Katanya Gen Z Lebih Berani Resign Dibanding Milenial, Emang Iya? Ini Faktanya!

S Sawalika 05 Jun 2026 14 dilihat 4 menit baca

Fenomena "resign" belakangan ini kerap dikaitkan dengan satu generasi tertentu: Generasi Z. Baik di linimasa media sosial maupun obrolan di ruang kerja, kerap terdengar stereotip bahwa karyawan berusia 20-an awal ini lebih berani mengundurkan diri dibandingkan generasi sebelumnya, yakni Milenial.

Berbeda dengan Generasi X yang dikenal loyal dan rela bertahan demi stabilitas, Gen Z kerap mendapat cap negatif sebagai pekerja yang impulsif, gampang bosan, dan minim loyalitas. Namun, benarkah stereotip tersebut? Apakah mereka sekadar gampang menyerah dan hobi resign, atau ada alasan mendasar yang membuat mereka berani mengambil langkah ekstrem ini? Mari kita bedah realitanya.

Keberanian Gen Z untuk resign sebenarnya bukan karena mereka malas bekerja, melainkan karena mereka memiliki batasan yang sangat jelas mengenai lingkungan kerja yang sehat. Mereka tumbuh besar di era keterbukaan informasi, sehingga wawasan mereka tentang mental health, burnout, dan toxic workplace sangat luas.

Ketika dihadapkan pada lingkungan kerja beracun—seperti lembur tanpa kompensasi, manipulasi psikologis (gaslighting) dari atasan, hingga pengawasan mikro yang mencegik—Gen Z tidak akan berpikir dua kali untuk mengundurkan diri. Mereka adalah pembela gigih right to disconnect, yaitu hak mutlak untuk memutus kontak urusan kantor di luar jam kerja. Bagi generasi ini, menjaga kesehatan mental jauh lebih krusial ketimbang bertahan demi gaji besar yang menguras kewarasan. Kontras dengan hal tersebut, generasi Milenial yang tumbuh dalam iklim kerja yang lebih rigid sering kali memandang tekanan serupa sebagai bagian dari ujian mental dan pembentukan karakter.

Kita tidak bisa mengabaikan latar belakang ekonomi kedua generasi ini. Milenial (lahir 1981-1996) menghabiskan masa mudanya di tengah krisis finansial global 2008. Pengalaman melihat susahnya mencari pekerjaan di masa itu membentuk mindset mereka untuk sangat berhati-hati. Stabilitas kerja adalah prioritas utama. Resign tanpa plan B adalah mimpi buruk bagi sebagian besar Milenial, apalagi yang sudah memiliki cicilan KPR, tanggungan anak, atau gaya hidup tertentu yang mengikat (golden handcuffs).

Sebaliknya, Gen Z (kelahiran 1997–2012) menapaki dunia profesional di era pascapandemi yang penuh ketidakpastian. Pengalaman global itu menyadarkan mereka bahwa stabilitas kerja (job security) hanyalah sebuah mitos. Hal yang membedakan mereka adalah fleksibilitasnya; mayoritas Gen Z sudah akrab dengan side hustle, proyek freelance, atau dunia content creation sebagai keran pendapatan cadangan. Jaring pengaman (safety net) dari ekosistem gig economy inilah yang memicu nyali mereka untuk lekas hengkang dari kantor yang beracun, sebab mereka tahu dapur mereka akan tetap mengepul lewat jalur alternatif.

Dulu, loyalitas diukur dari seberapa lama seseorang bertahan di satu perusahaan hingga pensiun. Gen Z memutarbalikkan narasi ini. Mereka tidak loyal pada brand perusahaan, melainkan loyal pada pengembangan diri mereka sendiri.

Sebelum benar-benar mengajukan surat pengunduran diri, fenomena quiet quitting (bekerja sesuai deskripsi jabatan, tidak lebih) sering menjadi langkah awal mereka. Jika perusahaan tetap tidak menawarkan ruang untuk belajar (upskilling), jalur karier yang jelas, atau kesesuaian nilai, Gen Z akan mencari tempat lain. Bagi mereka, berpindah-pindah kerja di usia muda bukanlah aib, melainkan strategi untuk mempercepat pertumbuhan karier dan menaikkan bargaining power di pasar tenaga kerja.

Jadi, benarkah Gen Z lebih gampang resign ketimbang kaum Milenial? Jawabannya iya, tapi tentu ada alasan kuat di baliknya. Keberanian mereka untuk angkat kaki dari kantor bukanlah bukti bahwa mereka mental tempe atau manja, melainkan potret kedewasaan generasi baru yang berani berkata 'cukup' demi menjaga ruang personalnya.

Milenial dan Gen Z sama-sama hebatnya, hanya saja mereka bermain di "lapangan" dengan aturan dan cuaca ekonomi yang berbeda. Milenial bertahan karena memegang teguh prinsip stabilitas, sementara Gen Z memilih keluar karena mengutamakan kesejahteraan holistik. Ironisnya, banyak Milenial kini justru mulai belajar dari Gen Z untuk berani mengatakan "tidak" pada budaya kerja yang merugikan.

Fenomena ini seharusnya menjadi tamparan sekaligus momen refleksi bagi para perekrut dan pemimpin perusahaan, bukan sekadar bahan cemoohan. Jika tidak ingin kehilangan aset SDM terbaiknya, perusahaan harus menyudahi gaya kepemimpinan yang serba mendikte. Mulailah membangun kultur kerja yang memanusiakan manusia, menawarkan fleksibilitas, dan menyediakan ruang berkembang. Bagaimanapun juga, tidak ada yang keliru dengan prinsip para pekerja ini; dunia profesional sajalah yang kini dituntut untuk terus berevolusi.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait