Tren Makanan Estetik Masih Mendominasi Juni 2026

S Syakira Eliana 14 Jun 2026 0 dilihat 4 menit baca

Tren kuliner berbasis visual masih menjadi salah satu fenomena gaya hidup yang paling menonjol sepanjang Juni 2026. Berbagai makanan dan minuman yang viral di media sosial terus menarik perhatian masyarakat, terutama generasi muda yang aktif menggunakan platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube Shorts.

Fenomena tersebut tidak hanya berdampak pada meningkatnya popularitas sejumlah gerai makanan dan minuman, tetapi juga memengaruhi pola konsumsi masyarakat perkotaan. Jika sebelumnya faktor rasa dan harga menjadi pertimbangan utama, kini aspek visual, pengalaman bersantap, hingga daya tarik untuk dibagikan di media sosial turut memainkan peran penting dalam menentukan pilihan konsumen.

Di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Medan, sejumlah kafe serta pelaku usaha kuliner melaporkan peningkatan jumlah pengunjung setelah produk mereka menjadi viral di media sosial. Tidak sedikit tempat usaha yang mendadak dipadati pelanggan hanya dalam hitungan hari setelah video ulasan mereka masuk ke halaman rekomendasi pengguna.

Pengamat industri makanan dan minuman menilai bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat menemukan serta memilih tempat makan. Konten video berdurasi singkat kini menjadi salah satu sarana promosi paling efektif bagi pelaku usaha kuliner.

Sepanjang beberapa pekan terakhir, produk berbasis matcha menjadi salah satu kategori yang paling banyak dibicarakan. Kedai yang menyajikan pengalaman pembuatan minuman secara langsung di depan pelanggan menarik perhatian karena menghadirkan perpaduan antara kualitas produk dan nilai hiburan.

Selain minuman, berbagai jenis makanan penutup juga mencatat peningkatan popularitas. Produk pastry premium dengan bentuk unik, warna mencolok, serta isian yang melimpah menjadi salah satu daya tarik utama yang sering muncul dalam konten media sosial. Banyak konsumen mengaku tertarik mencoba suatu produk setelah melihat tampilan visualnya terlebih dahulu melalui video atau foto yang beredar secara luas.

Fenomena serupa juga terlihat pada sektor jajanan tradisional. Sejumlah pelaku usaha berhasil menghadirkan inovasi dengan menggabungkan makanan khas Indonesia dan konsep penyajian modern. Berbagai produk seperti cendol, klepon, serabi, hingga dadar gulung kini dikemas dengan tampilan yang lebih menarik tanpa meninggalkan identitas kuliner lokal.

Transformasi tersebut dinilai berhasil memperluas pasar, terutama di kalangan konsumen muda yang sebelumnya lebih akrab dengan makanan cepat saji atau produk internasional. Dengan pendekatan visual yang kuat, kuliner tradisional memperoleh ruang baru untuk dikenal oleh generasi yang lebih muda.

Tidak hanya memengaruhi perilaku konsumen, tren makanan viral juga memberikan dampak ekonomi yang cukup signifikan. Banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperoleh peningkatan penjualan setelah mendapatkan eksposur di media sosial.

Beberapa pelaku usaha mengungkapkan bahwa satu unggahan video yang berhasil menarik perhatian publik dapat menghasilkan lonjakan pesanan hingga beberapa kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa media sosial kini memiliki peran besar dalam membentuk tren pasar dan keputusan pembelian masyarakat.

Di sisi lain, persaingan antar pelaku usaha kuliner juga semakin ketat. Tidak cukup hanya menawarkan rasa yang baik, banyak pemilik usaha mulai memperhatikan desain interior, pencahayaan ruangan, kemasan produk, hingga konsep pelayanan yang mampu memberikan pengalaman berbeda bagi pelanggan.

Kafe dan restoran yang memiliki desain menarik cenderung lebih mudah menarik perhatian pengguna media sosial. Kehadiran sudut foto yang estetik, dekorasi unik, dan tata ruang yang nyaman menjadi nilai tambah yang turut memengaruhi tingkat kunjungan.

Analis tren digital menilai bahwa perkembangan ini menunjukkan adanya hubungan yang semakin erat antara industri kreatif dan sektor kuliner. Media sosial tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang promosi, pemasaran, dan pembentukan identitas merek.

Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa popularitas yang dibangun melalui media sosial sering kali bersifat sementara. Pelaku usaha tetap dituntut menjaga kualitas produk dan pelayanan agar mampu mempertahankan pelanggan setelah tren viral mereda.

Dalam beberapa kasus, tempat makan yang ramai dikunjungi pada awal kemunculannya mengalami penurunan jumlah pelanggan ketika ekspektasi konsumen tidak sesuai dengan pengalaman yang diperoleh. Karena itu, kualitas rasa, konsistensi pelayanan, serta inovasi produk dinilai tetap menjadi faktor utama keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.

Di tengah pesatnya perkembangan tren digital, sektor kuliner Indonesia menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan perilaku konsumen. Perpaduan antara kreativitas, teknologi, dan strategi pemasaran modern menjadi kunci utama dalam menarik perhatian pasar yang semakin dinamis.

Memasuki paruh kedua tahun 2026, tren makanan dan minuman viral diperkirakan masih akan menjadi salah satu penggerak utama industri kuliner nasional. Dengan dukungan media sosial yang terus berkembang, pelaku usaha memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau konsumen baru sekaligus memperkuat posisi mereka di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Syakira Eliana

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait