Teknologi Vaksin Drone Bisa Jadi Solusi di Tengah Wabah Hantavirus

T Tirza 08 Mei 2026 11 dilihat 3 menit baca

Seorang profesor kimia dari University of Bath, Asel Sartbaeva, tengah menjadi sorotan dunia setelah mengembangkan inovasi pengiriman vaksin menggunakan drone untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil dan sulit diakses. Teknologi tersebut dinilai dapat menjadi solusi penting dalam menghadapi wabah penyakit di masa depan, terutama di lokasi yang terisolasi seperti daerah pegunungan, pulau terpencil, hingga kapal yang berada di laut lepas.

Gagasan tersebut kembali menjadi perhatian setelah muncul kasus dugaan hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang tengah berlayar di Samudra Atlantik. Insiden tersebut dilaporkan menyebabkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia dan memicu kekhawatiran global akan potensi penyebaran penyakit baru seperti yang pernah terjadi pada pandemi Covid-19.

Menurut laporan, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization telah mengonfirmasi bahwa lima dari delapan kasus yang dicurigai terkait hantavirus dinyatakan positif. Situasi tersebut membuat banyak negara mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman wabah baru yang dapat menyebar dengan cepat di berbagai wilayah dunia.

Melihat kondisi tersebut, Profesor Asel Sartbaeva menyatakan bahwa teknologi pengiriman vaksin berbasis drone sebenarnya telah ia pikirkan sejak bertahun-tahun lalu. Selama kurang lebih 15 tahun, dirinya bersama tim peneliti terus mengembangkan metode khusus agar vaksin dapat tetap aman dan efektif meskipun dikirim ke lokasi dengan kondisi lingkungan ekstrem.

Metode yang mereka kembangkan dikenal dengan nama “Insilication”. Teknologi ini memungkinkan vaksin dilapisi oleh material anorganik tipis berbahan dasar silika yang berfungsi melindungi kandungan vaksin dari perubahan suhu ekstrem. Dengan lapisan tersebut, vaksin tidak lagi terlalu bergantung pada rantai pendingin atau cold chain yang selama ini menjadi tantangan besar dalam distribusi vaksin global.

Selama ini, banyak vaksin harus disimpan pada suhu tertentu agar kualitasnya tetap terjaga. Hal tersebut sering menjadi kendala ketika vaksin perlu dikirim ke daerah terpencil yang minim fasilitas listrik maupun pendingin medis. Melalui teknologi Insilication, vaksin dapat bertahan lebih lama dan tetap stabil meski dikirim menggunakan drone dalam perjalanan jarak jauh.

Profesor Sartbaeva menjelaskan bahwa timnya telah berhasil menambahkan sistem stabilisasi termal tambahan pada vaksin sehingga mampu bertahan terhadap perubahan suhu yang drastis. Dengan demikian, pengiriman vaksin melalui udara menggunakan drone menjadi lebih memungkinkan dan aman untuk dilakukan di berbagai kondisi geografis.

“Kami telah menambahkan stabilisasi termal di atasnya untuk membuat vaksin tersebut tahan terhadap perubahan suhu sehingga kami dapat melakukan, misalnya, pengiriman menggunakan drone,” ujar Sartbaeva dalam wawancara yang dikutip dari BBC pada Jumat, 8 Mei 2026.

Penggunaan drone untuk distribusi medis sebenarnya bukan hal baru. Beberapa negara telah memanfaatkan teknologi tersebut untuk mengirim obat-obatan, sampel darah, hingga alat medis ke daerah sulit dijangkau. Namun, tantangan utama selama ini adalah menjaga kualitas vaksin agar tidak rusak akibat perubahan suhu selama proses pengiriman.

Karena itu, inovasi dari tim University of Bath dianggap sebagai langkah besar dalam dunia kesehatan global. Teknologi ini dinilai dapat membantu percepatan distribusi vaksin ketika terjadi wabah mendadak, terutama di wilayah yang tidak memiliki akses transportasi cepat.

Selain itu, penggunaan drone juga dinilai lebih efisien dibandingkan transportasi konvensional karena mampu memangkas waktu pengiriman dan mengurangi biaya operasional. Dalam situasi darurat kesehatan, kecepatan distribusi vaksin menjadi faktor penting untuk mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas.

Kasus yang terjadi di kapal MV Hondius juga menjadi contoh nyata bagaimana keterbatasan akses medis di tengah laut dapat menjadi masalah serius. Jika teknologi pengiriman vaksin dengan drone benar-benar diterapkan secara luas, maka penanganan wabah di kapal, pulau terpencil, maupun kawasan bencana dapat dilakukan lebih cepat.

Banyak pihak berharap inovasi ini segera memasuki tahap implementasi massal dan mendapat dukungan dari berbagai organisasi kesehatan internasional. Di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat dunia terhadap ancaman virus baru, teknologi seperti ini dinilai dapat menjadi harapan baru dalam memperkuat sistem kesehatan global di masa depan.

Kategori: Teknologi

Bagikan artikel ini:

T

Ditulis oleh

Tirza

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Instagram Hapus Jutaan Akun dalam 12 Jam Terakhir, Banyak Selebriti Kehilangan Followers

Instagram Hapus Jutaan Akun dalam 12 Jam Terakhir, Banyak Selebriti Kehilangan Followers

Platform media sosial Instagram kembali menjadi perhatian publik global setelah dilaporkan menghapus jutaan akun dalam waktu sekitar 12 jam terakhir. Langkah besar yang dilakukan oleh perusahaan induknya, Meta , disebut sebagai salah satu operasi pembersihan akun terbesar dalam beberapa tahun...

08 Mei 2026

Optimalisasi Sistem "MYELECTRIC": Langkah Strategis Transformasi Manajemen Keuangan Digital

Optimalisasi Sistem "MYELECTRIC": Langkah Strategis Transformasi Manajemen Keuangan Digital

BEKASI – Sektor pengembangan teknologi internal di Bekasi menunjukkan pergerakan yang sangat signifikan pada hari ini, 8 Mei 2026. Fokus utama operasional tertuju pada pembaruan besar-besaran sistem administrasi internal yang dinamakan "MYELECTRIC" . Dashboard yang dibangun menggunakan bahasa pemrograman PHP...

08 Mei 2026

Panduan Lengkap Menggunakan Microsoft Word untuk Pemula, Solusi Mudah Membuat Dokumen Profesional

Panduan Lengkap Menggunakan Microsoft Word untuk Pemula, Solusi Mudah Membuat Dokumen Profesional

Jakarta – Kemampuan mengoperasikan komputer kini menjadi kebutuhan penting di era digital, terutama dalam dunia pendidikan, pekerjaan kantor, hingga administrasi pemerintahan. Salah satu aplikasi yang paling sering digunakan masyarakat adalah Microsoft Word , sebuah perangkat lunak pengolah kata yang membantu...

08 Mei 2026

Bukan Lagi Sekadar "Autocomplete": Memasuki Era Kolaborasi Multi-Agent AI

Bukan Lagi Sekadar "Autocomplete": Memasuki Era Kolaborasi Multi-Agent AI

Beberapa tahun lalu, saat generative AI mulai ramai digunakan, banyak developer menganggap AI hanya sebatas alat bantu untuk mempercepat penulisan kode. Bahkan muncul anggapan bahwa AI hanyalah “autocomplete versi lebih pintar” yang tetap membutuhkan campur tangan manusia untuk membangun sistem...

08 Mei 2026