Industri panel surya China, yang selama bertahun-tahun menjadi kebanggaan nasional sekaligus pemasok utama dunia, kini justru bergulat dengan krisis yang mereka ciptakan sendiri. Kelebihan kapasitas produksi yang masif memicu perang harga berkepanjangan, membuat banyak perusahaan besar mencatatkan kerugian dalam jumlah fantastis. Kondisi inilah yang akhirnya mendorong pemerintah pusat di Beijing untuk turun tangan langsung demi menyelamatkan salah satu sektor strategis energi terbarukan tersebut.
Selama satu dekade terakhir, China membangun ekosistem manufaktur panel surya raksasa berkat kombinasi insentif finansial pemerintah, lahan murah, dan pinjaman berbunga rendah. Hasilnya, negara ini kini menguasai sekitar 80 persen kapasitas produksi modul surya dunia. Namun keberhasilan ini berubah menjadi bumerang. Kapasitas produksi tahunan panel surya China dilaporkan telah melonjak melampaui 1.000 gigawatt, jauh melebihi permintaan instalasi global yang hanya berkisar 600 gigawatt per tahun.
Ketimpangan besar antara pasokan dan permintaan ini memicu persaingan harga yang sangat sengit di antara para produsen. Harga sejumlah komponen panel surya bahkan sempat anjlok hampir 30 persen dalam periode satu tahun hingga pertengahan tahun lalu, sementara harga modul turun sekitar 42 persen dari 2023 ke 2024. Margin keuntungan sejumlah produk pun jatuh ke wilayah negatif, membuat perusahaan terjebak dalam situasi ironis: semakin banyak menjual, semakin besar pula kerugian yang mereka tanggung.
Dampaknya sangat terasa pada laporan keuangan. Lima perusahaan panel surya besar yang tercatat di bursa dilaporkan mengalami kerugian gabungan mencapai sekitar 12 hingga 13,7 miliar yuan hanya dalam paruh pertama tahun ini. Dua raksasa industri, Longi Green Energy dan Tongwei, disebut menyumbang porsi kerugian terbesar dalam kelompok tersebut. Tekanan finansial ini bahkan mulai merembet ke rantai pasok di sektor hilir.
Menghadapi situasi tersebut, otoritas China mulai mengambil sikap tegas. Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China berjanji membatasi perang harga sekaligus mendorong penghapusan kelebihan kapasitas produksi di industri tenaga surya. Badan Energi Nasional China turut menegaskan komitmen untuk mempercepat upaya menyeimbangkan produksi dan permintaan, dengan fokus pada peningkatan kualitas di sepanjang rantai pasok surya.
Kepala Badan Energi Nasional, Wang Hongzhi, menekankan bahwa industri ini perlu bertransformasi dari model bisnis yang berorientasi pada sumber daya menjadi lebih berorientasi pada keuntungan. Pengendalian biaya, efisiensi operasional, serta strategi penawaran yang lebih cerdas dinilai menjadi kunci agar perusahaan dapat bertahan di tengah persaingan ketat tanpa harus saling menjatuhkan harga.
Respons pasar terhadap sinyal intervensi ini cukup positif. Saham sejumlah perusahaan energi surya China, termasuk JA Solar, sempat melonjak signifikan setelah kabar rencana pemerintah untuk meredam perang harga ini mencuat. Kenaikan tersebut mencerminkan optimisme investor bahwa campur tangan pemerintah dapat membantu memulihkan stabilitas harga dan profitabilitas industri.
Meski demikian, upaya menertibkan perang harga ini bukan tanpa hambatan. Sebelumnya, sejumlah produsen sempat mencoba menyepakati pembatasan kuota produksi serta menetapkan batas bawah harga secara mandiri. Namun kesepakatan semacam ini terbukti rapuh; hanya dalam hitungan minggu, ada saja perusahaan yang dituding melanggar komitmen tersebut demi mengejar pangsa pasar.
Upaya koordinasi antarperusahaan ini bahkan sempat menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan pejabat China sendiri, yang mewanti-wanti potensi praktik semacam ini berubah menjadi bentuk kartel yang justru melanggar prinsip persaingan sehat. Di sisi lain, pemerintah juga mulai mengurangi berbagai bentuk dukungan yang selama ini dinikmati industri, sehingga penambahan kapasitas produksi baru menjadi semakin sulit dijustifikasi secara ekonomi.
Sejumlah kalangan menilai tekanan yang dihadapi industri panel surya China kali ini berbeda dari krisis serupa yang pernah terjadi pada 2018 lalu. Jika sebelumnya persoalan bersifat siklus biasa yang mereda seiring pulihnya permintaan, tantangan saat ini dinilai lebih kompleks karena turut diperparah oleh pasar domestik yang mulai jenuh serta meningkatnya proteksionisme dari negara-negara tujuan ekspor.
Meski begitu, di tengah tekanan domestik, permintaan ekspor panel surya China ke sejumlah pasar Asia Tenggara justru menunjukkan tren peningkatan, seiring makin banyak negara yang mempercepat transisi energi bersih. Bagaimana pemerintah China akan menyeimbangkan antara menjaga stabilitas industri di dalam negeri dan mempertahankan dominasi ekspor global akan menjadi penentu arah industri panel surya raksasa ini dalam beberapa tahun mendatang.