Jakarta lagi panas-panasnya siang ini. Sambil ngadem di bawah pohon pinggir jalan, Arief Pratama (42) lagi fokus nungguin orderan masuk di aplikasi ojolnya. Pria yang udah sepuluh tahun narik motor buat cari nafkah ini ternyata bukan sekadar driver biasa. Di tongkrongan sesama ojol, Arief dikenal sebagai orang yang kritis banget dan hobi menganalisis masalah sosial-ekonomi, semuanya berdasarkan sudut pandang dia selama di jalanan.
Baru-baru ini, pernyataan Arief menuai perhatian. Ia secara terang-terangan menyebut Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sekaligus pendiri Gojek, Nadiem Makarim, sebagai "Bapak Ekonomi Kreatif Jalanan". Gelar yang cukup tidak lazim itu bukan tanpa alasan. Bagi Arief dan mungkin jutaan pekerja lainnya, Nadiem telah melakukan revolusi diam-diam yang mengubah wajah perekonomian bawah.
“Banyak orang mikir ekonomi kreatif itu cuma seputar kafe-kafe mahal, kain batik, desain grafis, atau film bioskop. Padahal kalau mau jujur, di jalanan pun ekonomi kreatif udah ngebut banget berkat konsep yang dibawa Mas Nadiem,” kata Arief. Matanya terlihat bersemangat saat membagikan pemikirannya itu sambil santai di jam istirahat.
Arief lalu menceritakan kisahnya sepuluh tahun lalu. Sebelum era aplikasi ojek daring, hidupnya sangat bergantung pada keberuntungan semata. Ia harus mangkal berjam-jam di pangkalan, berharap ada penumpang yang hendak bepergian. Penghasilannya fluktuatif dan sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Stigma sebagai 'preman pangkalan' atau 'sopir buang-buang waktu' pun kerap melekat.
Namun, peta gerak itu berubah total saat platform ojek daring mulai menginvasi jalanan. Di mata Arief, terobosan Nadiem bukan sekadar memindahkan aktivitas berburu penumpang dari pangkalan ke layar ponsel. Jauh melampaui hal itu, Nadiem telah merombak total dan membangun kembali cara pandang publik dalam menilai martabat serta eksistensi pekerjaan informal.
"Ini yang saya sebut kreatif. Mas Nadiem melihat potensi di sesuatu yang selama ini dianggap remeh. Driver ojol itu sekarang bukan cuma soal antar orang. Ada GoFood, ada GoSend, ada GoCar. Kami dipaksa berpikir kreatif untuk memaksimalkan waktu dan strategi agar orderan terus masuk," jelas Arief.
Arief juga bilang kalau istilah 'Ekonomi Kreatif Jalanan' itu pas banget. Soalnya, ekosistem yang dibangun Gojek waktu itu bener-bener bikin para driver jadi ujung tombak buat majuin UMKM. Tiap hari, driver ojol inilah yang jadi penghubung setia antara tukang jajanan kaki lima, warung nasi padang, sampai restoran mewah sekalipun dengan para pembeli mereka.
"Tanpa sadar, kami ini menjadi kurir utama ekonomi kreatif kuliner. Warung kecil yang masakannya enak tapi nggak punya modal buka cabang, bisa tembus pasar lebih luas karena diantar oleh kami. Kami juga diajarkan untuk kreatif berkomunikasi dengan pelanggan, memilih rute tercepat, sampai mengatur jadwal istirahat. Ini kan pure skill dan kreativitas jalanan," tambahnya.
Di samping aspek ekonomi, Arief menyentuh sisi kemanusiaan yang selama ini jarang dikupas. Ia menilai Nadiem telah mengangkat derajat dan memberikan harga diri baru bagi kaum marjinal. Menjadi pengemudi ojol kini bukan lagi profesi tanpa identitas; mereka bangga karena bernaung di bawah bendera perusahaan besar dengan jaminan keselamatan kerja yang pasti. Dampaknya, mentalitas para mitra ini berevolusi, dari yang awalnya sekadar bertahan hidup demi isi perut esok hari, kini berani melangkah untuk merancang masa depan keluarga.
Kendati saat ini Nadiem Makarim telah menanggalkan jabatan CEO Gojek demi mendedikasikan diri pada dunia pendidikan, Arief meyakini warisan sejarah yang ia torehkan di aspal jalanan Indonesia tidak akan lekang oleh zaman. Gelombang disrupsi yang dibawa Nadiem terbukti telah menanamkan kesadaran kolektif: bahwa siapapun, dari kelas sosial manapun, memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi motor penggerak ekonomi modern, asalkan mereka siap beradaptasi dan terus memelihara nalar kreatif.
"Jadi, wajar kan kalau saya sebut dia Bapak Ekonomi Kreatif Jalanan? Karena karya besarnya memang nyata kami rasakan setiap hari, menembus kemacetan, menembus hujan, dan menembus batasan sosial yang selama ini membelenggu kami," pungkas Arief, sambil tersenyum lebar seraya menyalakan motornya, menerjang kembali padatnya arus lalu lintas Jakarta demi mengais rezeki.