Beberapa waktu terakhir, perhatian dunia kesehatan kembali tertuju ke sebuah penyakit yang mungkin tidak setenar COVID-19, tetapi memiliki tingkat kematian yang jauh dari kata sepele. Namanya Hantavirus. Di sejumlah negara Amerika Selatan, terutama Argentina dan Chili, jumlah kasusnya dilaporkan meningkat secara signifikan. Kabar ini membuat banyak ahli kesehatan angkat bicara, bukan hanya karena penyakit ini mematikan, tetapi juga karena penyebab di balik lonjakannya berkaitan dengan persoalan yang jauh lebih besar: perubahan iklim.
Bagi sebagian orang, Hantavirus mungkin terdengar seperti ancaman yang jauh. Penyakit dari wilayah pegunungan dan hutan di belahan bumi lain. Sesuatu yang hanya muncul sesekali di berita internasional. Namun, semakin saya membaca tentang pola penyebarannya, semakin jelas bahwa Hantavirus adalah pengingat bahwa kesehatan manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari kondisi lingkungan.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus liar. Pada manusia, virus ini dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS, sebuah penyakit pernapasan serius yang menyerang paru-paru. Pada tahap awal, gejalanya tampak biasa saja. Demam, nyeri otot, dan kelelahan. Mirip flu yang sering dianggap tidak berbahaya. Namun dalam waktu singkat, kondisi dapat memburuk. Paru-paru mulai terisi cairan, pernapasan menjadi sangat sulit, dan pasien membutuhkan penanganan medis segera.
Yang membuat penyakit ini menakutkan adalah cara penularannya yang nyaris tak terlihat. Seseorang tidak perlu digigit tikus untuk terinfeksi. Cukup menghirup partikel virus yang berasal dari urin, air liur, atau kotoran tikus yang mengering, maka infeksi dapat terjadi. Sebuah gudang kosong, kabin di pegunungan, atau rumah yang lama tidak dihuni dapat berubah menjadi ruang yang tampak tenang, tetapi menyimpan ancaman tak kasatmata.
Pertanyaan pentingnya adalah: mengapa kasus Hantavirus meningkat sekarang?
Jawabannya, menurut banyak ahli epidemiologi dan ilmuwan lingkungan, berkaitan erat dengan perubahan iklim. Ketika suhu bumi terus meningkat, pola hujan berubah, musim menjadi semakin sulit diprediksi, dan ekosistem mengalami gangguan. Perubahan-perubahan ini tidak hanya memengaruhi manusia, tetapi juga hewan pembawa penyakit.
Di beberapa wilayah Amerika Selatan, musim yang lebih hangat dan curah hujan yang tidak menentu menyebabkan produksi biji-bijian dan buah hutan meningkat. Bagi tikus liar, kondisi ini seperti pesta makanan yang tak berujung. Populasi mereka bertambah dengan cepat. Semakin banyak tikus, semakin besar pula peluang virus menyebar.
Di sisi lain, kekeringan berkepanjangan memaksa hewan pengerat mendekati permukiman manusia untuk mencari air dan makanan. Batas antara habitat liar dan tempat tinggal manusia menjadi semakin tipis, seperti garis pensil yang perlahan terhapus oleh hujan.
Gangguan ekosistem juga berdampak pada predator alami tikus, seperti burung hantu dan rubah. Ketika jumlah predator menurun, populasi tikus tidak lagi terkendali. Akibatnya, rantai penularan penyakit menjadi semakin sulit diputus.
Meski terdengar mengkhawatirkan, ada langkah-langkah sederhana yang dapat mengurangi risiko infeksi. Jika harus membersihkan ruangan yang lama tertutup, bukalah pintu dan jendela setidaknya selama tiga puluh menit agar udara berganti. Hindari menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering, karena partikel virus dapat beterbangan ke udara. Sebaiknya basahi area tersebut dengan larutan pemutih sebelum dibersihkan. Pada lokasi berisiko tinggi, penggunaan masker N95 dan sarung tangan sangat dianjurkan.
Penting untuk dipahami bahwa Hantavirus tidak menular semudah penyakit pernapasan lain seperti COVID-19. Penyebarannya tidak terjadi dengan mudah dari orang ke orang. Namun, karena gejalanya dapat berkembang sangat cepat, diagnosis dini dan penanganan medis yang tepat menjadi faktor yang menentukan keselamatan pasien.
Pada akhirnya, lonjakan kasus Hantavirus mengingatkan kita pada satu kenyataan yang sering terlupakan. Perubahan iklim bukan hanya soal suhu yang semakin panas atau musim yang tak menentu. Ia juga memengaruhi pola penyebaran penyakit, memindahkan ancaman dari hutan ke rumah-rumah, dan menghadirkan risiko baru yang sebelumnya terasa jauh.
Ketika keseimbangan alam terganggu, dampaknya tidak berhenti pada pohon yang tumbang atau sungai yang mengering. Kadang, dampaknya hadir dalam bentuk virus yang tak terlihat, tetapi mampu mengubah hidup manusia dalam hitungan hari.