Pemulihan pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah menghadapi tantangan baru setelah ketegangan geopolitik kembali meningkat di kawasan Selat Hormuz. Goldman Sachs memperingatkan bahwa gangguan terhadap jalur pelayaran strategis tersebut dapat memperlambat peningkatan produksi minyak dari negara-negara Teluk Persia yang baru mulai kembali pulih setelah konflik dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs menyebutkan bahwa produksi minyak mentah di kawasan Teluk Persia hingga Juni 2026 masih berada sekitar 10,5 juta barel per hari di bawah tingkat produksi sebelum perang. Meski sejumlah negara produsen telah mulai mengaktifkan kembali sumur-sumur minyak yang sebelumnya dihentikan operasinya, proses pemulihan dinilai masih sangat rentan terhadap perkembangan situasi keamanan di kawasan.
Para analis Goldman Sachs yang dipimpin oleh Yulia Zhetkova Grigsby dalam catatan riset tertanggal 8 Juli 2026 menjelaskan bahwa aktivitas produksi sebenarnya mulai menunjukkan perbaikan. Namun, apabila ketegangan di Selat Hormuz kembali mengganggu lalu lintas kapal tanker minyak, maka distribusi minyak mentah ke pasar internasional dapat kembali mengalami hambatan.
"Meski produsen Timur Tengah telah mulai membuka kembali sumur-sumur mereka yang ditutup selama bulan lalu, gangguan di Selat Hormuz dapat memperlambat pemulihan produksi," tulis para analis Goldman Sachs dalam laporannya.
Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu kekhawatiran baru di pasar energi global. Situasi geopolitik yang memanas membuat para pelaku pasar kembali mengantisipasi kemungkinan terganggunya pasokan minyak dunia, sehingga mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi acuan harga minyak internasional, dilaporkan kembali diperdagangkan di atas US$80 per barel. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya premi risiko yang dibebankan investor terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz memiliki peran yang sangat penting dalam perdagangan energi global. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut menjadi salah satu rute pelayaran tersibuk di dunia untuk pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG). Setiap harinya, jutaan barel minyak dari negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, Qatar, hingga Iran melewati jalur tersebut sebelum dikirim ke berbagai negara di Asia, Eropa, dan Amerika.
Karena perannya yang sangat strategis, setiap peningkatan ketegangan keamanan di Selat Hormuz hampir selalu berdampak langsung terhadap pergerakan harga energi dunia. Kekhawatiran terhadap kemungkinan penutupan jalur pelayaran atau meningkatnya risiko terhadap kapal tanker membuat pelaku pasar cenderung melakukan aksi beli, sehingga harga minyak mengalami kenaikan.
Goldman Sachs menilai bahwa proses normalisasi produksi minyak di Timur Tengah sebenarnya sudah mulai berjalan setelah beberapa fasilitas energi kembali beroperasi. Namun, keberhasilan pemulihan tersebut sangat bergantung pada stabilitas kawasan serta kelancaran distribusi minyak ke pasar internasional.
Selain memengaruhi produsen, gangguan di Selat Hormuz juga dapat memberikan dampak besar terhadap negara-negara pengimpor energi. Negara-negara di Asia, termasuk Jepang, Korea Selatan, India, dan China, sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia. Gangguan distribusi berpotensi meningkatkan biaya impor energi yang pada akhirnya dapat memicu tekanan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga dapat memberikan keuntungan bagi negara-negara pengekspor minyak karena meningkatkan pendapatan dari ekspor. Namun, apabila konflik berkepanjangan mengganggu aktivitas produksi dan distribusi, keuntungan tersebut dapat tergerus oleh meningkatnya biaya operasional serta risiko keamanan.
Para analis juga mengingatkan bahwa pasar energi global saat ini masih berada dalam kondisi sensitif. Selain faktor geopolitik, harga minyak juga dipengaruhi oleh kebijakan produksi negara-negara anggota OPEC+, kondisi permintaan global, serta perkembangan ekonomi di berbagai negara besar.
Apabila ketegangan di Timur Tengah terus meningkat, investor diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di sektor energi. Volatilitas harga minyak kemungkinan masih akan tinggi hingga terdapat kepastian mengenai kondisi keamanan di kawasan.
Bagi Indonesia, perkembangan harga minyak dunia menjadi faktor penting mengingat sebagian kebutuhan energi nasional masih bergantung pada impor minyak mentah maupun produk bahan bakar. Kenaikan harga minyak internasional dapat meningkatkan beban impor energi sekaligus memberikan tekanan terhadap anggaran subsidi dan kompensasi energi apabila harga bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lama.
Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk situasi keamanan di Selat Hormuz. Stabilitas kawasan menjadi kunci utama bagi kelancaran distribusi minyak global dan keberhasilan pemulihan produksi negara-negara Timur Tengah.
Dengan kondisi yang masih penuh ketidakpastian, peringatan Goldman Sachs menjadi pengingat bahwa faktor geopolitik tetap menjadi salah satu penentu utama dinamika pasar energi dunia. Selama risiko gangguan di Selat Hormuz masih membayangi, harga minyak diperkirakan akan tetap bergerak fluktuatif dan sensitif terhadap setiap perkembangan terbaru di kawasan tersebut.