Era AI dan Kelangkaan Komponen, Harga HP Ikut Melambung Tinggi di 2026
Harga handphone di Indonesia diproyeksikan melonjak signifikan pada tahun 2026, menjadi kabar kurang menyenangkan bagi konsumen. Kenaikan ini bukan sekadar isu, melainkan dampak langsung dari fenomena global yang mengubah lanskap industri semikonduktor, terutama kelangkaan dan meroketnya harga komponen vital seperti RAM dan SSD. Presiden Xiaomi, Lu Weibing, bahkan secara terang-terangan menyatakan bahwa kenaikan drastis ini hampir pasti terjadi, didorong oleh perubahan besar dalam industri memori global yang menggeser prioritas produksi ke sektor kecerdasan buatan (AI).
Pemicu utama gejolak harga ini adalah permintaan masif dari sektor AI. Pusat data AI membutuhkan memori dan penyimpanan dalam jumlah besar, seperti High Bandwidth Memory (HBM), DRAM, dan NAND Flash berkapasitas tinggi. Ini menyebabkan produsen semikonduktor raksasa seperti Samsung dan SK Hynix mengalihkan fokus produksi mereka dari perangkat konsumen, termasuk smartphone, ke server AI yang lebih menguntungkan. Akibatnya, pasokan RAM dan SSD untuk pasar smartphone menipis, mendorong harga kontrak melambung. Contohnya, harga RAM DDR5 16GB di pasar spot yang sempat menyentuh $24,83 pada November 2025, diprediksi bisa mencapai sekitar $30 per keping pada pertengahan 2026.
Selain memori, kenaikan harga chipset juga turut memperparah kondisi. Perusahaan manufaktur chipset terbesar dunia dilaporkan akan menaikkan harga jual kepada klien-klien besar seperti Apple dan Samsung. Biaya produksi yang semakin kompleks dengan teknologi fabrikasi mutakhir 2nm atau 3nm, ditambah krisis rantai pasok global, membuat chipset premium seperti Snapdragon 8 Elite atau Dimensity 9400 menjadi lebih mahal.
Di Indonesia, kebijakan pemerintah turut membentuk harga akhir bagi konsumen. Intensifikasi tarif bea masuk dan penyesuaian PPN serta PPh untuk barang impor, termasuk handphone, bertujuan meningkatkan penerimaan negara dan mengendalikan impor. Meskipun ada potensi penurunan PPh Impor untuk elektronik, kebijakan seperti pengawasan impor yang ketat, registrasi IMEI wajib, dan penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) akan memastikan semua perangkat yang beredar resmi dan dikenai pajak sesuai aturan. Hal ini berpotensi membuat harga jual perangkat di pasar lebih kompetitif jika diproduksi lokal, namun untuk perangkat impor, biaya tambahan tetap ada.
Dampak langsung terasa pada berbagai segmen handphone, tidak hanya flagship. Ponsel kelas menengah yang rentan terhadap fluktuasi harga komponen diperkirakan akan mengalami kenaikan. Analis memprediksi handphone seharga Rp 3 jutaan bisa naik Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu, sementara model flagship bisa melonjak jutaan rupiah. Konsumen pun dipaksa lebih cermat, dengan kecenderungan mencari pilihan lebih terjangkau atau mempertahankan perangkat lama. Vendor merespons dengan menaikkan harga atau mengalihkan fokus ke model premium demi menjaga margin. Bahkan, fitur AI on-device yang menjadi tren masa depan juga menambah biaya produksi sekitar US$40-US$60 per perangkat.
Fenomena kenaikan harga handphone di tahun 2026 adalah cerminan dari kompleksitas rantai pasok global dan pergeseran prioritas industri teknologi menuju AI. Konsumen Indonesia perlu bersiap menghadapi realitas harga yang lebih tinggi dan mungkin harus meninjau ulang strategi pembelian mereka, sementara produsen dituntut untuk beradaptasi dengan kondisi pasar yang semakin menantang.