Iran Belum Sudi Buka Selat Hormuz, Ini 6 Tuntutannya

S Sawalika 11 Agu 2026 0 dilihat 4 menit baca

Ketegangan di Selat Hormuz belum juga mereda. Iran menegaskan sikapnya bahwa jalur pelayaran strategis tersebut tidak akan dibuka kembali secara penuh sebelum Amerika Serikat memenuhi serangkaian tuntutan yang telah ditetapkan Teheran. Pernyataan ini disampaikan menyusul blokade yang telah diberlakukan Iran sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayahnya pada akhir Februari 2026.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, menyampaikan bahwa nasib Selat Hormuz kini sepenuhnya bergantung pada kesediaan Washington mengubah kebijakannya terhadap Teheran. Ia menegaskan bahwa selama sikap Amerika Serikat belum berubah, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia itu akan tetap tertutup.

Senada dengan itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) turut menegaskan bahwa blokade akan terus dipertahankan hingga seluruh syarat yang diajukan dipenuhi. Bagi Iran, Selat Hormuz kini bukan lagi sekadar jalur perdagangan, melainkan telah menjelma menjadi salah satu instrumen dalam konflik yang tengah berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan pernyataan resmi yang dikutip dari kantor berita Tasnim, berikut adalah enam syarat yang harus dipenuhi Amerika Serikat agar Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz:

  1. Penghentian ancaman — Iran menuntut AS berhenti melontarkan ancaman maupun tindakan yang dianggap merendahkan atau menghina Teheran.
  2. Penghentian agresi militer — Iran meminta diakhirinya perang dan agresi terhadap dirinya maupun kelompok-kelompok sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.
  3. Pencabutan blokade dan penarikan pasukan — Iran menuntut dihentikannya blokade balasan AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya, serta penarikan kekuatan militer AS dari kawasan.
  4. Kompensasi kerugian perang — Teheran meminta AS membayar ganti rugi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat konflik bersenjata.
  5. Pencabutan sanksi — Iran mendesak penghapusan sanksi ekonomi yang selama ini membebani negaranya.
  6. Pembebasan aset yang dibekukan — Iran menuntut pencairan dan pengembalian aset-asetnya yang selama ini dibekukan oleh pihak Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menambahkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz juga terkait dengan kompensasi atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran AS terhadap kesepakatan Islamabad yang dicapai pada Juni 2026. Ia turut membantah bahwa negaranya tengah bernegosiasi langsung dengan Washington, dan menyebut komunikasi yang terjadi selama ini hanya berupa pertukaran pesan melalui perantara.

Di tengah sikap keras tersebut, Iran sebenarnya tengah menjajaki kesepakatan sementara dengan Oman terkait pengaturan jalur transit maritim bagi kapal-kapal yang keluar-masuk Teluk Persia. Araghchi menyebut pembicaraan itu sudah "sangat dekat" dengan titik akhir. Kementerian Luar Negeri Oman turut mengonfirmasi bahwa proses negosiasi mengenai pengaturan pelayaran berjalan positif.

Namun demikian, kesepakatan dengan Oman tersebut tidak serta-merta akan membuka penuh Selat Hormuz. Kesepakatan itu lebih ditujukan untuk mengatur mekanisme sementara bagi lalu lintas kapal komersial, sementara pembukaan penuh jalur tersebut tetap digantungkan pada terpenuhinya enam tuntutan politik dan keamanan yang telah disampaikan Teheran kepada Washington.

Di tengah sikap keras tersebut, Iran sebenarnya tengah menjajaki kesepakatan sementara dengan Oman terkait pengaturan jalur transit maritim bagi kapal-kapal yang keluar-masuk Teluk Persia. Araghchi menyebut pembicaraan itu sudah "sangat dekat" dengan titik akhir. Kementerian Luar Negeri Oman turut mengonfirmasi bahwa proses negosiasi mengenai pengaturan pelayaran berjalan positif.

Namun demikian, kesepakatan dengan Oman tersebut tidak serta-merta akan membuka penuh Selat Hormuz. Kesepakatan itu lebih ditujukan untuk mengatur mekanisme sementara bagi lalu lintas kapal komersial, sementara pembukaan penuh jalur tersebut tetap digantungkan pada terpenuhinya enam tuntutan politik dan keamanan yang telah disampaikan Teheran kepada Washington.

Sementara itu, pascakonflik, Iran tetap bersikeras mempertahankan kendali atas Selat Hormuz dan bahkan berencana memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut. Sejumlah insiden serangan terhadap kapal yang dituduh berupaya menghindari jalur pelayaran yang ditetapkan Iran juga masih terus terjadi, menambah ketidakpastian bagi jalur perdagangan energi paling strategis di dunia ini.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa kebuntuan antara Teheran dan Washington akan segera terurai. Nasib Selat Hormuz, yang setiap harinya dilalui pengiriman minyak dan gas dalam jumlah besar dari kawasan Teluk, tetap menggantung di tengah tarik-menarik kepentingan politik dan ekonomi kedua negara.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait