Jakarta — Sekolah Cendekia Harapan resmi memperkenalkan program “Cerdas Finansial Sejak Dini”, sebuah kelas literasi finansial yang menyasar siswa kelas 7 hingga 9 serta orang tua. Peluncuran program berlangsung di aula sekolah pada Rabu (21/10/2026) dan dihadiri sekitar 180 siswa, perwakilan orang tua, guru, serta sejumlah alumni yang akan terlibat sebagai pengajar tamu. Program ini dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman dasar tentang pengelolaan uang, menabung, menyusun prioritas, dan merencanakan kebutuhan masa depan.
Kepala Sekolah Cendekia Harapan, Rina Marlina, mengatakan bahwa program tersebut lahir dari keprihatinan terhadap meningkatnya gaya konsumtif di kalangan remaja. Menurutnya, banyak siswa telah terbiasa menggunakan uang saku untuk kebutuhan yang bersifat sementara, terutama karena kemudahan transaksi digital dan tawaran hiburan daring. Karena itu, literasi finansial perlu diajarkan sejak sekolah agar siswa tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga bijak dalam mengambil keputusan keuangan.
“Kami ingin siswa memahami bahwa uang bukan hanya untuk dibelanjakan, tetapi juga dikelola dan direncanakan. Orang tua dilibatkan agar pembelajaran di sekolah selaras dengan kebiasaan di rumah. Jadi bukan sekadar materi di kelas, tetapi latihan yang diterapkan setiap hari,” ujar Rina di Jakarta.
Program ini akan berlangsung selama satu semester dengan metode diskusi, simulasi anggaran, dan proyek mini. Materi yang diberikan mencakup perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, pencatatan pengeluaran harian, penyusunan anggaran sederhana, pentingnya menabung, serta risiko belanja daring dan pinjaman konsumtif. Setiap siswa diminta menyusun rencana tabungan sederhana dan mencatat pengeluaran selama beberapa pekan. Hasilnya kemudian dibahas bersama guru pendamping untuk melihat kebiasaan yang perlu diperbaiki.
Sementara itu, orang tua mengikuti sesi pendampingan satu kali per bulan. Sesi ini membahas cara mendampingi anak tanpa memaksakan kehendak, memberikan uang saku secara bertahap, serta membangun kebiasaan menabung di rumah. Sekolah juga menyediakan buku catatan keuangan sederhana yang dapat digunakan siswa dan orang tua untuk mengevaluasi pengeluaran mingguan.
Salah satu orang tua peserta, Dwi Prasetyo, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai kelas literasi finansial membantu anaknya lebih disiplin dalam mengelola uang saku. Menurutnya, anaknya kini lebih terbuka ketika membedakan keinginan dan kebutuhan.
“Anak jadi lebih terbuka soal keinginan dan kebutuhan. Kami di rumah juga ikut belajar membuat prioritas. Dulu uang saku cepat habis untuk jajan dan top-up permainan, sekarang ada sebagian yang disisihkan untuk tabungan,” katanya.
Seorang siswa kelas 8, Nadia Putri, mengaku sebelumnya tidak pernah mencatat pengeluaran. Setelah mengikuti simulasi anggaran, ia mulai memahami bahwa pengeluaran kecil yang dilakukan setiap hari dapat menghabiskan uang saku dalam waktu singkat. Nadia kini mencoba menyisihkan sekitar 30 persen uang sakunya untuk tabungan dan kebutuhan sekolah.
Sekolah juga menggandeng komunitas alumni dan praktisi keuangan independen sebagai pengajar tamu. Menurut koordinator program, Andi Saputra, pengajar tamu diminta tidak mempromosikan produk keuangan tertentu. Materi diarahkan pada pemahaman konsep, kebiasaan mencatat, dan pengambilan keputusan yang rasional. “Literasi finansial bukan ajakan membeli produk tertentu. Fokusnya adalah agar siswa mampu berpikir sebelum membelanjakan uang,” ujar Andi.
Pengamat pendidikan, Maya Kurniasih, menilai program berbasis sekolah akan lebih efektif jika melibatkan orang tua dan praktik nyata. Menurutnya, pembelajaran literasi finansial tidak cukup dengan ceramah, tetapi perlu simulasi dan pendampingan berkelanjutan. Ia juga mengingatkan agar program semacam ini tetap netral dan tidak menjadi ajang promosi produk keuangan komersial.
Sekolah berencana mengevaluasi program pada akhir semester melalui tes awal dan akhir, penilaian proyek, serta observasi perubahan kebiasaan siswa. Jika hasilnya positif, sekolah akan membuka kelas serupa untuk jenjang kelas 10 dan menyusun modul yang dapat dibagikan kepada sekolah lain. Rina berharap program ini dapat menjadi contoh bagi sekolah lain yang ingin mengembangkan pembelajaran berbasis keterampilan hidup, tanpa melibatkan kepentingan komersial tertentu.