Gerak Rupiah Dibayangi Harga Minyak yang Kembali Tembus US$100

H Herman 24 Sep 2026 7 dilihat 5 menit baca

Pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, berpotensi kembali menghadapi tekanan setelah harga minyak mentah dunia melonjak dan kembali menembus level US$100 per barel. Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi penguatan rupiah setelah mata uang Garuda sebelumnya berhasil menguat di pasar spot.

Harga minyak Brent tercatat naik 3,86% menjadi US$103,08 per barel. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global.

Kondisi geopolitik tersebut menjadi perhatian pasar karena Timur Tengah merupakan salah satu kawasan utama dalam produksi dan distribusi energi dunia. Setiap gangguan terhadap aktivitas produksi maupun jalur pengiriman minyak dapat meningkatkan kekhawatiran investor terhadap pasokan global.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak memiliki sejumlah implikasi terhadap perekonomian dan nilai tukar. Indonesia masih membutuhkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Ketika harga minyak dunia meningkat, biaya impor energi berpotensi ikut naik sehingga dapat memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan valuta asing.

Kebutuhan dolar Amerika Serikat untuk membayar impor minyak menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi permintaan terhadap dolar di pasar domestik. Ketika kebutuhan dolar meningkat, tekanan terhadap rupiah juga dapat bertambah, terutama apabila kenaikan harga minyak berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

Pergerakan rupiah juga tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pasar global. Investor biasanya memperhatikan kombinasi antara harga komoditas, kebijakan bank sentral, data ekonomi, kondisi geopolitik, serta pergerakan dolar AS sebelum menentukan alokasi aset di negara berkembang.

Dalam kondisi harga minyak yang kembali berada di atas US$100 per barel, perhatian pasar semakin tertuju pada dampak konflik Amerika Serikat dan Iran terhadap perdagangan energi. Ketegangan antara kedua negara dapat meningkatkan risiko terhadap jalur pasokan dan memperbesar premi risiko yang diperhitungkan pelaku pasar.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya mengatakan Teheran tidak akan merespons ancaman dan menetapkan sejumlah persyaratan sebelum pembicaraan substantif dapat dilanjutkan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat perbedaan posisi antara Iran dan Amerika Serikat.

Situasi tersebut kemudian memengaruhi ekspektasi pasar mengenai kemungkinan tercapainya penyelesaian diplomatik dalam waktu dekat. Semakin kecil ekspektasi terhadap penyelesaian cepat, semakin besar pula perhatian pasar terhadap potensi berlanjutnya gangguan terhadap pasokan energi.

Walt Chancellor, ahli strategi energi di Macquarie Group, mengatakan optimisme terhadap penyelesaian diplomatik secara cepat mulai berkurang secara signifikan. Pernyataan tersebut dikutip Bloomberg News dalam pemberitaan mengenai perkembangan pasar energi.

Kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian karena terjadi setelah periode ketika pasar sempat berharap ketegangan geopolitik dapat mereda. Ketika harapan tersebut melemah, investor kembali memasukkan risiko gangguan pasokan energi ke dalam perhitungan harga.

Bagi rupiah, kondisi tersebut dapat menciptakan tantangan tambahan. Sebelumnya, rupiah berhasil mencatatkan penguatan di pasar spot. Namun, kenaikan harga minyak berpotensi menahan penguatan tersebut karena memberikan tekanan melalui sisi eksternal perekonomian.

Selain kebutuhan impor energi, kenaikan harga minyak juga dapat memengaruhi inflasi. Harga energi merupakan salah satu komponen yang dapat memengaruhi biaya transportasi dan kegiatan produksi. Apabila harga minyak tinggi bertahan dalam periode panjang, dampaknya dapat menyebar ke berbagai sektor ekonomi.

Perusahaan yang membutuhkan bahan bakar dalam kegiatan operasional dapat menghadapi kenaikan biaya. Biaya transportasi juga berpotensi meningkat, terutama apabila harga bahan bakar domestik ikut menyesuaikan dengan perkembangan harga minyak internasional.

Dari sisi kebijakan moneter, perkembangan harga minyak juga menjadi variabel yang diperhatikan karena dapat memengaruhi inflasi. Bank sentral perlu mempertimbangkan berbagai faktor ketika menentukan arah kebijakan, termasuk kondisi nilai tukar dan tekanan harga dari sektor energi.

Namun, hubungan antara harga minyak dan rupiah tidak selalu bergerak secara sederhana. Indonesia juga merupakan negara yang memiliki sektor komoditas dan kegiatan ekspor. Ketika harga sejumlah komoditas ekspor meningkat, penerimaan valuta asing dari ekspor dapat memberikan dukungan terhadap rupiah.

Karena itu, arah rupiah tetap akan ditentukan oleh kombinasi berbagai faktor, bukan hanya harga minyak. Pergerakan dolar AS di pasar global, arus modal asing, kebijakan bank sentral utama, kondisi pasar saham dan obligasi, serta perkembangan ekonomi domestik juga akan menjadi perhatian investor.

Harga minyak Brent yang mencapai US$103,08 per barel tetap menjadi salah satu faktor utama yang perlu dicermati pada perdagangan hari ini. Pasar akan melihat apakah kenaikan tersebut hanya bersifat sementara akibat meningkatnya ketegangan geopolitik atau menjadi tren yang bertahan lebih lama.

Jika harga minyak terus berada di atas US$100 per barel, perhatian investor terhadap dampaknya terhadap inflasi dan neraca perdagangan akan semakin besar. Bagi negara pengimpor minyak, harga energi yang tinggi dapat meningkatkan kebutuhan pembayaran dalam valuta asing.

Sebaliknya, apabila ketegangan Amerika Serikat dan Iran mengalami penurunan serta jalur diplomasi kembali terbuka, risiko terhadap pasokan energi global dapat berkurang. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi premi risiko yang sebelumnya masuk ke harga minyak.

Untuk perdagangan rupiah hari ini, pelaku pasar akan mencermati pergerakan harga minyak, perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran, serta arah dolar AS. Data ekonomi dan perkembangan arus modal juga akan menjadi faktor yang menentukan sentimen investor.

Dengan demikian, penguatan rupiah yang terjadi pada perdagangan sebelumnya berpotensi menghadapi tantangan baru. Kenaikan harga Brent sebesar 3,86% menjadi US$103,08 per barel menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu diperhatikan karena tingginya harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan valuta asing dan biaya energi.

Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada situasi geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian mengenai hubungan Amerika Serikat dan Iran membuat pasar energi tetap sensitif terhadap setiap perkembangan baru. Selama risiko gangguan pasokan masih tinggi, harga minyak dan dampaknya terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, akan tetap menjadi perhatian pelaku pasar.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
H

Ditulis oleh

Herman

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait