang dikenal sebagai salah satu tokoh bisnis paling agresif dalam mendukung perkembangan kecerdasan buatan (AI), mengungkapkan kekhawatirannya terhadap risiko keamanan yang dapat muncul seiring dengan semakin cepatnya kemampuan teknologi tersebut berkembang.
Son mengatakan perkembangan kemampuan AI saat ini berlangsung sangat pesat. Mesin dan sistem AI mulai memperoleh kemampuan baru yang semakin kompleks, sehingga dunia perlu memikirkan kembali bagaimana teknologi tersebut dikembangkan dan digunakan secara aman.
Pernyataan tersebut disampaikan Masayoshi Son dalam sebuah acara di sela-sela forum Science and Technology in Society yang berlangsung di Kyoto pada akhir pekan. Menurutnya, peningkatan kemampuan AI yang terjadi secara eksponensial membuat persoalan keamanan tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab satu perusahaan atau satu negara.
Son menilai negara-negara di dunia perlu membangun kepercayaan dan kerja sama agar perkembangan AI dapat dimanfaatkan secara bersama-sama. Menurutnya, persaingan teknologi yang terlalu agresif tanpa adanya komunikasi dan mekanisme pengamanan dapat meningkatkan risiko yang sulit dikendalikan.
Kekhawatiran tersebut menjadi perhatian karena AI kini berkembang jauh melampaui penggunaan sederhana seperti chatbot, pembuatan gambar, maupun otomatisasi pekerjaan. Sistem AI generatif semakin mampu memahami informasi, menjalankan tugas yang kompleks, membantu pemrograman, serta mengambil keputusan berdasarkan data dalam jumlah besar.
Di tengah perkembangan tersebut, persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China juga semakin kuat. Kedua negara berlomba mengembangkan model AI, infrastruktur komputasi, semikonduktor, dan teknologi pendukung lainnya untuk mempertahankan posisi masing-masing dalam industri teknologi global.
Son menilai kondisi tersebut membutuhkan pendekatan yang lebih hati-hati. Perkembangan AI memang dapat memberikan manfaat besar bagi perekonomian, penelitian, industri, dan kehidupan masyarakat, tetapi teknologi yang semakin kuat juga dapat menciptakan risiko baru apabila tidak dikembangkan dengan sistem keamanan yang memadai.
Menurutnya, dunia tidak lagi memiliki banyak waktu untuk menunggu sampai seluruh risiko tersebut muncul sebelum mengambil tindakan. Kemajuan teknologi berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan manusia dalam membangun aturan dan mekanisme pengawasan.
Dalam kesempatan tersebut, Son juga menekankan pentingnya menghindari konflik antarmanusia dalam menghadapi perkembangan teknologi. Ia menyampaikan bahwa manusia perlu membangun kerja sama karena tantangan yang muncul dari perkembangan AI berpotensi berdampak lintas negara.
"Kita tidak lagi memiliki kemewahan untuk membiarkan manusia bertarung melawan manusia," kata Son.
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya perubahan perhatian di kalangan pelaku industri teknologi. Jika sebelumnya pembahasan mengenai AI banyak berfokus pada peluang bisnis dan potensi keuntungan ekonomi, kini isu keamanan mulai mendapatkan perhatian yang semakin besar, termasuk dari investor dan perusahaan yang justru menjadi pendorong utama perkembangan AI.
SoftBank sendiri merupakan salah satu perusahaan yang memiliki pandangan sangat optimistis terhadap masa depan AI. Masayoshi Son selama ini aktif mendorong investasi besar pada perusahaan teknologi dan melihat kecerdasan buatan sebagai salah satu teknologi paling penting dalam transformasi ekonomi dunia.
Namun, kekhawatiran Son menunjukkan bahwa dukungan terhadap AI tidak berarti mengabaikan risiko yang menyertainya. Perusahaan teknologi dan pemerintah tetap perlu memastikan bahwa perkembangan kemampuan AI berjalan seiring dengan peningkatan sistem keamanan, pengawasan, dan tata kelola.
Risiko keamanan AI juga semakin kompleks karena teknologi tersebut dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Selain membantu pekerjaan manusia, AI dapat dimanfaatkan untuk otomatisasi industri, analisis data, pengembangan perangkat lunak, hingga berbagai aktivitas yang membutuhkan kemampuan pemrosesan informasi dalam jumlah besar.
Karena itu, pembangunan kepercayaan antarnegara menjadi salah satu hal penting. Negara-negara dengan kemampuan teknologi tinggi perlu memiliki jalur komunikasi agar perkembangan AI tidak berkembang menjadi persaingan yang justru meningkatkan risiko keamanan global.
Kekhawatiran tersebut juga muncul ketika kemampuan teknologi AI China semakin mendekati capaian perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Persaingan antara dua kekuatan teknologi terbesar tersebut diperkirakan akan terus menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah perkembangan industri AI dunia.
Masayoshi Son menilai bahwa kerja sama dan kepercayaan akan menjadi semakin penting ketika kemampuan mesin terus meningkat. Tantangannya bukan hanya bagaimana menciptakan AI yang semakin pintar, tetapi juga bagaimana memastikan teknologi tersebut tetap memberikan manfaat bagi manusia.
Dengan perkembangan AI yang berlangsung sangat cepat, perusahaan teknologi, pemerintah, peneliti, dan masyarakat harus mulai memikirkan aspek keamanan sejak tahap awal. Keamanan tidak dapat hanya menjadi tambahan setelah teknologi selesai dibuat, tetapi perlu menjadi bagian dari proses pengembangan.
Pernyataan Masayoshi Son menjadi pengingat bahwa perkembangan AI membawa dua sisi sekaligus. Di satu sisi, teknologi tersebut menawarkan peluang besar untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan inovasi baru. Di sisi lain, kemampuan yang semakin tinggi juga menuntut adanya tanggung jawab yang lebih besar dalam penggunaannya.
Perdebatan mengenai masa depan AI akhirnya bukan hanya tentang siapa yang mampu menciptakan teknologi paling canggih, tetapi juga siapa yang mampu memastikan teknologi tersebut berkembang secara aman dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.