Hantavirus Ramai Dibicarakan Lagi, Tapi Apakah Indonesia Harus Khawatir?

S Syakira Eliana 08 Mei 2026 20 dilihat 3 menit baca

Kabar soal penyebaran Hantavirus kembali ramai dibicarakan setelah muncul laporan wabah di kapal pesiar internasional MV Hondius dan adanya temuan kasus suspek di Indonesia. Dalam beberapa hari terakhir, nama virus ini mulai sering muncul di media sosial maupun pemberitaan kesehatan. Banyak orang khawatir apakah situasinya akan berkembang seperti pandemi sebelumnya. Tapi sejauh ini, pemerintah dan organisasi kesehatan dunia menegaskan bahwa kondisi tersebut masih terkendali.

Kementerian Kesehatan RI mengonfirmasi bahwa sempat ada dua kasus suspek Hantavirus yang ditemukan di Jakarta dan Yogyakarta. Kedua pasien itu langsung menjalani pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah benar terinfeksi virus tersebut. Hasilnya, hingga 8 Mei 2026, keduanya dinyatakan negatif Hantavirus dan sudah dalam kondisi sehat.

Meski begitu, bukan berarti Indonesia benar-benar bebas dari ancaman virus ini. Data Kemenkes menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir pernah tercatat sekitar 23 kasus Hantavirus di beberapa wilayah, termasuk Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Jumlahnya memang tidak besar, tetapi cukup menjadi pengingat bahwa penyakit zoonosis seperti ini tetap perlu diawasi serius.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah tidak ingin lengah menghadapi potensi penyebaran virus. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperketat pengawasan di pintu masuk internasional seperti bandara dan pelabuhan, terutama terhadap penumpang dari wilayah terdampak atau kapal pesiar luar negeri. Selain itu, pemerintah juga mulai menyiapkan alat rapid test dan reagen PCR khusus agar proses deteksi dini bisa dilakukan lebih cepat di rumah sakit rujukan.

Kemenkes juga memasukkan Hantavirus ke dalam kategori emerging zoonosis, yaitu penyakit yang berasal dari hewan dan berpotensi menyebar ke manusia. Karena itu, pengawasan terhadap populasi tikus di lingkungan permukiman ikut diperkuat. Fokusnya bukan hanya pada pasien, tetapi juga pada sumber penyebaran virus di lapangan.

Di sisi lain, World Health Organization atau WHO ikut memberikan perhatian pada kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Dalam keterangannya, WHO menegaskan bahwa Hantavirus tidak bisa disamakan dengan COVID-19. Virus ini umumnya tidak mudah menular antar manusia karena penyebaran utamanya berasal dari kontak dengan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi.

Namun, WHO tetap meminta negara-negara untuk waspada karena masa inkubasi Hantavirus cukup panjang, bahkan bisa mencapai enam minggu. Artinya, seseorang dapat terpapar virus tanpa langsung menunjukkan gejala. Situasi inilah yang membuat pelacakan kontak dan pemantauan kesehatan menjadi penting, terutama bagi mereka yang baru bepergian dari wilayah terdampak.

WHO juga masih menyelidiki kemungkinan adanya perubahan atau mutasi virus pada kasus terbaru. Meski sampai sekarang belum ada bukti kuat bahwa Hantavirus dapat menular luas antar manusia, investigasi tetap dilakukan untuk memastikan pola penyebarannya tidak berubah.

Bagi masyarakat umum, langkah pencegahan sebenarnya cukup sederhana, tetapi sering diabaikan. Menjaga kebersihan rumah dan memastikan tidak ada celah bagi tikus masuk menjadi hal paling dasar. Makanan juga sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup agar tidak terkontaminasi. Selain itu, penggunaan masker saat membersihkan gudang atau area yang banyak debu dan kemungkinan menjadi sarang tikus juga dianjurkan untuk mengurangi risiko paparan.

Hantavirus sendiri dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat atau masalah pada ginjal dalam kondisi tertentu. Gejala awalnya biasanya berupa demam tinggi, nyeri otot, tubuh lemas, hingga sesak napas. Karena gejalanya mirip penyakit lain, banyak orang sering tidak menyadari sejak awal. Itu sebabnya tenaga kesehatan meminta masyarakat segera memeriksakan diri jika mengalami gejala setelah berada di lingkungan yang banyak tikus.

Bagikan artikel ini:

S

Ditulis oleh

Syakira Eliana

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait