Terbaru
Mantan Punggawa Jakarta Pertamina Enduro, Widya Rayi Fadhilah Lail, Tutup Usia Ikuti Arahan Pemerintah Daerah, Pagar Tinggi 2,5 Meter di Mal Kokas dan Pakuwon Resmi Dicopot Regulasi Pinjol dan BNPL 2026: Bunga Turun Drastis, Perlindungan Konsumen Maksimal Rupiah Menguat Tinggalkan Level Psikologis Rp18.000 IHSG Dibuka Menguat di Awal Pekan Kesempatan Langsung Nonton HUT RI, Pemerintah Buka War Tiket untuk 8.100 Masyarakat Umum Resmi Turun! Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terkoreksi per 1 Agustus 2026, Ini Daftar Lengkap dan Faktor Penyebabnya Tragedi Laut Jawa: Kapal Feri Mutiara Sentosa II Terbakar, 5 Tewas dan 37 Penumpang Masih Hilang Krisis Imigrasi Memuncak! Sekitar 60 Ribu Migran Serentak Terobos Perbatasan Spanyol Demi Masuk Eropa Mantan Punggawa Jakarta Pertamina Enduro, Widya Rayi Fadhilah Lail, Tutup Usia Ikuti Arahan Pemerintah Daerah, Pagar Tinggi 2,5 Meter di Mal Kokas dan Pakuwon Resmi Dicopot Regulasi Pinjol dan BNPL 2026: Bunga Turun Drastis, Perlindungan Konsumen Maksimal Rupiah Menguat Tinggalkan Level Psikologis Rp18.000 IHSG Dibuka Menguat di Awal Pekan Kesempatan Langsung Nonton HUT RI, Pemerintah Buka War Tiket untuk 8.100 Masyarakat Umum Resmi Turun! Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terkoreksi per 1 Agustus 2026, Ini Daftar Lengkap dan Faktor Penyebabnya Tragedi Laut Jawa: Kapal Feri Mutiara Sentosa II Terbakar, 5 Tewas dan 37 Penumpang Masih Hilang Krisis Imigrasi Memuncak! Sekitar 60 Ribu Migran Serentak Terobos Perbatasan Spanyol Demi Masuk Eropa

Rupiah Menguat Tinggalkan Level Psikologis Rp18.000 IHSG Dibuka Menguat di Awal Pekan

D Dina 03 Agu 2026 0 dilihat 4 menit baca

Jakarta – Pasar keuangan Indonesia mengawali pekan pertama bulan Agustus 2026 dengan sentimen positif. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berhasil menguat dan meninggalkan level psikologis Rp18.000 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka menguat pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026. Penguatan ini didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah pasca pembatalan rencana serangan AS terhadap Iran, namun para pelaku pasar masih mencermati sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis pada siang hari.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 0,22 persen atau 39 poin ke posisi Rp17.983 per dolar AS. Penguatan ini melanjutkan tren positif pada akhir pekan lalu, di mana rupiah ditutup menguat 0,49 persen ke level Rp18.022 per dolar AS pada Jumat, 31 Juli 2026. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah 0,22 persen ke posisi 99,697.

Sentimen Global dan Tekanan Data Domestik

Penguatan rupiah terutama didorong oleh harapan akan terciptanya perdamaian di kawasan Timur Tengah. Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan pembatalan rencana serangan terhadap Iran. Trump mengumumkan keputusan tersebut pada Minggu, 2 Agustus 2026, menyusul permintaan dari Teheran dan negara-negara tetangga di kawasan tersebut. Dalam unggahan di platform media sosial Truth Social, Trump menyatakan bahwa semua pihak telah menyetujui batas-batas awal menuju kesepakatan damai yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh serta penghentian ancaman nuklir Iran.

Meredanya ketegangan geopolitik ini mengurangi permintaan terhadap aset aman seperti dolar AS, sehingga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat. Penguatan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang bergerak di zona hijau terhadap dolar AS, seperti yuan China, yen Jepang, dan won Korea Selatan.

Meskipun dibuka menguat, para analis memperingatkan bahwa penguatan rupiah masih akan terbatas. Lukman Leong memprakirakan nilai tukar rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS. Keterbatasan penguatan ini disebabkan oleh para investor yang masih menantikan rilis data-data ekonomi domestik penting yang dijadwalkan pada siang hari, yakni data neraca perdagangan dan inflasi. Neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 diperkirakan akan kembali mencatat defisit sekitar 0,79 miliar dolar AS. Sementara itu, inflasi bulanan diprediksi naik 0,1 persen secara bulanan, sedangkan inflasi tahunan diperkirakan melandai menjadi 3,2 persen.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, bahkan memperkirakan rupiah masih akan turun mendekati area Rp18.250 hingga Rp18.300 per dolar AS seiring banyaknya data ekonomi domestik yang akan dirilis. Menurutnya, neraca perdagangan yang berpotensi defisit dapat memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan rupiah ke depan. Di sisi lain, Tim Mirae Asset Sekuritas menilai Bank Indonesia (BI) mampu membatasi pelemahan rupiah dengan langkah stabilisasi yang dilakukannya, termasuk intervensi di pasar valuta asing. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tercatat turun di seluruh tenor, dengan imbal hasil tenor 10 tahun bertahan di 7,34 persen, sehingga daya tarik imbal hasil SBN Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian eksternal.

IHSG Menguat di Tengah Aliran Dana Asing yang Masih Net Sell

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Senin pagi. IHSG berada di level 6.272,61, naik 36,61 poin atau 0,59 persen dibandingkan penutupan Jumat lalu di level 6.236,00. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turut menguat 6,05 poin atau 0,97 persen ke posisi 627,29.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa IHSG berpotensi bergerak variatif dipicu oleh kombinasi sentimen dari tingkat global maupun domestik. "Selama IHSG mampu bertahan di atas 6.200-6.180, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju 6.244 sebagai resistance terdekat, dan apabila berhasil breakout, penguatan berpotensi berlanjut ke 6.315 hingga 6.377," ujarnya.

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka pada perdagangan hari ini. Namun, ia mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai potensi koreksi apabila indeks gagal menembus area resistansi berikutnya. "IHSG hari ini berpeluang melanjutkan kenaikan menuju level resistansi kuat di 6.300. Namun, apabila belum mampu bertahan di atas level tersebut, IHSG berpotensi kembali mengalami koreksi," kata Fanny. Ia memperkirakan level support IHSG berada di kisaran 6.120 hingga 6.200, sementara level resistance diproyeksikan berada pada rentang 6.270 hingga 6.300.

Meskipun IHSG dibuka menguat, aliran dana asing masih mencatatkan jual bersih atau net sell sekitar Rp35 miliar di pasar saham. Berdasarkan data BNI Sekuritas, saham yang paling banyak dilepas investor asing meliputi BBCA, AMMN, ANTM, UNTR, dan TLKM. Kondisi ini menunjukkan investor masih bersikap selektif di tengah penguatan indeks. Dari sisi eksternal, sentimen pasar masih didominasi oleh optimisme terhadap sektor teknologi setelah laporan keuangan Amazon melampaui ekspektasi, namun investor tetap mencermati sikap hawkish The Fed serta ketegangan dagang AS-China yang kembali meningkat. Dengan berbagai sentimen yang saling bertolak belakang, pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh bagaimana pasar merespons rilis data-data ekonomi domestik yang telah dijadwalkan.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
D

Ditulis oleh

Dina

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait