Isu Kesepakatan AS-Iran di Selat Hormuz Bikin Pasar Energi Global Lega

S Sawalika 09 Agu 2026 1 dilihat 4 menit baca

Kabar mengenai tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi angin segar bagi pasar energi dunia yang selama berbulan-bulan diliputi ketidakpastian. Setelah konflik bersenjata yang meletus sejak akhir Februari 2026 antara koalisi AS-Israel melawan Iran, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak dan gas dunia itu sempat lumpuh total, memicu gejolak harga energi global yang berkepanjangan.

Konflik yang dipicu oleh serangan besar-besaran AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 tersebut membawa dampak yang sangat serius. Selat Hormuz, yang menjadi rute pelayaran bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, praktis tertutup bagi aktivitas kapal niaga. Akibatnya, ratusan kapal tanker terjebak di perairan Teluk Persia, sementara ribuan pelaut tidak dapat melanjutkan pelayaran mereka.

Titik balik mulai terlihat pada akhir Mei 2026, ketika pejabat AS mengonfirmasi bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan prinsip untuk membuka kembali selat tersebut. Meski demikian, pengumuman awal itu masih menyisakan banyak pertanyaan, termasuk soal kecepatan pemulihan arus pelayaran normal dan kapan harga minyak akan benar-benar turun. Bahkan pernyataan seorang penasihat militer pemimpin tertinggi Iran yang mengklaim negaranya memiliki hak mengelola Selat Hormuz sempat menambah ketidakpastian, mengingat hal ini berpotensi membuka peluang pungutan biaya baru bagi kapal yang melintas.

Proses negosiasi kemudian berlanjut hingga pertengahan Juni 2026, ketika kedua negara dilaporkan menyepakati sebuah memorandum of understanding (MoU) yang tidak hanya mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, tetapi juga langkah-langkah pembongkaran program nuklir Iran. Puncaknya, nota kesepahaman antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian resmi ditandatangani secara digital, dengan penandatanganan formal dijadwalkan berlangsung di Swiss.

Sinyal positif dari proses negosiasi ini langsung direspons pasar finansial global. Harga minyak mentah Brent yang sempat bertahan di kisaran 106 dolar AS per barel selama masa krisis, berangsur turun hingga menyentuh level sekitar 77 dolar AS per barel setelah kesepakatan tercapai. Bahkan dalam empat sesi perdagangan menjelang penandatanganan MoU, harga Brent tercatat anjlok sekitar 17 dolar AS per barel, level terendah sejak awal Maret 2026 atau tak lama setelah konflik pecah.

Penurunan tajam ini mencerminkan penilaian pelaku pasar bahwa ancaman gangguan pasokan energi global sudah jauh berkurang. Optimisme pasar semakin menguat seiring beredarnya kabar bahwa Iran akan memberikan izin bagi kapal niaga untuk kembali melintasi Selat Hormuz tanpa biaya selama periode 60 hari, sebagaimana tercantum dalam memorandum yang ditandatangani.

Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa euforia pasar perlu diimbangi dengan sikap realistis. Kepala Ekonom High Frequency Economics, Carl Weinberg, sempat menegaskan bahwa tidak ada yang benar-benar tahu seberapa cepat harga minyak akan turun secara signifikan, dan yang pasti penurunan itu tidak akan terjadi secara instan.

Sejumlah tantangan teknis dan keamanan juga masih perlu diselesaikan. Perusahaan pelayaran dan asuransi kemungkinan besar akan tetap menerapkan syarat ketat bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, sementara kebutuhan akan pengawalan militer dan prosedur keselamatan tambahan dipastikan menambah beban biaya operasional. Selama proses pembersihan ranjau laut belum tuntas, perusahaan pelayaran pun cenderung tetap berhati-hati sebelum benar-benar mengembalikan aset mereka ke jalur tersebut.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi, turut mengingatkan bahwa dunia usaha tidak boleh terlena dengan dibukanya kembali Selat Hormuz. Menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada pemulihan infrastruktur energi yang rusak akibat konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah, bukan sekadar soal keamanan jalur pelayaran semata.

Kabar positif ini turut disambut baik oleh pemerintah Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai salah satu faktor yang akan turut dipertimbangkan dalam penyesuaian harga bahan bakar minyak, khususnya BBM nonsubsidi. Namun, sejalan dengan peringatan para pengamat logistik internasional, sejumlah pihak di dalam negeri juga mendesak agar Pertamina tetap mengevaluasi harga BBM secara hati-hati, mengingat proses pemulihan rantai pasok energi global masih membutuhkan waktu.

Secara keseluruhan, kesepakatan AS-Iran ini menjadi kabar yang melegakan bagi pasar energi global setelah berbulan-bulan diguncang ketidakpastian. Namun demikian, jalan menuju normalisasi penuh distribusi energi dunia masih panjang, sejalan dengan proses pemulihan kepercayaan pasar, perbaikan infrastruktur, dan penyelesaian berbagai persoalan keamanan yang tersisa di kawasan Teluk.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait