Api di TPA Jatiwaringin Mulai Reda, Sisa 1,5 Hektare yang Masih Terbakar

D Dina 10 Jul 2026 1 dilihat 3 menit baca

Tangerang – Proses pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, memasuki hari ke-10 pada Kamis (9/7/2026). Setelah lebih dari seminggu bergelut dengan jilatan api dan kepulan asap, kondisi di lokasi kebakaran akhirnya menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menyampaikan bahwa area yang masih terbakar kini tersisa sekitar 1,5 hektare dan kondisinya sudah mulai mereda menjadi asap-asap.

“TPA Jatiwaringin sudah semakin baik, dari kemarin 3 hektare, sekarang (tersisa) 1,5 hektare. Itu pun sangat teknis sekali. Relatif sekarang sudah jauh lebih baik, dan hanya asap-asap dan (nanti) selesai,” ujar Jumhur saat ditemui di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Kamis. Meski demikian, proses pemadaman total diperkirakan masih memakan waktu mengingat api cukup sulit dijangkau karena berada di kedalaman tumpukan sampah. Petugas pemadam kebakaran masih terus berupaya melakukan pemadaman karena masih terdapat asap yang mengepul di sekitar lokasi.

Kebakaran yang melanda TPA seluas 33 hektare ini terjadi sejak Selasa (30/6/2026). Luas area yang terbakar mencapai 15 hektare. Penyebab utama sulitnya api dipadamkan adalah karakteristik TPA yang masih menerapkan sistem open dumping atau pembuangan sampah secara terbuka. Tumpukan sampah yang telah menggunung selama bertahun-tahun menghasilkan gas metana dalam jumlah besar. Saat cuaca panas, gas metana dapat memicu kebakaran dari dalam timbunan sampah. Praktik open dumping sebenarnya telah dilarang oleh Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dengan tenggat waktu transisi hingga 2013, namun hingga 2026 masih banyak daerah yang belum menuntaskan sistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.

Upaya pemadaman dilakukan melalui tiga metode, yakni penyiraman dari darat oleh petugas pemadam kebakaran, water bombing menggunakan helikopter BNPB, serta injeksi pada titik panas oleh Manggala Agni. Sebanyak 4 unit helikopter water bombing dikerahkan untuk menjangkau titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik menjelaskan bahwa kebakaran di TPA memiliki karakteristik berbeda dengan kebakaran lahan gambut, di mana timbunan sampah yang menggunung membuat petugas harus mengurai gunungan sampah tersebut dengan alat berat agar lebih mudah memadamkannya. Pada hari ke-8, 50 persen area yang terbakar telah berhasil dipadamkan, sementara pada hari ke-9 tersisa sekitar 30 persen lagi dari 15 hektare yang terbakar.

Kebakaran ini membawa dampak serius bagi warga sekitar. Asap pekat yang dihasilkan dari pembakaran sampah memaksa ratusan warga mengungsi. Sebanyak 158 warga terdampak telah dievakuasi dari dua desa, yaitu Tanjakan Mekar dan Rajeg Mulya. Seorang warga, Sarmanah, menceritakan pengalamannya, “Asapnya tebal, gelap sampai enggak kelihatan orang… masuk sampai ke dalam rumah, kamar, bikin sesak sampai enggak bisa napas”. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa warga yang mengungsi mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kualitas udara di sekitar TPA bahkan berada pada level yang membahayakan.

Pemerintah Kabupaten Tangerang menggelar salat istisqa untuk memohon hujan guna membantu mempercepat proses pemadaman kebakaran. Bupati Tangerang Maesyal Rasyid mengatakan ikhtiar spiritual dilakukan bersamaan dengan upaya pemadaman yang masih berlangsung di lapangan. Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Lingkungan Hidup telah menyurati seluruh bupati dan wali kota untuk mengantisipasi kebakaran di TPA dan membentuk satgas khusus untuk memonitor TPA di seluruh Indonesia. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi pengelolaan sampah di Indonesia. Diharapkan insiden ini dapat mendorong percepatan transisi menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan ramah lingkungan untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa depan.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
D

Ditulis oleh

Dina

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Lombok Berduka, Kebakaran di Desa Adat Sade Sabtu Malam Lahap 120 Bangunan Tradisional

Lombok Berduka, Kebakaran di Desa Adat Sade Sabtu Malam Lahap 120 Bangunan Tradisional

LOMBOK TENGAH – Suasana duka dan keprihatinan mendalam menyelimuti Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Musibah kebakaran hebat melalap kawasan permukiman tradisional suku Sasak tersebut pada Sabtu malam. Berdasarkan pendataan awal dari tim penanggulangan bencana setempat,...

24 Agu 2026

Fenomena Gerhana Bulan Sebagian Akhir Agustus 2026 Mengapa Tidak Dapat Diamati dari Indonesia?

Fenomena Gerhana Bulan Sebagian Akhir Agustus 2026 Mengapa Tidak Dapat Diamati dari Indonesia?

JAKARTA _ Fenomena astronomi selalu berhasil menarik perhatian publik, termasuk peristiwa Gerhana Bulan Sebagian yang diproyeksikan terjadi pada akhir Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama konsorsium peneliti astronomi nasional merilis analisis ilmiah mengenai peristiwa langit tersebut. Hasil...

23 Agu 2026

Kebakaran Lahan Taman Nasional Way Kambas Diduga Disengaja, Polisi Turun Tangan Selidiki Penyebabnya

Kebakaran Lahan Taman Nasional Way Kambas Diduga Disengaja, Polisi Turun Tangan Selidiki Penyebabnya

JAKARTA – Kawasan hutan dan padang savana di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Lampung, mengalami kebakaran cukup hebat sejak Jumat siang. Kobaran api yang dengan cepat merambat akibat cuaca kering dan tiupan angin kencang membuat ratusan hektare...

23 Agu 2026

Refleksi Hari Konferensi Meja Bundar: Meneguhkan Kembali Kedaulatan dan Kemandirian Bangsa di Era Modern

Refleksi Hari Konferensi Meja Bundar: Meneguhkan Kembali Kedaulatan dan Kemandirian Bangsa di Era Modern

Tepat pada hari Minggu, 23 Agustus 2026, bangsa Indonesia memperingati salah satu tonggak sejarah penting dalam lembaran perjuangan diplomasi nasional, yakni Hari Peringatan Konferensi Meja Bundar (KMB) . Momentum ini selalu menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat akan beratnya proses...

23 Agu 2026