Dunia minuman beralkohol sedang menghadapi salah satu guncangan terbesarnya dalam beberapa dekade terakhir, dan generasi mudalah yang menjadi sorotan utama di baliknya. Fenomena yang dikenal sebagai sober curious atau "penasaran dengan hidup tanpa alkohol" telah berkembang dari sekadar gaya hidup niche menjadi gerakan budaya global yang mengguncang fondasi industri minuman keras bernilai ratusan miliar dolar.
Skala dampaknya sungguh mengejutkan. Beberapa analisis memperkirakan industri minuman beralkohol global kehilangan nilai pasar hingga ratusan miliar dolar dalam kurun waktu 2021 hingga 2025, seiring konsumsi alkohol per kapita mencatat salah satu penurunan tertajam sejak era Prohibisi di Amerika Serikat pada awal abad ke-20.
Di Amerika Serikat, proporsi orang dewasa yang mengonsumsi alkohol turun signifikan dari sekitar 67 persen pada 2022 menjadi hanya 54 persen pada 2025. Penurunan ini paling terasa di kalangan Gen Z. Survei terbaru bahkan menunjukkan bahwa hampir seperempat Gen Z kini mengaku sama sekali tidak minum alkohol, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya, sementara kebiasaan minum setiap hari di kalangan mereka anjlok drastis.
Industri bir dan anggur ikut terpukul. Konsumsi bir tercatat berada di titik terendah dalam lebih dari satu generasi, sementara volume penjualan anggur di AS terus merosot selama beberapa tahun beruntun. Bahkan tren "premiumisasi" yang sempat menjadi andalan produsen minuman keras kelas atas kini mulai kehilangan tenaga, dengan pendapatan dari kategori spirits dan wine sama-sama mencatat penurunan berarti.
Ada beberapa faktor yang saling terkait di balik pergeseran ini. Pertama, kesadaran kesehatan mental dan fisik meningkat pesat—banyak anak muda kini memandang alkohol, bahkan dalam jumlah moderat, sebagai sesuatu yang merugikan tubuh. Istilah seperti "hangxiety", yakni lonjakan kecemasan setelah malam minum-minum, menjadi alasan kuat bagi generasi yang memang sudah akrab dengan isu kesehatan mental untuk berhenti sebelum berlebihan.
Kedua, budaya digital turut berperan. Ketika setiap momen berpotensi direkam, diberi tagar, dan disimpan selamanya di media sosial, mabuk di depan umum kini membawa konsekuensi sosial yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.
Ketiga, faktor ekonomi juga tidak bisa diabaikan. Di tengah tekanan biaya hidup, banyak anak muda memilih menghemat pengeluaran untuk hal-hal yang dianggap kurang esensial, termasuk alkohol premium.
Menanggapi pergeseran ini, para pemain besar industri minuman tidak tinggal diam. Banyak produsen kini gencar memperluas lini produk non-alkohol dan rendah alkohol, mulai dari bir tanpa alkohol, anggur natural rendah intervensi, hingga koktail fungsional yang diperkaya probiotik atau adaptogen.
Pasar minuman siap-minum atau ready-to-drink (RTD) justru mencatat pertumbuhan pesat, dengan proyeksi nilai pasar global yang bisa berlipat ganda dalam satu dekade ke depan. Minuman berbasis spirits dalam kemasan kaleng menjadi favorit baru karena praktis dan cocok untuk kumpul-kumpul kasual—sesuatu yang sangat dihargai generasi ini.
Sejumlah kedai dan ruang tasting minuman non-alkohol premium pun mulai bermunculan, menciptakan ruang sosial baru bagi mereka yang ingin tetap menikmati ritual minum tanpa efek samping alkohol.
Menariknya, data terbaru dari beberapa lembaga riset minuman menunjukkan gambaran yang lebih rumit. Beberapa studi mengungkapkan bahwa Gen Z sebenarnya mulai "kembali" mengonsumsi alkohol seiring bertambahnya usia dan pendapatan mereka, dengan pola konsumsi yang perlahan menyerupai generasi-generasi sebelumnya pada rentang usia yang sama. Sejumlah pakar dari lembaga riset industri bahkan berargumen bahwa penurunan konsumsi alkohol belakangan ini bersifat siklikal dan dipengaruhi banyak generasi sekaligus, bukan semata-mata didorong oleh Gen Z.
Namun terlepas dari perdebatan soal siapa penggerak utamanya, satu hal yang jelas: budaya sober curious telah mengubah cara industri memandang konsumennya. Moderasi, kesadaran, dan pilihan menjadi kata kunci baru, menggantikan asumsi lama bahwa alkohol selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial.