Di tengah gelaran World Physical AI Congress dan Unitree Partner Ecosystem Conference di Hangzhou, satu forum yang tampak tidak terlalu teknis justru menjadi fondasi penting bagi seluruh arsitektur acara: Forum Pendidikan dan Integrasi Industri-Pendidikan untuk Embodied Intelligence. Forum ini tidak membahas servo, aktuator, atau arsitektur model secara mendalam, melainkan mengangkat pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang akan membangun, merawat, dan mengembangkan ekosistem physical AI dalam jangka panjang.
Penyelenggara memposisikan forum pendidikan bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai lapisan fondasi. Dalam rangkaian forum paralel yang digelar, forum pendidikan dan integrasi industri-pendidikan ditempatkan sebagai “tanah bagi ekosistem talenta”, berbeda dari forum aplikasi industri yang menjadi cabang skenario atau forum pengembang yang menjadi nutrisi teknologi. Logikanya sederhana: tanpa pasokan talenta yang memahami fisik dan kecerdasan secara bersamaan, adopsi robotika cerdas di lini produksi, layanan, dan ruang publik akan selalu tersendat di tahap purwarupa.
Pilihan istilah “tanah” sejalan dengan tema besar acara, “宇十俱进,树业共生”, yang mengandung gaung pepatah Tiongkok “十年树木,百年树人”—menanam pohon membutuhkan sepuluh tahun, membina manusia membutuhkan seratus tahun. Dalam konteks ini, pendidikan dipahami sebagai pekerjaan jangka panjang yang tidak bisa diperlakukan sebagai kegiatan sampingan. Unitree, sebagai salah satu pemain perangkat keras yang menjadi poros acara, secara simbolik mengakui bahwa transisi dari perusahaan produk menjadi perusahaan platform tidak cukup dibangun di atas rekayasa perangkat keras. Diperlukan ekosistem pendidikan yang menghasilkan generasi berikutnya.
Forum ini juga bukan ruang diskusi tanpa praktik. Dalam berbagai kerja sama yang telah berjalan, Unitree mendirikan Sekolah Industri Embodied Intelligence bersama sejumlah kampus. Model inilah yang menjadi rujukan diskusi di Hangzhou. Di Xiamen Institute of Technology, sekolah industri yang dibentuk bersama Unitree membangun modul kurikulum di sekitar bodi robot, persepsi cerdas, kontrol gerak, dan aplikasi model besar. Pola pembelajarannya bertahap: tahap awal memperkuat dasar, tahap tengah memperkuat keterampilan, dan tahap akhir mengerjakan proyek nyata. Di Hefei University of Economics, Unitree menempatkan insinyur untuk mengajar langsung di kampus. Kampus lain di Ordos dan Makau mengadopsi format serupa dengan penekanan pada laboratorium bersama dan penelitian terapan.
Yang penting dari model-model tersebut adalah pergeseran peran. Kampus tidak lagi hanya menjadi pemasok lulusan, tetapi menjadi simpul rantai pasok teknologi. Mahasiswa tidak belajar robotika hanya dari slide, melainkan dari platform yang sama dengan yang digunakan di lapangan. Bagi industri, cara ini memperluas basis pengembang sekaligus menanamkan standar teknis sejak dari ruang kelas. Sesuatu yang jauh lebih tahan lama daripada kampanye pemasaran.
Forum pendidikan di Hangzhou juga menyoroti satu ketegangan yang jarang dibahas dalam diskusi AI: physical AI menuntut kompetensi yang tidak lagi bisa dipisahkan antara perangkat lunak dan perangkat keras. Berbeda dari AI generatif yang berjalan di ruang digital, robot embodied harus mengambil keputusan di dunia nyata, dengan hukum fisika, keterbatasan sensor, dan risiko kegagalan yang nyata. Karena itu, kurikulum yang hanya menekankan pemrograman atau hanya menekankan mekanika tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah talenta yang mampu menjembatani model dan motor, data dan dinamika, simulasi dan medan.
Diskusi ini menemukan relevansinya dengan perkembangan yang lebih luas. Sejumlah universitas mulai membuka program khusus embodied intelligence dan memasukkan mata kuliah seperti pengantar embodied intelligence, pembelajaran penguatan, serta navigasi embodied ke dalam kurikulum inti. Forum di Hangzhou menjadi ruang bagi industri untuk mengatakan secara langsung kepada dunia pendidikan bahwa kecepatan adopsi industri melampaui kecepatan revisi kurikulum. Kolaborasi harus dimulai sebelum mahasiswa lulus, bukan sesudahnya.
Dalam konteks yang lebih luas, forum pendidikan di World Physical AI Congress bukan peristiwa tunggal. Gelombang integrasi industri-pendidikan di bidang embodied intelligence sedang berlangsung di banyak tempat, dengan penekanan yang sama: memperpendek jarak antara laboratorium dan lantai produksi. Namun, forum di Hangzhou memiliki posisi yang khas karena berada di dalam acara yang dirancang oleh pemain perangkat keras terkemuka. Pendidikan ditempatkan bukan sebagai kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari strategi ekosistem.
Jika physical AI benar-benar memasuki fase industrialisasi dalam beberapa tahun ke depan, pertanyaan yang dijawab forum ini bukanlah “robot apa yang akan dibuat”, melainkan “siapa yang akan membuatnya, dengan kompetensi seperti apa, dan melalui jalur pendidikan seperti apa”. Itulah sebabnya sesi yang paling tidak spektakuler di Hangzhou justru mungkin menjadi sesi yang paling menentukan.