Square Enix Siapkan AI untuk Otomatisasi QA Game, Targetkan 70 Persen Pekerjaan

A Ammar 13 Agu 2026 0 dilihat 8 menit baca

Square Enix mulai mengambil langkah yang cukup serius dalam pemanfaatan kecerdasan buatan untuk proses pengembangan game. Perusahaan asal Jepang tersebut sedang mengembangkan teknologi berbasis generative AI yang ditujukan untuk membantu pekerjaan Quality Assurance (QA) dan debugging dalam pengembangan game.

Langkah ini dilakukan melalui kerja sama dengan Matsuo-Iwasawa Laboratory dari University of Tokyo. Dalam rencana yang diumumkan Square Enix, teknologi tersebut ditargetkan mampu mengotomatisasi sekitar 70 persen pekerjaan QA dan debugging dalam pengembangan game pada akhir 2027. (Square Enix)

Kabar ini cukup menarik karena QA merupakan salah satu bagian yang sering kali memakan banyak waktu dalam proses pembuatan game. Sebelum sebuah game dirilis, tim harus memastikan berbagai fitur berjalan sebagaimana mestinya, mencari bug, menguji kondisi yang tidak biasa, dan memastikan perubahan terbaru tidak justru merusak sistem yang sebelumnya sudah berfungsi.

Dengan semakin kompleksnya game modern, pekerjaan tersebut tentu tidak menjadi semakin sederhana.

Square Enix Ingin AI Membantu Proses QA

Berdasarkan laporan perkembangan rencana bisnis jangka menengahnya, Square Enix memang sedang mendorong penggunaan AI di berbagai bagian perusahaan. Salah satu proyek yang secara khusus sedang dikembangkan adalah teknologi otomatisasi QA game menggunakan generative AI.

Proyek tersebut dikerjakan bersama Matsuo-Iwasawa Laboratory dari University of Tokyo. Tim yang terlibat terdiri dari lebih dari sepuluh orang, termasuk peneliti dari laboratorium tersebut dan engineer dari grup Square Enix. (Square Enix)

Tujuan utamanya bukan sekadar membuat AI bermain game.

Square Enix ingin teknologi tersebut membantu mengotomatisasi pekerjaan yang selama ini harus dilakukan berulang kali oleh tim QA. Dengan begitu, sebagian pekerjaan teknis yang membutuhkan banyak waktu bisa dikerjakan sistem secara otomatis.

Kalau target 70 persen tersebut benar-benar tercapai pada akhir 2027, perubahan terhadap alur kerja pengembangan game Square Enix bisa cukup besar.

Kenapa QA Game Membutuhkan Banyak Waktu?

Bagi pemain, pekerjaan QA mungkin terlihat sederhana. Tinggal memainkan game, menemukan bug, kemudian melaporkannya.

Kenyataannya jauh lebih rumit.

Game modern memiliki begitu banyak kemungkinan interaksi. Satu karakter saja bisa memiliki puluhan atau bahkan ratusan kondisi berbeda. Belum lagi sistem pertarungan, inventory, quest, NPC, menu, cutscene, save system, multiplayer, hingga interaksi dengan lingkungan.

Satu perubahan kecil pada kode juga bisa menghasilkan masalah di tempat lain.

Misalnya, developer memperbaiki sebuah bug pada sistem inventory. Perubahan tersebut terlihat berhasil ketika diuji secara normal. Namun setelah beberapa skenario tertentu dilakukan, pemain mungkin justru kehilangan item, mengalami crash, atau tidak bisa melanjutkan quest.

Masalah seperti ini yang membuat pengujian game menjadi pekerjaan yang cukup melelahkan.

Tim QA harus mengulang berbagai skenario berkali-kali untuk memastikan sebuah fitur benar-benar aman.

Di sinilah otomatisasi mulai terasa masuk akal.

AI Bisa Menjalankan Pengujian Secara Berulang

Salah satu potensi terbesar teknologi seperti ini adalah kemampuan menjalankan tugas berulang tanpa mengalami kelelahan seperti manusia.

Sebuah sistem AI dapat diberikan skenario tertentu kemudian diminta mengulanginya berkali-kali. Misalnya, masuk ke area tertentu, berbicara dengan NPC, mengambil item, membuka menu, melakukan pertarungan, kemudian mencoba kondisi lain.

Jika dilakukan secara manual, proses tersebut bisa memakan waktu cukup panjang.

Sementara itu, sistem otomatis dapat menjalankan pengujian dalam jumlah besar dan memberikan laporan ketika menemukan perilaku yang tidak sesuai.

Teknologi AI untuk game QA sendiri memang sedang menjadi bidang penelitian yang berkembang. Salah satu penelitian pada 2025 bahkan mengembangkan agen berbasis large language model untuk menguji game MMORPG dan melaporkan kemampuan mendeteksi sejumlah bug yang tidak ditemukan pendekatan pengujian sebelumnya. (arXiv)

Namun, penelitian tersebut tidak berarti Square Enix menggunakan sistem yang sama. Ini hanya menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk pengujian game memang sedang menjadi area yang aktif dikembangkan.

Bukan Berarti Tester Manusia Akan Hilang

Bagian ini mungkin menjadi hal yang paling menarik sekaligus paling mudah disalahartikan.

Target otomatisasi 70 persen tidak berarti Square Enix berencana menghilangkan seluruh tim QA manusia.

Justru lebih masuk akal jika AI digunakan untuk mengambil alih pekerjaan yang bersifat repetitif, sementara tester manusia tetap menangani bagian yang membutuhkan penilaian dan pengalaman.

Misalnya, AI bisa memeriksa apakah sebuah fungsi berjalan sesuai kondisi yang telah ditentukan. Namun, menentukan apakah sebuah gameplay terasa menyenangkan atau apakah sebuah mekanik terasa membingungkan bagi pemain tetap membutuhkan manusia.

AI mungkin bisa mengetahui bahwa karakter tidak bisa melewati sebuah pintu.

Tetapi AI belum tentu bisa menjelaskan dengan konteks desain bahwa pintu tersebut membuat pemain merasa tersesat karena tidak adanya petunjuk yang cukup.

Perbedaan semacam ini cukup penting dalam QA game.

Generative AI Punya Peran Lebih Besar

Yang membuat proyek Square Enix menarik adalah penggunaan generative AI, bukan sekadar automation tradisional.

Automated testing sebenarnya sudah lama digunakan dalam pengembangan software. Sistem dapat menjalankan test case tertentu secara otomatis dan memeriksa apakah hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

Generative AI berpotensi memberikan kemampuan yang lebih fleksibel.

Sistem bisa digunakan untuk menghasilkan skenario pengujian, membantu menganalisis hasil, atau membuat laporan berdasarkan informasi yang ditemukan selama proses testing.

Dalam game dengan dunia yang kompleks, kemampuan untuk mengeksplorasi lebih banyak kombinasi kondisi bisa menjadi keuntungan.

Namun, teknologi tersebut tetap membutuhkan batasan dan pengawasan.

AI yang menjalankan pengujian secara otomatis belum tentu selalu memahami maksud desain sebuah game. Karena itu, hasil pengujian tetap perlu dianalisis sebelum developer mengambil keputusan.

Kompleksitas Game Modern Jadi Tantangan

Game yang dikembangkan Square Enix juga bukan produk sederhana.

Perusahaan memiliki berbagai franchise besar dengan sistem dan skala berbeda. Game seperti Final Fantasy, Kingdom Hearts, Dragon Quest, maupun proyek lainnya dapat memiliki dunia, mekanik, dan jumlah konten yang sangat besar.

Semakin besar sebuah game, semakin banyak pula kemungkinan masalah yang harus diperiksa.

Belum lagi ketika game mendapatkan update setelah dirilis.

Satu patch bisa mengubah sistem tertentu dan secara tidak sengaja memunculkan bug baru di fitur lain. Jika setiap perubahan harus diuji secara manual dari awal, waktu yang dibutuhkan bisa menjadi sangat besar.

Automatisasi dapat membantu menjalankan regression testing, yaitu pengujian ulang untuk memastikan fitur yang sebelumnya sudah berfungsi tidak rusak akibat perubahan terbaru.

Ini menjadi salah satu area yang kemungkinan bisa mendapatkan manfaat besar dari teknologi yang sedang dikembangkan Square Enix.

Square Enix Memang Sedang Mendorong Pemanfaatan AI

Proyek QA tersebut bukan satu-satunya bentuk ketertarikan Square Enix terhadap AI.

Dalam laporan perkembangan rencana bisnisnya, perusahaan menyebut bahwa mereka juga memulai penelitian bersama Matsuo Laboratory dari University of Tokyo untuk meningkatkan efisiensi proses pengembangan game menggunakan teknologi AI. Selain itu, Square Enix juga mengadakan kompetisi ide bisnis internal dengan tema AI dan beberapa ide yang muncul kemudian dikembangkan menjadi proyek di dalam perusahaan. (Square Enix)

Artinya, perusahaan tampaknya tidak melihat AI hanya sebagai alat untuk membuat gambar atau teks.

Square Enix sedang mencoba mencari bagaimana teknologi tersebut bisa digunakan untuk memperbaiki proses kerja di belakang layar.

QA menjadi salah satu area yang cukup masuk akal karena memiliki banyak pekerjaan berulang dan membutuhkan pengujian dalam jumlah besar.

Ada Tantangan yang Tidak Bisa Diabaikan

Walaupun terdengar menjanjikan, penggunaan AI untuk QA bukan berarti semuanya langsung menjadi mudah.

AI tetap bisa melakukan kesalahan. Sistem bisa melewatkan bug, salah memahami kondisi tertentu, atau menghasilkan hasil pengujian yang tidak relevan.

Masalah lain adalah false positive dan false negative.

Sistem bisa menganggap sesuatu sebagai bug padahal sebenarnya memang dirancang seperti itu. Sebaliknya, AI juga bisa melewatkan masalah yang sebenarnya cukup serius.

Karena itu, kualitas sistem AI akan sangat bergantung pada bagaimana Square Enix melatih, mengintegrasikan, dan mengevaluasinya.

Penelitian mengenai AI untuk game QA juga menunjukkan bahwa bidang ini masih memiliki tantangan besar. Benchmark khusus untuk menguji kemampuan model vision-language dalam mendeteksi glitch, melakukan visual regression testing, serta membuat laporan bug baru dikembangkan karena kebutuhan evaluasi yang lebih standar masih cukup besar. (arXiv)

Jadi, target 70 persen yang dipasang Square Enix sebaiknya dilihat sebagai target otomatisasi pekerjaan, bukan berarti AI sudah mampu menggantikan seluruh proses QA.

Kalau Berhasil, Developer Bisa Lebih Fokus ke Hal Penting

Ada sisi positif yang cukup menarik dari rencana ini.

Jika AI mampu menangani sebagian besar pekerjaan repetitif, tester manusia bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk pengujian yang membutuhkan kreativitas.

Alih-alih berulang kali melakukan test case yang sama, QA dapat fokus mencari skenario yang tidak biasa, mengevaluasi pengalaman pemain, atau menguji sistem dari sudut pandang yang lebih luas.

Developer juga bisa mendapatkan feedback lebih cepat.

Semakin cepat bug ditemukan, semakin mudah pula memperbaikinya. Bug yang ditemukan saat game masih dalam tahap pengembangan biasanya jauh lebih mudah ditangani dibandingkan masalah yang baru muncul setelah game dirilis kepada jutaan pemain.

Target 2027 Menjadi Hal yang Patut Ditunggu

Square Enix menargetkan otomatisasi 70 persen QA dan debugging pada akhir 2027. Itu berarti perusahaan masih memiliki waktu untuk mengembangkan dan menguji sistem tersebut sebelum target itu harus tercapai. (Square Enix)

Menarik untuk melihat apakah angka tersebut benar-benar bisa dicapai dalam praktik.

Kalaupun nantinya tidak mencapai 70 persen secara penuh, teknologi yang dikembangkan tetap berpotensi memberikan dampak terhadap cara game dibuat.

Pasalnya, otomatisasi beberapa bagian QA saja sudah dapat menghemat waktu yang cukup besar jika diterapkan pada proyek berskala besar.

AI Bukan Sekadar Soal Menggantikan Pekerjaan

Pada akhirnya, langkah Square Enix memperlihatkan bagaimana AI mulai masuk lebih dalam ke dapur pengembangan game.

Selama ini pembahasan AI di industri game sering berfokus pada pembuatan aset, dialog, gambar, atau fitur yang langsung terlihat pemain. Square Enix justru memperlihatkan sisi lain yang mungkin jauh lebih praktis: menggunakan AI untuk membantu memastikan game tersebut bekerja dengan baik sebelum sampai ke tangan pemain.

Kalau teknologi ini berhasil, pemain mungkin tidak akan pernah melihat AI tersebut secara langsung.

Tidak ada karakter AI khusus atau fitur generatif yang harus mereka gunakan. Dampaknya justru bisa terasa dalam bentuk yang lebih sederhana: lebih sedikit bug, proses pengembangan yang lebih cepat, dan tim developer yang memiliki lebih banyak waktu untuk memperbaiki kualitas game.

Target 70 persen pada 2027 memang cukup ambisius. Tetapi jika Square Enix berhasil mewujudkannya, proyek ini bisa menjadi contoh menarik bagaimana AI tidak hanya digunakan untuk membuat game, tetapi juga membantu memastikan game tersebut siap dimainkan.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
A

Ditulis oleh

Ammar

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Industri Game Mobile Jepang Mulai Tertekan, Kasus Kebangkrutan Melonjak di 2026

Industri Game Mobile Jepang Mulai Tertekan, Kasus Kebangkrutan Melonjak di 2026

Industri game mobile Jepang sedang menghadapi situasi yang cukup serius. Jumlah perusahaan pengembang maupun operator game smartphone yang mengalami kebangkrutan pada 2026 meningkat cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menjadi tanda bahwa pasar game mobile Negeri Sakura tidak lagi...

13 Agu 2026

GTA VI Resmi Dibanderol $80, Kekhawatiran Harga Tinggi Jadi Sorotan

GTA VI Resmi Dibanderol $80, Kekhawatiran Harga Tinggi Jadi Sorotan

Harga Grand Theft Auto VI akhirnya tidak lagi menjadi bahan tebak-tebakan. Rockstar Games dan Take-Two Interactive resmi menetapkan harga Standard Edition GTA VI di angka $79,99 , sementara Ultimate Edition dibanderol $99,99 . Angka tersebut memang tidak sampai menyentuh harga...

13 Agu 2026

Bandai Namco Kirim Pesan Tersembunyi untuk Fans Elden Ring, Ujung-Ujungnya Malah Disuruh Touch Grass

Bandai Namco Kirim Pesan Tersembunyi untuk Fans Elden Ring, Ujung-Ujungnya Malah Disuruh Touch Grass

Ada saja cara Bandai Namco mengajak komunitas Elden Ring berinteraksi. Kali ini, publisher tersebut membuat penggemar cukup lama memandangi sebuah pesan yang sekilas terlihat seperti kumpulan kata acak. Bukannya menemukan petunjuk mengenai proyek baru atau informasi besar tentang Elden Ring,...

13 Agu 2026

Dari Hobi Jadi Profesi: Tren Desain Estetika Karakter Game Buka Peluang Ekonomi Kreatif Baru

Dari Hobi Jadi Profesi: Tren Desain Estetika Karakter Game Buka Peluang Ekonomi Kreatif Baru

BEKASI, Rabu, 12 Agustus 2026 — Lanskap industri gaming di Indonesia kini tidak lagi sekadar tentang memenangkan kompetisi atau meraih skor tertinggi. Saat ini, pergeseran tren menunjukkan bahwa platform game daring bergaya sandbox telah bertransformasi menjadi ruang ekspresi tanpa batas,...

12 Agu 2026