Festival Pacu Jalur Kuansing Resmi Dibuka, Tradisi Budaya Mendunia

D Dina 19 Agu 2026 0 dilihat 5 menit baca

TELUK KUANTAN – Gelanggang Tepian Narosa di Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, pada Rabu (19/8/2026) menjadi pusat perhatian ribuan pasang mata. Festival Pacu Jalur Nasional 2026 resmi dimulai, mengawali rangkaian acara budaya lima hari yang akan berlangsung hingga 23 Agustus 2026. Suasana pagi itu terasa istimewa dengan deretan perahu panjang berwarna-warni yang telah bersiap di tepian Sungai Kuantan, sementara ribuan warga dan wisatawan mulai memadati area festival sejak dini hari.

Acara pembukaan festival ini direncanakan akan dihadiri oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto. Meskipun kehadirannya masih bersifat tentatif, informasi terakhir menyebutkan orang nomor satu di Provinsi Riau tersebut dijadwalkan hadir langsung di Teluk Kuantan untuk membuka secara resmi Festival Pacu Jalur Nasional 2026. Kepala Dinas Pariwisata Riau, Tekad Parbatas Setia Dewa, menyatakan, "Masih tentatif, tapi info terakhir Pak Plt Gubernur yang akan membuka." Selain itu, pembukaan tahun ini juga dijadwalkan dihadiri oleh Asisten Deputi dari Kementerian Pariwisata sebagai perwakilan pemerintah pusat, menandakan dukungan penuh pemerintah terhadap pelestarian budaya tradisional ini.

Festival tahun ini diikuti oleh 175 jalur (perahu) yang siap bertarung di Sungai Kuantan. Jumlah peserta yang sangat besar ini menunjukkan antusiasme luar biasa dari berbagai daerah dan menjadi rekor terbanyak dalam sejarah penyelenggaraan festival. Peserta tidak hanya berasal dari 13 kecamatan di Kabupaten Kuansing, tetapi juga dari luar daerah, termasuk 26 jalur dari Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), serta masing-masing satu jalur dari Sumatera Barat dan Jambi. Keikutsertaan peserta dari luar daerah ini membuktikan bahwa Pacu Jalur telah menjadi event yang dinanti-nanti tidak hanya oleh masyarakat Riau, tetapi juga oleh pecinta budaya dari berbagai provinsi di Sumatera.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kuansing, Muradi, merinci asal-usul peserta dari berbagai kecamatan di Kuansing. Kuantan Tengah mengirimkan jumlah terbanyak dengan 29 jalur, diikuti Kuantan Mudik dengan 22 jalur, Benai 17 jalur, Gunung Toar 16 jalur, serta puluhan jalur lainnya dari kecamatan seperti Pangean, Kuantan Hilir Seberang, Cerenti, Inuman, dan Sentajo Raya. Masing-masing jalur memiliki nama dan ciri khas tersendiri yang mencerminkan identitas kampung halaman mereka. Beberapa jalur bahkan telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya dengan latihan intensif dan perawatan perahu yang dilakukan secara gotong royong oleh seluruh warga desa.

Rangkaian Festival Pacu Jalur 2026 akan diawali dengan pawai pada hari pertama, Rabu (19/8). Pawai ini menjadi ajang unjuk kebolehan bagi para peserta untuk memamerkan keindahan jalur mereka sebelum bertanding. Setelah itu, perlombaan pacu jalur akan dilaksanakan dengan total 25 kali hilir. Setiap kali hilir, beberapa jalur akan bertanding secara bersamaan untuk memperebutkan posisi terdepan di Sungai Kuantan yang membentang sepanjang lintasan. Kemeriahan semakin terasa ketika para pendayung berteriak kompak mengikuti irama gendang yang ditabuh dari dalam perahu, menciptakan harmoni suara yang menggema di sepanjang sungai.

Festival Pacu Jalur ini bukan sekadar perlombaan mendayung. Di dalamnya terdapat sejarah, budaya, filosofi, kreativitas, dan semangat gotong royong yang kuat. Tradisi ini telah ada sejak lama, dengan referensi tertulis paling awal menyebut Pacu Jalur dalam naskah lokal abad ke-17. Bahkan jauh sebelumnya, pada abad ke-7, sejumlah besar utusan pendayung Minangkabau mencapai hilir Sungai Batang Hari, yang tercatat dalam Prasasti Kedukan Bukit di Palembang. Fungsi jalur bergeser dari sekadar alat angkut orang dan barang menjadi identitas sosiokultural masyarakat Minangkabau Kuantan. Pada masa penjajahan Belanda, pacu jalur dijadikan pemeriah hari lahir Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus. Setelah Indonesia merdeka, festival ini semakin berkembang dan dipakai untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk melestarikan tradisi, pemerintah Indonesia memasukkan Festival Pacu Jalur dalam kalender wisata nasional tahunan.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kuantan Singingi, Muklisin, menekankan pentingnya mempromosikan festival ini hingga ke level dunia. Ia meminta agar pesta seni budaya ini dipromosikan secara optimal hingga viral secara internasional. "Pacu jalur bukan sekadar perlombaan mendayung, di dalamnya terdapat sejarah, budaya, filosofi, kreativitas dan semangat gotong royong. Dunia juga harus tahu, bahwa di Kuansing ada budaya yang luar biasa unik menarik bernilai sejarah dan yang sudah mendunia," ujarnya dengan penuh semangat.

Untuk mewujudkan target tersebut, Muklisin mendorong pemanfaatan potensi anak-anak daerah yang menguasai bahasa asing, seperti Inggris, Arab, hingga Mandarin, untuk menjadi reporter jalur. "Anak-anak kita yang menguasai bahasa asing harus diberi ruang. Mereka bisa menjadi reporter jalur, sehingga cerita dan filosofi Pacu Jalur dapat disampaikan kepada masyarakat dunia," ujar Muklisin. Dengan cara ini, setiap cerita, filosofi, dan kemeriahan Pacu Jalur dapat disampaikan secara langsung kepada masyarakat internasional, baik wisatawan yang hadir langsung maupun yang menyaksikan melalui video viral yang tersebar di berbagai platform media sosial.

Festival Pacu Jalur merupakan salah satu agenda dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026, yang merupakan program unggulan Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan event-event budaya unggulan di seluruh Indonesia. Pemerintah daerah pun telah mempersiapkan berbagai hal untuk menyukseskan acara ini, termasuk koordinasi dengan berbagai kementerian dan perbaikan infrastruktur jalan menuju lokasi festival. Selain itu, berbagai fasilitas pendukung seperti area parkir, pos kesehatan, dan tempat penginapan bagi wisatawan juga telah disiapkan dengan matang.

Dengan dibukanya Festival Pacu Jalur Nasional 2026 pada hari ini, Teluk Kuantan siap menjadi pusat perhatian selama lima hari ke depan. Ribuan masyarakat dari berbagai daerah diperkirakan akan memadati kawasan Tepian Narosa untuk menyaksikan langsung aksi para pendayung dalam memperebutkan gelar juara. Festival ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan masyarakat Riau akan warisan budaya leluhur yang terus hidup dan berkembang di tengah modernisasi. Hingga saat ini, Pacu Jalur telah menjelma menjadi magnet wisata yang mengundang pengunjung dari berbagai daerah, bahkan mancanegara, membuktikan bahwa tradisi lokal mampu bertahan dan relevan di tengah arus globalisasi.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
D

Ditulis oleh

Dina

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait