Festival Bermain Anak di Bandung Hidupkan Kembali Permainan Tradisional Nusantara

D Dina 23 Agu 2026 0 dilihat 4 menit baca

Bandung – Hari puncak sekaligus penutupan Festival Bermain Anak 2026 berlangsung meriah di Atrium Hejo 23 Paskal Shopping Center, Bandung. Festival yang telah berlangsung sejak pekan kemerdekaan ini berhasil mengajak generasi muda kembali mengenal dan memainkan permainan tradisional Nusantara di tengah gempuran era digital yang kian mendominasi keseharian anak-anak. Ratusan anak dan orang tua memadati area festival sejak pagi hingga sore, menciptakan suasana akrab yang penuh tawa dan kegembiraan khas masa kecil lintas generasi.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi 23 Paskal Shopping Center, unit bisnis komersial PT Indonesian Paradise Property Tbk, bersama PlayPlus Indonesia, sebuah komunitas yang konsisten menghidupkan kembali budaya bermain anak Indonesia. Mengusung tema "Nusantara: Menghidupkan Tradisi, Membangun Masa Depan", festival ini dirancang tidak sekadar sebagai ruang hiburan, melainkan sarana edukatif yang memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada anak-anak melalui aktivitas interaktif dan menyenangkan. Menurut panitia penyelenggara, antusiasme pengunjung melebihi target awal, dengan total lebih dari dua ribu anak dan keluarga yang tercatat mengikuti berbagai sesi selama delapan hari penyelenggaraan.

Sejumlah permainan tradisional yang mulai jarang disentuh oleh anak-anak urban diperkenalkan dalam festival ini. Di antaranya congklak, bekel, gasing bambu, cingciripit, hingga cato riumeuneng, sebuah permainan khas dari Aceh yang mengandalkan ketangkasan dan kecepatan tangan. Setiap permainan tidak disajikan sebagai sekadar hiburan instan. Panitia dan fasilitator dengan sabar menjelaskan aturan main, sejarah singkat, serta filosofi di balik setiap permainan. Misalnya, congklak mengajarkan strategi dan kesabaran, bekel melatih koordinasi mata dan tangan, sementara gasing bambu menumbuhkan ketekunan dan sportivitas karena setiap pemain harus bergiliran memutar gasingnya paling lama.

Nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, kreativitas, sportivitas, dan kerja sama menjadi benang merah dari seluruh aktivitas yang disuguhkan. Anak-anak diajak bermain dalam kelompok, saling menunggu giliran, dan memberi semangat kepada teman yang sedang bertanding. Hal ini sengaja ditekankan oleh para fasilitator mengingat banyak permainan digital saat ini justru mendorong individualisme dan kompetisi tanpa interaksi fisik. Seorang ibu pengunjung, Dewi Sartika, mengaku terharu melihat anaknya yang selama ini hanya akrab dengan gawai, kini bisa asyik bermain bekel dan congklak bersama teman-teman baru. "Saya sendiri jadi bernostalgia. Dulu waktu kecil saya main ini setiap sore di halaman rumah. Sekarang lihat anak saya main hal yang sama, rasanya hangat sekali," ujarnya di sela-sela mendampingi putrinya yang sedang berlomba dalam tantangan cingciripit.

Selain permainan tradisional, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai aktivitas budaya dan kreativitas sepanjang festival berlangsung. Agenda festival mencakup pagelaran tradisional yang menampilkan seni tari dan musik daerah, lomba Agustusan seperti balap karung dan makan kerupuk, Amazing Race yang mengajak peserta berkeliling mal sambil menyelesaikan misi bertema Nusantara, lomba mewarnai untuk anak-anak usia dini, peragaan busana dengan kain tradisional, flashmob yang melibatkan puluhan peserta, hingga workshop membuat dan menghias layang-layang yang dipandu oleh seniman lokal. Festival semakin semarak dengan penampilan Tari Jaipong yang memukau penonton serta Drama Musikal Barudak Nusantara yang menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan budaya untuk keluarga. Pentas ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah modernitas.

Festival Bermain Anak merupakan program tahunan yang telah diselenggarakan PlayPlus Indonesia sejak tahun 2017 dengan tagline "Yuk main lagi". Selama hampir satu dekade, komunitas ini konsisten mengingatkan bahwa bermain adalah hak fundamental anak yang juga sarana belajar paling alami. Sebelumnya, festival tersebut rutin digelar di Jakarta, dan tahun ini untuk pertama kalinya hadir di Bandung. Pemilihan Bandung sebagai kota penyelenggara baru dinilai strategis karena kota ini memiliki ekosistem keluarga muda yang besar dan antusiasme terhadap kegiatan budaya cukup tinggi. Keberhasilan festival ini membuka peluang bagi penyelenggara untuk menjadwalkan edisi berikutnya di kota-kota besar lain seperti Surabaya, Yogyakarta, atau Medan.

Libur panjang seputar Hari Kemerdekaan menjadi momentum ideal bagi keluarga untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi anak-anak. Dengan adanya festival ini, orang tua dapat mengajak anak-anaknya bermain sambil belajar tentang warisan budaya Nusantara yang mulai tergerus zaman. Hari Minggu yang merupakan puncak akhir pekan dimanfaatkan banyak keluarga untuk datang berbondong-bondong meramaikan festival sebelum resmi ditutup. Suasana haru dan bahagia terlihat saat para orang tua dan anak bersama-sama menyanyikan lagu-lagu daerah di sesi penutupan. Sebuah pengingat bahwa di balik layar ponsel dan gawai, masih ada dunia riang bernama permainan tradisional yang menunggu untuk diwariskan ke generasi selanjutnya.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
D

Ditulis oleh

Dina

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait