Pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada perdagangan pekan depan. Sejumlah analis menilai investor kini lebih berhati-hati menjelang rilis data ekonomi Amerika Serikat, khususnya indeks sentimen konsumen dan ekspektasi inflasi yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Kondisi tersebut berpotensi membuat harga logam mulia masih bergerak dalam tren melemah, meskipun permintaan dari bank sentral berbagai negara tetap memberikan penopang terhadap harga.
Dalam beberapa pekan terakhir, pasar keuangan global menunjukkan perubahan sentimen yang cukup signifikan. Setelah sempat menikmati penguatan akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan pembelian besar-besaran oleh bank sentral, harga emas kini kembali kehilangan momentumnya. Penguatan dolar Amerika Serikat serta ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama menjadi faktor utama yang mengurangi daya tarik investasi pada emas.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa secara teknikal harga emas masih bergerak dalam tren bearish. Menurutnya, hingga saat ini pembeli belum mampu mengambil alih kendali pasar sehingga tekanan jual masih mendominasi pergerakan harga.
Ia menilai selama harga emas belum mampu menembus area resistance penting, potensi pelemahan masih terbuka cukup lebar. Berdasarkan analisis teknikal, area support terdekat berada di level 3.942. Jika level tersebut berhasil ditembus, maka harga emas diperkirakan dapat melanjutkan penurunan menuju kisaran 3.782.
Selain itu, indikator teknikal seperti Moving Average (MA) 21 masih berada di atas harga saat ini sehingga berfungsi sebagai resistance dinamis. Di sisi lain, indikator Stochastic Oscillator mulai bergerak menuju area oversold, yang mengindikasikan tekanan jual masih cukup kuat meskipun terdapat peluang terjadinya rebound teknikal dalam jangka pendek apabila muncul sentimen positif.
Faktor fundamental juga menjadi perhatian utama investor. Pasar kini menunggu rilis Preliminary University of Michigan Consumer Sentiment serta Preliminary University of Michigan Inflation Expectations Amerika Serikat. Kedua data tersebut dinilai mampu memberikan gambaran mengenai kondisi konsumsi masyarakat sekaligus ekspektasi inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
Apabila hasil survei menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen meningkat dan ekspektasi inflasi tetap tinggi, maka peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin besar. Kondisi tersebut biasanya akan mendorong penguatan dolar AS sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas dunia.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaib, juga memperkirakan harga emas masih menghadapi tantangan cukup berat. Menurutnya, risiko inflasi global masih tinggi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah dan Eropa Timur.
Konflik yang terus berlangsung berpotensi memicu kenaikan harga energi, khususnya minyak mentah. Apabila harga energi terus meningkat, tekanan inflasi global juga diperkirakan akan kembali menguat. Dalam situasi tersebut, bank sentral Amerika Serikat kemungkinan besar tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga.
Bahkan, apabila inflasi kembali meningkat secara signifikan, tidak menutup kemungkinan The Fed kembali mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Kebijakan tersebut tentu menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi maupun instrumen berbasis suku bunga lainnya.
Ibrahim memperkirakan harga emas dunia akan bergerak dalam kisaran US$3.856 hingga US$4.149 per troy ounce sepanjang pekan depan. Level support pertama diperkirakan berada di sekitar US$3.970 per troy ounce, sedangkan resistance pertama berada di kisaran US$4.063 per troy ounce.
Meski demikian, ia menilai pelemahan harga emas kemungkinan tidak akan berlangsung terlalu dalam. Salah satu faktor penopang berasal dari permintaan bank-bank sentral yang masih cukup tinggi sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa mereka. Permintaan institusi tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas pasar emas di tengah tingginya volatilitas ekonomi global.
Di pasar domestik, pergerakan harga emas batangan diperkirakan juga akan mengikuti tren pelemahan emas dunia. Namun, koreksi harga emas di Indonesia diperkirakan tidak sedalam pasar internasional karena masih mendapat dukungan dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Ketika nilai tukar rupiah melemah, harga emas dalam negeri cenderung tetap bertahan atau turun lebih terbatas karena harga emas internasional dikonversi menggunakan kurs dolar AS. Kondisi tersebut membuat investor domestik masih memiliki perlindungan terhadap fluktuasi harga global.
Sebelumnya, harga emas spot dunia ditutup melemah hingga 1,85% ke level US$3.985,1 per troy ounce. Penurunan tersebut membawa harga emas kembali berada di bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce, sekaligus menjadi posisi terendah dalam sekitar delapan bulan terakhir.
Penurunan tersebut terjadi setelah investor mengalihkan sebagian dananya ke aset berbasis dolar AS yang dinilai lebih menarik di tengah prospek suku bunga tinggi. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang tetap tinggi juga mengurangi minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
Ke depan, arah harga emas diperkirakan masih akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi Amerika Serikat, kebijakan Federal Reserve, pergerakan dolar AS, serta dinamika geopolitik global. Selama ketidakpastian tersebut masih berlangsung, volatilitas harga emas diperkirakan akan tetap tinggi sehingga pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan data ekonomi sebelum mengambil keputusan investasi.