Pasar aset kripto global menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan dalam beberapa hari terakhir, setelah sempat tertekan hebat oleh ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Bitcoin, sebagai barometer utama pasar kripto, berhasil bangkit dari zona tekanan dan kembali menunjukkan momentum ofensif yang kuat, memberikan sinyal positif bagi para pelaku pasar yang sempat dilanda kecemasan.
Sepekan sebelum rebound terjadi, Bitcoin sempat diperdagangkan di kisaran 79.600 dolar AS pada 7 September 2026, sekitar 37 persen di bawah rekor tertingginya pada Oktober 2025. Tekanan ini tidak lepas dari kombinasi berbagai faktor makroekonomi yang saling bertumpuk. Pasar sempat memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September mencapai sekitar 57 hingga 58 persen, meningkat tajam usai pidato hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.
Kekhawatiran investor semakin diperparah oleh lonjakan harga energi global. Harga minyak Brent sempat kembali menembus level di atas 90 dolar AS per barel, sementara cadangan minyak strategis Amerika Serikat turun ke level terendah sejak 1982, menambah risiko inflasi yang membebani ekspektasi kebijakan moneter. Bahkan sempat muncul proyeksi yang lebih ekstrem, di mana peluang kenaikan suku bunga The Fed sempat dipatok mendekati 85 persen menjelang keputusan resmi, didorong oleh data inflasi Agustus yang panas, sementara imbal hasil obligasi jangka panjang AS mendekati level 5 persen turut menekan aset-aset berisiko seperti Bitcoin yang tidak menghasilkan yield.
Tak hanya faktor moneter dan energi, sentimen pasar kripto juga sempat terganggu oleh perkembangan regulasi. Kegagalan RUU CLARITY Act yang berfokus pada kripto di Senat AS turut menambah lapisan ketidakpastian yang menekan pasar secara lebih luas.
Titik balik utama terjadi ketika The Fed akhirnya mengambil keputusan resminya. Bitcoin berhasil melonjak tajam dari kisaran 75.000 hingga 76.000 dolar AS menuju sekitar 80.770 dolar AS, mencatatkan kenaikan sekitar 8,04 persen, tak lama setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga pada 17 September yang sebenarnya sudah diantisipasi pasar sebelumnya. Begitu keputusan tersebut resmi diumumkan, ketidakpastian yang membayangi para trader pun mereda, membuka jalan bagi kembalinya posisi risk-on di kalangan investor.
Fenomena ini sejalan dengan pola historis yang kerap terjadi menjelang dan sesudah pertemuan FOMC. Analis kripto Ali Martinez bahkan sempat mengingatkan bahwa Bitcoin cenderung mengalami volatilitas tinggi selama pekan pertemuan The Fed, sering kali diikuti oleh koreksi singkat pasca pengumuman sebelum akhirnya menemukan arah baru.
Selain redanya tekanan dari sisi kebijakan moneter, sejumlah faktor fundamental turut memperkuat narasi pemulihan Bitcoin. Salah satu yang paling mencolok adalah derasnya arus masuk dana institusional melalui produk investasi berbasis Bitcoin. Spot Bitcoin ETF mencatatkan sekitar 3,8 miliar dolar AS dalam bentuk aliran dana masuk bersih selama tiga pekan terakhir, menjadi periode terkuat sepanjang 2026, menunjukkan bahwa permintaan dari investor institusional yang teregulasi tetap kuat meski ekspektasi suku bunga cenderung mengetat.
Data on-chain turut memberikan sinyal yang konstruktif. Analis CryptoQuant mencatat bahwa tidak terlihat lonjakan besar pembelian ritel di sekitar level terendah Bitcoin baru-baru ini, berbeda dengan pola pada 2022 ketika investor ritel berulang kali membeli saat harga masih terus turun. Kondisi ini dinilai justru positif, karena berarti masih banyak calon pembeli yang berada di pinggir lapangan dan berpotensi mendorong permintaan lanjutan apabila tren kenaikan berlanjut.
Di sisi lain, tekanan politik terhadap The Fed juga menjadi salah satu variabel yang terus dipantau pasar. Presiden Donald Trump dilaporkan terus mendesak The Fed untuk memangkas suku bunga, sebuah langkah yang jika terealisasi berpotensi memberikan dorongan tambahan bagi harga Bitcoin ke depan.
Meski rebound ini memberikan optimisme baru, sejumlah analis mengingatkan bahwa pemulihan tersebut belum sepenuhnya membebaskan Bitcoin dari sensitivitasnya terhadap kebijakan The Fed dan pergerakan imbal hasil obligasi. Bitcoin saat ini masih tercatat sekitar 50 persen di bawah puncak tertingginya pada Oktober 2025 yang sempat menembus di atas 126.000 dolar AS, sehingga pemulihan yang terjadi lebih tepat disebut sebagai pantulan dari titik rendah dua tahunan, bukan kelanjutan tren bullish sebelumnya.
Ke depan, pasar akan terus mencermati data inflasi, arah kebijakan The Fed selanjutnya, serta perkembangan geopolitik yang memengaruhi harga energi. Selama arus dana institusional tetap deras dan tekanan makro tidak kembali memburuk secara drastis, momentum ofensif Bitcoin berpeluang bertahan dalam jangka pendek ke depan.