Setahun lalu, Shein tampak begitu percaya diri dengan rencana besarnya di Vietnam. Raksasa fast fashion asal China ini menyewa lahan gudang seluas 15 hektare—setara 21 lapangan sepak bola—di dekat Ho Chi Minh City. Ambisinya jelas: menjadikan Vietnam sebagai basis ekspor utama dan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok China di tengah ancaman perang dagang yang kian nyata. Namun kini, hanya dalam hitungan bulan, Shein justru menarik kembali langkahnya. Perusahaan memangkas lahan gudang di Vietnam dari 15 hektare menjadi hanya 6 hektare dan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap ribuan pekerja. Apa yang sebenarnya terjadi?
Rencana ekspansi ke Vietnam dirancang pada akhir 2024, saat Donald Trump baru saja terpilih kembali sebagai Presiden AS untuk periode kedua. Ketika itu, ketakutan akan eskalasi perang dagang antara AS dan China semakin menguat, dan tarif AS terhadap barang-barang China memang benar-benar melonjak hingga 145 persen pada April 2025. Dalam situasi seperti itu, memindahkan sebagian rantai pasok ke Vietnam tampak sebagai langkah masuk akal untuk melindungi bisnis dari tekanan tarif yang menghantam produk buatan China secara langsung.
Shein bahkan sempat mendorong para pemasok terbesarnya di China untuk membuka fasilitas produksi di Vietnam, lengkap dengan tawaran harga pengadaan yang lebih tinggi dan jaminan pesanan sebagai insentif. Langkah ini sejalan dengan strategi diversifikasi yang lebih luas, termasuk membangun jalur pasok di Brasil dan Turki.
Titik balik utama datang dari kebijakan perdagangan AS. Pengecualian bea masuk de minimis untuk paket bernilai di bawah 800 dolar AS—yang selama ini menjadi tulang punggung model bisnis Shein—akhirnya benar-benar dihapus, bukan hanya untuk barang dari China, tetapi dari seluruh negara. Trump memerintahkan perubahan ini pada 30 Juli 2025, dan aturan tersebut mulai berlaku sebulan kemudian, tak lama setelah pengecualian khusus untuk barang asal China lebih dulu dicabut.
Dengan hilangnya celah ini, keuntungan strategis memindahkan produksi ke Vietnam pun ikut lenyap. Vietnam tak lagi memberikan keunggulan tarif yang signifikan dibandingkan China, sementara biaya dan kerumitan operasional tetap ada. Dampaknya terasa nyata pada kinerja keuangan Shein: dokumen prospektus awal perusahaan menunjukkan pendapatan dari pasar AS anjlok 14 persen pada kuartal pertama tahun ini akibat berakhirnya fasilitas de minimis tersebut.
Selain faktor tarif, ada pula tekanan politik dari dalam negeri China sendiri. Otoritas di Guangzhou, yang ingin melindungi lapangan kerja lokal, tidak senang dengan upaya Shein mensubsidi pabrik-pabrik China yang membuka fasilitas di Vietnam. Pada pertengahan 2025, Guangzhou Municipal Commerce Bureau dilaporkan memperingatkan Shein agar tidak memindahkan pesanan secara signifikan keluar dari wilayah tersebut. Peringatan ini menegaskan betapa dalamnya akar bisnis Shein tertanam di ekosistem manufaktur Guangdong—mulai dari kain hingga resleting—yang sulit ditiru oleh negara lain, termasuk Vietnam maupun Bangladesh yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Alih-alih terus memperluas jejak di Vietnam, Shein kini justru mempertebal komitmennya pada basis manufaktur China. CEO Sky Xu bahkan tampil di depan publik secara langka pada Februari lalu untuk mengumumkan investasi lebih dari 10 miliar yuan atau sekitar 1,5 miliar dolar AS untuk membangun sistem rantai pasok pintar di Guangzhou dan wilayah Guangdong yang lebih luas. Perusahaan juga tengah mengejar rencana pencatatan saham perdana (IPO) di Hong Kong, setelah upaya IPO di New York dan London kandas, serta setelah sebelumnya memindahkan kantor pusatnya ke Singapura.
Meski demikian, kembalinya Shein ke China bukan tanpa catatan. Sejumlah pemasok domestik yang sempat diminta pindah ke Vietnam ternyata tidak serta-merta kembali sepenuhnya, terutama karena permintaan yang melambat. Banyak pabrik kecil di kawasan yang dijuluki "Shein villages"—seperti Dashi, Tangbu, dan Yuangang—sempat mengalami penurunan pesanan tajam akibat pengalihan produksi ke Vietnam sebelumnya, dan kini menghadapi ketidakpastian baru soal seberapa cepat order akan pulih.
Kasus Shein ini menjadi contoh nyata betapa rapuhnya strategi diversifikasi rantai pasok ketika kebijakan perdagangan berubah dengan cepat dan tidak terduga. Apa yang tampak sebagai langkah mitigasi risiko yang cerdas pada akhir 2024, berbalik menjadi investasi yang kurang optimal begitu aturan main berubah total dalam hitungan bulan. Bagi Shein, pelajarannya jelas: model bisnis ultra-cepat dan murah yang selama ini menjadi andalannya sangat bergantung pada ekosistem pemasok China yang bersedia menerima syarat kerja yang sulit ditemukan di negara lain—sebuah ketergantungan yang, cepat atau lambat, sulit untuk benar-benar dilepaskan.