Harga Minyak Melonjak, Rupiah Dihantam Badai Tekanan

S Sawalika 12 Agu 2026 0 dilihat 4 menit baca

Pasar keuangan global tengah diguncang gelombang ketidakpastian yang berpusat di Timur Tengah. Harga minyak dunia melonjak tajam sepanjang beberapa pekan terakhir, memicu efek berantai ke berbagai kelas aset, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah. Kombinasi antara konflik geopolitik yang belum mereda dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat membuat pelaku pasar bergerak dalam suasana yang penuh kehati-hatian.

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang meluas hingga menyentuh wilayah sekitar Terusan Suez dan Laut Merah menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak. Sepanjang Juli 2026, harga minyak Brent dan WTI tercatat melonjak hampir 21 persen dalam sebulan, kenaikan bulanan tertinggi sejak Maret 2026. Memasuki awal Agustus, tren kenaikan ini masih berlanjut meski sempat diwarnai koreksi tajam ketika muncul harapan perdamaian.

Pada perdagangan Senin pagi, 10 Agustus 2026, harga minyak mentah Brent kembali naik sekitar 1 persen ke kisaran 84 dolar AS per barel, sementara WTI bergerak di level sekitar 78 dolar AS per barel. Kenaikan ini dipicu ketidakpastian mengenai kapan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia, akan kembali dibuka sepenuhnya. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi selat tersebut.

Sejumlah insiden memperkeruh situasi. Kelompok milisi Houthi yang berafiliasi dengan Iran mengklaim menyerang kapal tanker minyak Arab Saudi di lepas pantai Yanbu, sementara perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab, ADNOC, melaporkan belasan kapalnya telah diserang sejak konflik dimulai. Di sisi lain, negosiasi antara Iran dan Oman mengenai skema pungutan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz masih menemui jalan buntu, meski pada akhir pekan lalu Iran menyatakan kesepakatan terkait jalur pelayaran baru telah memasuki tahap akhir.

Dari sisi pasokan, persediaan minyak mentah komersial Amerika Serikat sempat anjlok ke level terendah sejak 2018, memperketat pasokan global dan menambah tekanan pada harga. Arab Saudi bahkan menggalang koalisi maritim bersama puluhan negara untuk mengamankan jalur pelayaran di kawasan tersebut, sebuah langkah yang mencerminkan seriusnya ancaman terhadap stabilitas rantai pasok energi dunia.

Di dalam negeri, rupiah bergerak sangat fluktuatif sepanjang awal Agustus 2026, mencerminkan tarik-menarik antara sentimen positif domestik dan tekanan eksternal dari geopolitik serta pasar global. Rupiah sempat melemah ke level Rp18.027 per dolar AS pada awal pekan akibat penguatan dolar AS yang didorong data manufaktur AS yang lebih baik dari perkiraan, ditambah meningkatnya ketidakpastian geopolitik Timur Tengah setelah Iran membantah adanya rencana pembicaraan damai.

Namun sentimen berbalik ketika Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar. Data ini, dikombinasikan dengan koreksi harga minyak dunia di tengah harapan sementara akan perdamaian, sempat membawa rupiah menguat signifikan ke level Rp17.933 per dolar AS. Penguatan berlanjut hingga akhir pekan, dengan rupiah sempat menyentuh level Rp17.801 per dolar AS pada 8 Agustus 2026, didukung konsistensi kebijakan stabilisasi pasar oleh Bank Indonesia.

Meski demikian, ruang penguatan rupiah tetap terbatas. Defisit neraca perdagangan Indonesia yang kembali terjadi dinilai mencerminkan tekanan pada sektor eksternal, sementara pelaku pasar juga mencermati proses suksesi kepemimpinan Bank Indonesia yang belum menemui titik terang. Ketidakpastian mengenai sosok yang akan mengisi posisi Gubernur BI berikutnya menambah lapisan kehati-hatian investor, mengingat kebijakan bank sentral memegang peran kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.

Situasi ini menempatkan rupiah di persimpangan dua kekuatan yang saling berlawanan. Di satu sisi, fundamental ekonomi domestik yang solid—tecermin dari pertumbuhan PDB yang kuat dan kebijakan stabilisasi Bank Indonesia—memberi bantalan bagi mata uang Garuda. Di sisi lain, lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah berpotensi mendorong tekanan inflasi impor dan memperlebar defisit transaksi berjalan, mengingat Indonesia masih menjadi importir neto bahan bakar minyak.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve turut menjadi faktor penyeimbang, karena kebijakan moneter AS yang lebih longgar cenderung melemahkan indeks dolar dan memberi ruang bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, untuk menguat. Namun selama konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian pembukaan Selat Hormuz belum menemukan penyelesaian, volatilitas di pasar minyak dan nilai tukar diperkirakan masih akan mewarnai pergerakan pasar dalam beberapa pekan ke depan.

Bagi pelaku usaha dan investor domestik, kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra. Fluktuasi rupiah yang tajam dalam rentang harian memperlihatkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik sekecil apa pun, sementara arah kebijakan The Fed dan proses pergantian kepemimpinan Bank Indonesia akan menjadi penentu penting arah rupiah dalam jangka menengah.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait