Apple Sempat Jadi Perusahaan Paling Bernilai Dunia, Salip Nvidia

H Herman 20 Jul 2026 13 dilihat 4 menit baca

Persaingan dua raksasa teknologi dunia, Apple Inc. dan Nvidia Corp., kembali menjadi perhatian pasar global setelah Apple untuk sementara berhasil merebut posisi sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Meski hanya berlangsung dalam waktu singkat selama sesi perdagangan, momen tersebut menunjukkan betapa ketatnya persaingan antara perusahaan teknologi yang kini menjadi motor utama pasar saham Amerika Serikat.

Pada perdagangan Jumat (18/7/2026) waktu setempat, saham Nvidia mengalami tekanan cukup besar di awal sesi. Harga saham perusahaan pembuat chip kecerdasan buatan (AI) tersebut sempat anjlok hingga 4,6% dalam 30 menit pertama perdagangan. Pelemahan itu membuat kapitalisasi pasar Nvidia turun ke bawah level US$4,8 triliun.

Di sisi lain, saham Apple justru bergerak stabil dengan kenaikan tipis. Penguatan tersebut cukup untuk mengangkat nilai kapitalisasi pasar perusahaan pembuat iPhone itu menjadi sekitar US$4,9 triliun pada level tertinggi perdagangan. Dengan capaian tersebut, Apple sempat menggeser Nvidia sebagai perusahaan publik paling bernilai di dunia.

Namun, posisi tersebut tidak bertahan lama. Menjelang penutupan perdagangan, saham Nvidia mulai memangkas sebagian kerugiannya. Meski tetap ditutup melemah sekitar 2,2%, kapitalisasi pasar Nvidia kembali berada sedikit di atas US$4,9 triliun dan berhasil merebut kembali posisi puncak dari Apple dengan selisih sekitar US$6 miliar.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa nilai kedua perusahaan kini berada pada level yang sangat berdekatan. Perubahan harga saham yang relatif kecil saja sudah cukup mengubah urutan perusahaan dengan valuasi terbesar di dunia. Kondisi ini mencerminkan tingginya minat investor terhadap sektor teknologi, khususnya perusahaan yang memiliki posisi strategis dalam perkembangan kecerdasan buatan.

Nvidia dalam dua tahun terakhir menjadi salah satu perusahaan dengan pertumbuhan tercepat di dunia berkat ledakan permintaan chip AI. Produk GPU buatannya digunakan secara luas oleh perusahaan teknologi, penyedia layanan komputasi awan, hingga pengembang model AI generatif seperti OpenAI, Meta, Microsoft, Google, dan berbagai perusahaan lainnya.

Booming AI membuat pendapatan Nvidia meningkat drastis. Permintaan terhadap chip kelas atas seperti seri Blackwell dan Grace terus bertumbuh karena perusahaan-perusahaan teknologi berlomba membangun pusat data AI berkapasitas besar. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kapitalisasi pasar Nvidia melonjak hingga menembus kisaran US$5 triliun.

Sementara itu, Apple memiliki kekuatan berbeda. Meski pertumbuhan bisnis perangkat keras tidak secepat sebelumnya, perusahaan tetap menjadi salah satu emiten paling menguntungkan di dunia berkat ekosistem produknya yang sangat kuat. Penjualan iPhone, Mac, iPad, Apple Watch, serta layanan digital seperti App Store, Apple Music, iCloud, dan Apple TV+ terus memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan perusahaan.

Dalam beberapa waktu terakhir, Apple juga mulai meningkatkan fokus pada pengembangan teknologi AI. Perusahaan memperkenalkan berbagai fitur kecerdasan buatan yang terintegrasi langsung ke dalam sistem operasinya, sekaligus memperluas investasi di bidang perangkat keras berbasis AI. Langkah tersebut dinilai investor sebagai strategi penting untuk menjaga daya saing Apple dalam era komputasi generatif.

Persaingan antara Apple dan Nvidia juga mencerminkan perubahan lanskap industri teknologi global. Jika sebelumnya perusahaan dengan valuasi terbesar didominasi oleh produsen perangkat konsumen atau perusahaan internet, kini perusahaan penyedia infrastruktur AI seperti Nvidia memiliki posisi yang sama kuatnya. Hal ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan paling cepat dalam ekonomi digital.

Meski begitu, analis pasar mengingatkan bahwa valuasi perusahaan teknologi saat ini juga membuat saham-saham tersebut lebih sensitif terhadap sentimen pasar. Perubahan ekspektasi suku bunga, laporan keuangan, hingga perkembangan geopolitik dapat memicu volatilitas yang cukup tinggi. Oleh karena itu, persaingan posisi perusahaan paling bernilai dunia diperkirakan masih akan terus berubah dalam beberapa bulan mendatang.

Selain Apple dan Nvidia, Microsoft juga masih berada dalam kelompok perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Ketiganya menjadi simbol dominasi perusahaan teknologi Amerika Serikat dalam pasar modal global sekaligus menjadi penggerak utama indeks saham seperti Nasdaq dan S&P 500.

Bagi investor, perubahan posisi antara Apple dan Nvidia bukan sekadar soal gengsi, melainkan juga mencerminkan bagaimana pasar menilai prospek bisnis masing-masing perusahaan. Nvidia masih dipandang sebagai pemimpin dalam infrastruktur AI, sementara Apple memiliki kekuatan pada ekosistem perangkat dan basis pengguna yang sangat besar di seluruh dunia.

Ke depan, kompetisi keduanya diperkirakan akan semakin menarik. Nvidia berupaya mempertahankan dominasinya di industri chip AI, sedangkan Apple terus memperkuat integrasi kecerdasan buatan ke dalam produk-produknya. Dengan inovasi yang terus berkembang dan permintaan teknologi yang masih tinggi, persaingan memperebutkan gelar perusahaan paling bernilai di dunia kemungkinan akan terus berlangsung dan menjadi salah satu sorotan utama pasar keuangan global.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
H

Ditulis oleh

Herman

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait