Jakarta, Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla masih menjadi perhatian pemerintah pada September 2026. Sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih melakukan penanganan terhadap area yang terdampak kebakaran.
Data terbaru menunjukkan sekitar 209,78 hektare lahan masih dalam proses pemadaman di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Tim gabungan terus melakukan penanganan sekaligus memantau kemungkinan munculnya titik api baru.
Karhutla merupakan persoalan lingkungan yang memiliki dampak luas. Ketika kebakaran terjadi di kawasan hutan maupun lahan, kerusakan tidak hanya dirasakan oleh lingkungan sekitar. Asap yang dihasilkan juga dapat menyebar ke kawasan permukiman dan memengaruhi aktivitas masyarakat.
Pemantauan melalui satelit menjadi salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui indikasi munculnya titik panas. Hingga 20 September 2026, Kementerian Kehutanan mencatat terdapat sekitar 1.532 hotspot di sejumlah wilayah Indonesia.
Meski demikian, jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kebakaran. Titik panas merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui pemantauan satelit. Pemeriksaan di lapangan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Penanganan kebakaran menjadi lebih sulit ketika lokasi berada di area yang sulit dijangkau. Petugas terkadang harus menghadapi keterbatasan akses jalan maupun sumber air.
Kondisi tersebut juga terjadi di Kabupaten Batang Hari, Jambi. Satuan tugas karhutla melakukan penguatan mobilisasi petugas untuk menghadapi kebakaran yang terjadi di sejumlah lokasi.
Selain proses pemadaman, dampak terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian. Asap dari kebakaran dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran.
Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 174 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di wilayah terdampak karhutla selama periode 18 Agustus hingga 21 September 2026. Dari jumlah tersebut, lebih dari 40 ribu kasus terjadi pada balita.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan lingkungan. Dampaknya dapat menjalar ke sektor kesehatan dan aktivitas masyarakat.
Anak-anak dan kelompok masyarakat yang rentan perlu mendapatkan perhatian ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat di wilayah terdampak juga perlu memperhatikan informasi resmi mengenai kondisi udara serta mengikuti imbauan dari pemerintah daerah.
Selain penanganan ketika kebakaran sudah terjadi, upaya pencegahan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko karhutla. Pemantauan titik panas, patroli wilayah, edukasi masyarakat, dan kesiapan personel menjadi beberapa langkah yang diperlukan.
Kawasan lahan gambut juga membutuhkan perhatian khusus. Karakteristik lahan gambut membuat api dapat menyebar dan bertahan di bawah permukaan sehingga proses pemadaman membutuhkan penanganan yang tepat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebelumnya melaporkan bahwa kebakaran telah berdampak pada lahan gambut di sejumlah provinsi, termasuk Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi.
Sebagian wilayah telah berhasil ditangani, tetapi pemantauan tetap diperlukan untuk memastikan api tidak kembali muncul.
Penegakan hukum juga menjadi bagian dari upaya penanganan karhutla. Di Riau, aparat kepolisian sebelumnya menetapkan sejumlah orang sebagai tersangka dalam perkara kebakaran hutan dan lahan sepanjang 2026.
Langkah hukum tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menangani kasus kebakaran yang diduga berkaitan dengan pelanggaran aturan.
Di sisi lain, pemerintah juga menekankan perlunya penanganan yang terkoordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, petugas pemadam, serta masyarakat.
Pencegahan kebakaran membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Masyarakat juga memiliki peran dengan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api di kawasan yang rawan terbakar.
Karhutla merupakan persoalan yang membutuhkan penanganan jangka panjang. Pemadaman ketika api muncul memang penting, tetapi pencegahan dan pemulihan lingkungan juga tidak kalah penting.
Dengan masih adanya area yang menjalani proses pemadaman dan pemantauan hotspot yang terus dilakukan, kondisi karhutla masih menjadi salah satu isu lingkungan yang perlu diperhatikan hingga akhir September 2026.
Pemerintah bersama masyarakat diharapkan dapat terus meningkatkan kewaspadaan untuk mengurangi risiko kebakaran sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari.