Cukup Scan Tubuh, AI Pilihkan Baju yang Pas: Tren Baru Fashion Dunia

S Syakira Eliana 18 Jun 2026 0 dilihat 3 menit baca

Beberapa tahun lalu, pengalaman berbelanja pakaian secara online sering kali berakhir dengan satu masalah yang sama: ukuran tidak sesuai. Foto produk terlihat menarik, model tampak cocok mengenakannya, tetapi ketika pakaian tiba di rumah, hasilnya sering berbeda dari ekspektasi. Tidak sedikit konsumen yang akhirnya harus melakukan pengembalian barang karena ukuran terlalu besar, terlalu kecil, atau bentuk pakaian tidak sesuai dengan yang dibayangkan.

Kini, masalah tersebut mulai menemukan solusi melalui perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan grafis tiga dimensi. Dalam beberapa pekan terakhir, dunia mode internasional diramaikan oleh kemunculan tren baru bernama Digital Twin Fashion, sebuah teknologi yang memungkinkan seseorang memiliki kembaran digital berupa avatar 3D yang sangat mirip dengan tubuh aslinya.

Tren ini menjadi perbincangan hangat di berbagai pusat mode dunia seperti Paris dan New York. Di media sosial, terutama TikTok dan Instagram, ribuan kreator membagikan pengalaman mereka membuat avatar digital yang mampu mencoba berbagai jenis pakaian secara virtual sebelum melakukan pembelian.

Yang membuat teknologi ini menarik adalah tingkat akurasinya. Pengguna hanya perlu melakukan pemindaian tubuh menggunakan kamera ponsel selama beberapa detik. Setelah proses tersebut selesai, sistem AI akan membangun model tubuh tiga dimensi yang menyesuaikan bentuk badan, tinggi, proporsi tubuh, hingga detail visual tertentu.

Avatar tersebut kemudian dapat digunakan saat menjelajahi toko online. Ketika pengguna memilih pakaian yang ingin dibeli, sistem akan menampilkan simulasi bagaimana pakaian tersebut terlihat saat dikenakan. Tidak hanya bentuk luarnya, teknologi ini juga mampu memperlihatkan bagaimana kain jatuh mengikuti kontur tubuh, tingkat kelonggaran pakaian, hingga bagian yang mungkin terasa terlalu sempit atau terlalu longgar.

Bagi banyak konsumen, pengalaman ini terasa jauh lebih meyakinkan dibandingkan hanya melihat foto katalog atau tabel ukuran. Tidak mengherankan jika tren ini berkembang dengan sangat cepat di kalangan Generasi Z yang sudah terbiasa berinteraksi dengan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari.

Menariknya, Digital Twin Fashion tidak hanya digunakan untuk kebutuhan belanja. Banyak pengguna yang mulai membawa avatar mereka ke dunia virtual dan platform permainan digital. Dengan satu avatar yang sama, seseorang dapat mempertahankan identitas visualnya baik di dunia nyata maupun di lingkungan digital.

Fenomena ini membuka peluang baru bagi industri kreatif. Para desainer kini tidak hanya merancang pakaian fisik, tetapi juga pakaian digital yang hanya ada di dunia virtual. Sejumlah kreator bahkan mulai menjual koleksi busana digital eksklusif yang dirancang khusus untuk avatar pengguna.

Perubahan tersebut juga mendorong lahirnya berbagai inovasi baru dalam dunia desain grafis, animasi tiga dimensi, hingga pengembangan antarmuka pengguna. Toko online yang sebelumnya hanya menampilkan foto produk kini mulai berevolusi menjadi ruang pamer virtual yang lebih interaktif dan personal.

Di sisi lain, para pemerhati lingkungan melihat tren ini sebagai perkembangan yang positif. Salah satu tantangan terbesar industri fashion selama ini adalah tingginya angka pengembalian produk yang menyebabkan peningkatan biaya logistik dan limbah tekstil. Dengan adanya simulasi yang lebih akurat sebelum pembelian dilakukan, jumlah produk yang dikembalikan berpotensi berkurang secara signifikan.

Meski masih berada pada tahap awal pengembangan, banyak pengamat teknologi percaya bahwa Digital Twin Fashion bukan sekadar tren sesaat. Teknologi ini dinilai sebagai bagian dari transformasi besar yang sedang terjadi di industri mode global, di mana pengalaman berbelanja akan semakin personal, interaktif, dan terhubung dengan dunia digital.

Jika perkembangan teknologi AI terus bergerak dengan kecepatan seperti saat ini, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan setiap orang akan memiliki avatar digital pribadi yang digunakan untuk berbelanja, bekerja, bermain, hingga berinteraksi di berbagai platform virtual. Dan ketika saat itu tiba, dunia fashion mungkin tidak lagi hanya berbicara tentang pakaian yang dikenakan di tubuh, tetapi juga tentang identitas digital yang melekat pada setiap individu.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Syakira Eliana

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait