Jangan Salahkan Dewasa, Attitude Buruk Sering Kali Pola yang Telanjur Mengakar

S Sawalika 02 Jun 2026 13 dilihat 4 menit baca

'Mungkin beban kerjanya sedang berat,' atau 'Wajar, hidup sebagai orang dewasa memang tidak mudah.' Kalimat-kalimat ini seperti mantra permakluman yang refleks kita ucapkan saat menyaksikan seseorang bertindak semena-mena—mulai dari amarah yang meledak-ledak, sikap pasif-agresif, manipulasi, hingga hilangnya rasa empati. Pada akhirnya, realitas hidup orang dewasa yang penuh tekanan selalu sukses ditunjuk sebagai biang keladi atas buruknya cara seseorang memperlakukan sesamanya.

Padahal, menyalahkan usia dewasa adalah sebuah ilusi yang menutupi masalah sesungguhnya. Attitude buruk yang ditampilkan oleh seorang dewasa bukanlah buah yang tiba-tiba jatuh dari pohon kehidupan. Sering kali, sikap tersebut adalah pohon itu sendiri, yang akarnya sudah lama tertanam dan mengakar kuat di masa lalu.

Memang benar, menjadi dewasa berarti siap berhadapan dengan tekanan-tekanan baru. Namun, perlu diingat bahwa stres hanyalah pemantik, bukan akar dari masalah yang sebenarnya. Dua orang dewasa bisa saja menghadapi tingkat stres yang sama, tetapi meresponsnya dengan cara yang bumi dan langit. Yang satu memilih duduk bersama dan mengomunikasikannya, sedangkan yang lain justru meledak dan melukai orang-orang terdekatnya. Kontras reaksi inilah yang menjadi bukti kuat bahwa sikap seseorang bukan disetir oleh keadaan, melainkan ditentukan oleh kematangan karakter mereka sendiri.

Pola perilaku buruk ini umumnya bermula dari lingkungan tumbuh kembang seseorang, terutama di masa kecil. Anak-anak belajar tentang dunia melalui orang tua dan lingkungan terdekat mereka. Jika seorang anak dibesarkan dalam keluarga yang menormalisasi yelling sebagai cara menyelesaikan masalah, maka di otaknya, marah-marah adalah bahasa default untuk mendapatkan apa yang diinginkan atau ketika merasa terancam.

Hal serupa terjadi pada perangai manipulatif dan kegilaan akan perhatian. Ketika seorang anak tumbuh dalam kekosongan validasi emosi, ia akan membawa luka itu hingga dewasa, mengekspresikannya lewat cara-cara yang merusak hubungan—memainkan peran korban (playing the victim) atau mencengkeram orang lain lewat kontrol yang berlebihan. Bagi mereka, itulah satu-satunya cara untuk merasa 'terlihat'. Mereka terjebak dalam metode yang keliru ini semata-mata karena ruang masa kecil mereka tidak pernah menyediakan cetak biru tentang bagaimana cara meminta dan menerima kasih sayang secara sehat.

Di dalam psikologi, ada istilah yang disebut maladaptive coping mechanism atau mekanisme koping yang tidak adaptif. Di masa lalu, mungkin sikap tertutup, menyerang orang lain, atau menjadi sosok yang dingin adalah cara bertahan yang efektif bagi seorang anak agar tidak terluka di lingkungan yang kasar atau toxic. Otaknya mencatat: "Cara ini berhasil menyelamatkanku."

Namun di masa dewasa, alam bawah sadar kerap membawa mode bertahan hidup yang traumatis itu ke dalam ruang-ruang yang seharusnya aman; dalam dekap percintaan, hangat pertemanan, atau dinamika profesional. Cetak biru perilaku yang dulunya adalah tameng pelindung, kini menjelma menjadi belati yang melukai diri sendiri dan sesama. Perangai buruk itu tidak lagi sekadar respons sesaat, melainkan telah berurat berakar menjadi identitas—sebuah gerakan refleks yang berjalan sunyi tanpa disadari pemiliknya.

Lantas, apakah mengetahui bahwa attitude buruk adalah "pola masa lalu" membuat kita harus memaklukan perilaku tersebut? Tentu saja tidak. Memahami akar masalah bukan berarti memberi legitimasi atau izin bagi seseorang untuk terus bersikap buruk. Pemahaman ini penting agar kita berhenti menormalisasi toxic behavior dengan dalih "orang dewasa sedang banyak pikiran".

Sebaliknya, pemahaman ini harus menjadi panggilan untuk bertanggung jawab. Menjadi dewasa secara fisik tidak serta merta membuat seseorang dewasa secara emosional. Kedewasaan emosional membutuhkan kesadaran diri (self-awareness) yang tinggi untuk mengoreksi blueprint atau cetak biru perilaku yang salah dari masa lalu. Proses ini memang tidak mudah; dibutuhkan keberanian untuk menghadapi luka lama, kebiasaan mengakui kesalahan, dan terkadang membutuhkan bantuan profesional seperti terapi.

Pada akhirnya, tidak pernah ada kata terlambat untuk membenahi diri. Sikap yang buruk bukanlah takdir mati yang tiba-tiba kita sandang saat beranjak dewasa. Itu adalah sebuah pola—dan kabar baiknya, pola selalu bisa dipatahkan. Syaratnya cuma satu: kita harus mau membongkar tanah di sekitar akarnya, mencabutnya, lalu menyemai benih kesadaran yang baru. Sebab, kedewasaan yang sejati tidak dinilai dari seberapa bersih hidup kita dari masalah, melainkan dari seberapa berani kita merombak tabiat buruk yang telanjur mengakar.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait