Kemandirian Chip China Bikin Investor ASML Mulai Cemas

S Sawalika 29 Jul 2026 0 dilihat 4 menit baca

Pasar semikonduktor global kembali diguncang kabar dari China. Akhir Juli 2026, laporan yang menyebut sebuah perusahaan China telah mulai memproduksi mesin litografi deep ultraviolet (DUV) imersi buatan sendiri membuat investor ASML, produsen mesin litografi chip asal Belanda, dilanda kecemasan. Dalam hitungan dua hari, saham ASML anjlok sekitar 10 persen dan menghapus lebih dari 60 miliar euro nilai pasar perusahaan tersebut.

Media teknologi The Information pertama kali melaporkan upaya China ini, yang kemudian diikuti laporan Reuters yang menyebut sebuah perusahaan milik negara bernama Shanghai Aishengna Electronic Technology Group tengah memimpin upaya produksi massal mesin litografi DUV imersi buatan lokal. Teknologi ini merupakan komponen krusial dalam pembuatan chip modern, mulai dari kebutuhan otomotif hingga kecerdasan buatan.

Kabar ini datang di tengah dilema yang selama ini membayangi ASML. Di satu sisi, pembatasan ekspor yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap China mengancam mengurangi akses perusahaan ke salah satu pasar terbesarnya. Di sisi lain, dorongan Beijing untuk mencapai kemandirian teknologi di sektor produksi chip membuka kemungkinan munculnya pesaing langsung dari dalam negeri China sendiri.

Reaksi pasar terhadap kabar ini cukup tajam. Saham ASML sempat anjlok hingga 8 persen dalam satu hari perdagangan, penurunan harian terbesar sejak awal Juli, seiring investor mencerna potensi ancaman terhadap dominasi pasar perusahaan di China. Gejolak ini turut menyeret saham-saham semikonduktor global lainnya dalam aksi jual yang lebih luas, sementara sejumlah saham terkait kecerdasan buatan juga ikut tertekan karena investor mempertimbangkan implikasi dari rantai pasok chip China yang semakin mandiri.

Selama ini, pembatasan ekspor yang dipimpin AS membuat China tidak bisa mengakses mesin litografi extreme ultraviolet (EUV) generasi terbaru, teknologi paling canggih yang dikuasai ASML untuk mencetak sirkuit pada chip AI. Pembatasan serupa juga berlaku untuk sejumlah mesin DUV imersi kelas atas milik ASML. Kondisi inilah yang mendorong Beijing menjadikan pengembangan mesin DUV buatan sendiri sebagai prioritas strategis nasional, dan upaya tersebut kini disebut telah mencapai tahap produksi massal.

Meski begitu, sejumlah analis mengingatkan agar kabar ini tidak ditelan mentah-mentah. Tim analis dari SemiAnalysis, misalnya, menyoroti bahwa performa alat, skala produksi mesin itu sendiri, keandalan armada, ekosistem pendukung, hingga persaingan ekonomi dengan mesin ASML yang sudah terdepresiasi penuh, semuanya masih menjadi tantangan besar bagi produk China. <cite index="1-1">Skala produksi mesin itu sendiri disebut sebagai aspek yang paling diremehkan dari tantangan tersebut.</cite>

Kolumnis Reuters Breakingviews turut menilai kekhawatiran pasar ini agak berlebihan, karena mesin buatan perusahaan Shanghai tersebut belum sematang dari sisi teknologi dibandingkan produk ASML. Analis lain, seperti Stephane Houri dari ODDO BHF, juga menyarankan investor untuk berhati-hati menyikapi kabar ini, mengingat kemampuan China kemungkinan masih terbatas pada segmen kelas bawah pasar chip.

Menariknya, di tengah gejolak ini, data terbaru justru menunjukkan bahwa hubungan bisnis ASML dengan China belum benar-benar melemah. Pada kuartal kedua 2026, China menyumbang sekitar 14 persen dari total penjualan sistem bersih ASML yang mencapai 6,6 miliar euro, atau setara sekitar 924 juta euro. ASML bahkan sempat memproyeksikan bahwa China akan menyumbang sekitar 20 persen dari total pendapatan tahun ini, meski pembatasan ekspor terus diperketat dari waktu ke waktu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perang chip antara AS dan China belum sepenuhnya menghentikan permintaan China terhadap teknologi ASML, melainkan lebih tepat digambarkan sebagai pengalihan permintaan ke segmen mesin yang masih diizinkan untuk diekspor. Analis Ipek Ozkardeskaya dari Swissquote bahkan menyebut potensi munculnya pesaing asal China sebagai skenario yang bisa menjadi mimpi buruk bagi ASML apabila benar-benar berhasil menembus dominasi pasar DUV.

Untuk saat ini, ASML masih diuntungkan oleh pertumbuhan struktural industri semikonduktor global, terutama didorong permintaan chip canggih untuk infrastruktur AI, pusat data, dan perangkat berperforma tinggi. Namun jika ketegangan geopolitik terus meningkat berbarengan dengan percepatan kemandirian teknologi China, kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang perusahaan asal Belanda ini kemungkinan akan terus diuji.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait