"Scroll Terus Sampai Pagi", Bahaya Diam-Diam Doomscrolling Buat Otak Remaja Kita

N Nair 24 Mei 2026 12 dilihat 2 menit baca

Bukan sekadar begadang — ada proses neurologis yang terjadi ketika remaja mengonsumsi berita buruk tanpa henti di tengah malam. Dan dampaknya lebih serius dari yang kita kira.

Jam 2 pagi. Cahaya biru dari layar menerangi wajah seorang remaja 16 tahun di kamar gelap. Jari terus menggeser — bencana di sini, konflik di sana, skandal di kolom komentar. Dia tahu dia harus tidur. Tapi entah kenapa, tidak bisa berhenti.

Inilah doomscrolling: kebiasaan mengonsumsi konten negatif secara kompulsif, terutama menjelang tidur. Dan menurut peneliti dari beberapa universitas terkemuka, ini bukan sekadar kebiasaan buruk biasa.

Ketika otak remaja — yang masih dalam fase perkembangan kritis — terus-menerus dibanjiri stimulus negatif, sistem amigdala (pusat respons ketakutan) bekerja lembur. Hasilnya: kecemasan kronis, kualitas tidur buruk, dan yang paling mengkhawatirkan, berkurangnya kemampuan untuk memproses emosi secara sehat.

Yang memperburuk situasi: algoritma media sosial dirancang untuk membuat pengguna terus menggulir. Konten yang memancing emosi kuat — marah, takut, terkejut — mendapat lebih banyak tayangan. Dan emosi-emosi inilah yang paling mudah membuat kita terjebak.

Solusinya bukan serta-merta "larang HP." Para psikolog anak lebih menyarankan pendekatan literasi digital — mengajarkan remaja mengenali pola ini dalam diri mereka sendiri. Bukan diproteksi dari informasi, tapi dibekali cara merespons informasi dengan lebih bijak. Sebelum otaknya terbiasa diatur oleh notifikasi, bukan oleh kesadarannya sendiri.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
N

Ditulis oleh

Nair

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait