OpenAI Siapkan Speaker AI “Keping Hoki”, Harga Nyaris Rp5 Juta

H Herman 08 Agu 2026 13 dilihat 5 menit baca

OpenAI dikabarkan tengah mempersiapkan perangkat keras (hardware) berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pertamanya yang ditargetkan meluncur pada 2027. Produk tersebut disebut memiliki bentuk unik menyerupai keping hoki atau hockey puck, tanpa layar, dan dirancang sebagai perangkat AI yang dapat digunakan untuk membantu berbagai aktivitas sehari-hari di dalam rumah.

Menurut laporan Bloomberg News, perangkat tersebut akan dibanderol dengan harga lebih dari US$300. Dengan asumsi nilai tukar sekitar Rp16.300 per dolar AS, harga perangkat itu berada di kisaran Rp4,9 juta. Harga tersebut menempatkan produk OpenAI di segmen perangkat pintar premium, terutama jika dibandingkan dengan sejumlah speaker pintar yang sudah lebih dahulu beredar di pasar.

Perangkat yang masih dalam tahap pengembangan tersebut pada dasarnya merupakan speaker pintar tanpa layar. Desainnya disebut menyerupai donat berukuran kurang lebih seperti keping hoki. Bentuk tersebut bukan hanya ditujukan untuk memberikan identitas visual yang berbeda, tetapi juga dirancang agar perangkat mudah dibawa menggunakan satu tangan ketika pengguna berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain.

Berbeda dari speaker pintar konvensional yang umumnya digunakan untuk memutar musik, memberikan informasi sederhana, atau mengendalikan perangkat rumah pintar, OpenAI ingin menghadirkan perangkat yang memiliki fungsi jauh lebih luas. Perusahaan ingin memosisikannya sebagai AI-first computer, yaitu komputer yang sejak awal dirancang dengan kecerdasan buatan sebagai fungsi utama.

Pengguna nantinya dapat berinteraksi dengan perangkat melalui suara. Sistem akan mengandalkan teknologi percakapan yang mirip dengan mode suara ChatGPT, tetapi menggunakan model AI yang lebih canggih sehingga interaksi diharapkan terasa lebih alami.

Dengan pendekatan tersebut, pengguna tidak perlu selalu menggunakan layar atau mengetik perintah. Mereka cukup berbicara kepada perangkat untuk meminta informasi, mengatur aktivitas, mencari sesuatu, maupun menjalankan berbagai tugas yang didukung oleh sistem AI.

Kemampuan percakapan menjadi salah satu aspek penting dalam perangkat tersebut. OpenAI memiliki pengalaman cukup besar dalam mengembangkan sistem percakapan melalui ChatGPT. Teknologi tersebut memungkinkan AI memahami pertanyaan dalam bahasa sehari-hari dan memberikan respons berdasarkan konteks percakapan.

OpenAI juga disebut ingin membuat perangkat tersebut semakin personal dari waktu ke waktu. Sistem dirancang untuk mempelajari kebiasaan dan preferensi pengguna sehingga respons yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.

Misalnya, perangkat dapat memahami pola aktivitas pengguna di rumah, mengetahui jenis informasi yang sering ditanyakan, atau menyesuaikan cara memberikan jawaban berdasarkan kebiasaan interaksi. Jika dikembangkan dengan baik, kemampuan tersebut dapat membuat speaker AI terasa lebih seperti asisten pribadi dibandingkan sekadar perangkat elektronik rumah.

Namun, kemampuan mempelajari kebiasaan pengguna juga akan membawa tantangan besar dalam hal privasi dan keamanan data. Perangkat yang selalu siap menerima perintah suara berpotensi mengumpulkan sejumlah besar informasi mengenai aktivitas pengguna. Karena itu, OpenAI perlu memastikan data percakapan dan informasi pribadi pengguna dilindungi dengan sistem keamanan yang kuat.

Langkah OpenAI masuk ke pasar perangkat keras juga memiliki arti strategis. Selama ini perusahaan lebih dikenal sebagai pengembang model AI dan aplikasi seperti ChatGPT. Dengan membuat perangkat sendiri, OpenAI dapat memiliki kontrol lebih besar terhadap pengalaman pengguna, mulai dari perangkat keras, sistem operasi, model AI, hingga layanan yang digunakan.

Pasar speaker pintar sendiri sebenarnya bukan kategori baru. Amazon telah lama mengembangkan lini Echo, sedangkan Google memiliki produk Nest. Kedua perusahaan tersebut telah membangun ekosistem perangkat rumah pintar yang memungkinkan pengguna mengontrol berbagai perangkat melalui perintah suara.

Kehadiran OpenAI berpotensi mengubah persaingan karena perusahaan membawa keunggulan pada teknologi AI generatif. Speaker OpenAI tidak hanya ditujukan untuk menjalankan perintah sederhana, tetapi juga dapat menjadi alat untuk melakukan percakapan yang lebih kompleks dan membantu menyelesaikan pekerjaan.

Konsep tersebut dapat membuat batas antara speaker pintar dan komputer semakin tipis. Jika perangkat mampu melakukan berbagai tugas melalui suara, pengguna mungkin tidak lagi membutuhkan komputer atau smartphone untuk aktivitas tertentu.

Misalnya, seseorang dapat meminta perangkat menyusun jadwal, merangkum informasi, memberikan ide, membantu membuat daftar pekerjaan, menjawab pertanyaan, atau mengontrol perangkat rumah pintar. Semua aktivitas tersebut dapat dilakukan melalui percakapan tanpa harus membuka aplikasi secara manual.

Meski demikian, OpenAI masih menghadapi sejumlah tantangan sebelum perangkat tersebut benar-benar diluncurkan. Salah satunya adalah memastikan kualitas respons AI tetap konsisten. Kesalahan informasi atau respons yang tidak sesuai dapat menjadi masalah serius apabila perangkat digunakan sebagai asisten sehari-hari.

Selain itu, perusahaan juga harus memastikan perangkat mampu bekerja dengan cepat. Pengguna biasanya mengharapkan speaker pintar memberikan respons dalam waktu singkat. Keterlambatan dalam memproses perintah dapat membuat pengalaman penggunaan terasa kurang nyaman.

Harga juga menjadi faktor penting. Dengan harga lebih dari US$300 atau sekitar Rp4,9 juta, perangkat OpenAI akan bersaing di segmen premium. Konsumen tentu akan mempertimbangkan apakah kemampuan AI yang ditawarkan cukup bernilai dibandingkan speaker pintar yang lebih murah.

Jika OpenAI mampu memberikan kemampuan yang jauh lebih tinggi dibandingkan speaker konvensional, harga tersebut mungkin dapat diterima oleh konsumen yang membutuhkan teknologi AI untuk aktivitas sehari-hari. Namun, jika fungsi perangkat masih terbatas pada perintah suara sederhana, konsumen kemungkinan akan memilih alternatif yang lebih murah.

Rencana peluncuran pada 2027 juga menunjukkan bahwa OpenAI tidak terburu-buru memasuki pasar hardware. Perusahaan memiliki waktu untuk menyempurnakan desain, sistem AI, keamanan, serta integrasi dengan berbagai layanan sebelum produk tersedia untuk konsumen.

Kehadiran perangkat ini pada akhirnya dapat menjadi langkah besar dalam evolusi AI. Jika smartphone selama bertahun-tahun menjadi pusat aktivitas digital manusia, OpenAI tampaknya ingin menciptakan bentuk baru perangkat komputasi yang lebih mengutamakan interaksi alami melalui suara.

Speaker berbentuk keping hoki tersebut bukan sekadar produk tambahan bagi OpenAI. Perangkat itu dapat menjadi pintu masuk perusahaan ke pasar komputer pribadi berbasis AI dan rumah pintar. Dengan menggabungkan teknologi percakapan, model AI canggih, serta kemampuan memahami kebiasaan pengguna, OpenAI berupaya menciptakan pengalaman komputasi yang lebih sederhana dan personal.

Jika berhasil, perangkat AI pertama OpenAI ini berpotensi membuka babak baru persaingan industri teknologi. Amazon dan Google telah lama membangun pasar speaker pintar, sementara OpenAI datang dengan pendekatan yang lebih berfokus pada AI generatif. Tahun 2027 pun dapat menjadi momentum penting untuk melihat apakah konsep “AI-first computer” benar-benar mampu mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan teknologi di rumah.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
H

Ditulis oleh

Herman

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Cara Aktifkan Kuota Rollover di Telkomsel, Indosat dan XL Axiata

Cara Aktifkan Kuota Rollover di Telkomsel, Indosat dan XL Axiata

Kuota internet menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat di tengah semakin tingginya aktivitas digital. Mulai dari bekerja, belajar, berkomunikasi, menonton video, bermain gim, hingga mengakses media sosial, hampir seluruh aktivitas tersebut membutuhkan koneksi internet. Karena itu, ketika masa berlaku paket...

08 Agu 2026

Alphabet Pemilik Google Himpun Dana Rp447 Triliun dari Obligasi

Alphabet Pemilik Google Himpun Dana Rp447 Triliun dari Obligasi

Alphabet Inc., perusahaan induk Google, kembali menunjukkan besarnya kebutuhan pendanaan untuk menopang ekspansi bisnis teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Perusahaan tersebut berhasil menghimpun dana sebesar US$25 miliar atau sekitar Rp447,97 triliun melalui penerbitan obligasi dengan peringkat investment-grade . Penawaran...

08 Agu 2026

Apple Bakal Rilis HP Lipat iPhone Ultra, Intip Rumor Spek Terbaru

Apple Bakal Rilis HP Lipat iPhone Ultra, Intip Rumor Spek Terbaru

Apple dikabarkan tengah mempersiapkan langkah besar untuk memasuki pasar smartphone lipat melalui perangkat yang disebut-sebut sebagai iPhone Ultra . Jika rumor tersebut benar, produk ini akan menjadi ponsel lipat pertama dalam sejarah Apple sekaligus menandai masuknya perusahaan ke segmen yang...

08 Agu 2026

Google Jatuh Pasca Serangkaian Ilmuwan Pentingnya Memilih Pergi

Google Jatuh Pasca Serangkaian Ilmuwan Pentingnya Memilih Pergi

Google kembali menghadapi tekanan di tengah persaingan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin ketat. Sejumlah ilmuwan dan peneliti penting yang selama bertahun-tahun berkontribusi terhadap perkembangan teknologi Google dilaporkan meninggalkan perusahaan. Kepergian para talenta tersebut menimbulkan kekhawatiran investor mengenai kemampuan...

08 Agu 2026