Bank of Japan Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga, Era Bunga Rendah Kian Terancam

S Sawalika 01 Sep 2026 0 dilihat 4 menit baca

Bank of Japan (BOJ) semakin dekat dengan keputusan yang akan mengakhiri salah satu babak paling panjang dalam sejarah moneter Jepang: era suku bunga rendah yang telah bertahan selama lebih dari tiga dekade. Setelah menaikkan suku bunga acuan ke level 1 persen pada Juni 2026—level tertinggi sejak 1995—bank sentral kini bersiap untuk langkah lanjutan yang bisa datang lebih cepat dari perkiraan pasar.

Dalam ringkasan opini dari rapat kebijakan 30-31 Juli 2026 yang dirilis awal Agustus, BOJ memutuskan mempertahankan suku bunga di angka 1 persen. Namun keputusan itu diambil dengan suara tidak bulat: delapan anggota dewan mendukung penahanan suku bunga, sementara satu anggota, Hajime Takata, mengusulkan kenaikan langsung ke 1,25 persen. Yang lebih menarik perhatian pelaku pasar adalah nada dokumen tersebut, yang menunjukkan setidaknya tiga dari sembilan anggota dewan menilai laju kenaikan suku bunga BOJ selama ini—rata-rata dua kali kenaikan per tahun—mungkin perlu dipercepat.

Salah satu anggota dewan bahkan menyebut bahwa mengingat inflasi inti sudah mendekati target 2 persen, risiko kenaikan harga ke depan perlu mendapat perhatian lebih besar dibanding sebelumnya, sehingga laju kenaikan suku bunga bisa lebih cepat dari ekspektasi pasar. Anggota lain menyatakan fokus kebijakan moneter kini telah bergeser: bukan lagi soal mendorong inflasi inti mencapai target, melainkan mencegah inflasi melampaui target tersebut.

Salah satu pendorong utama di balik potensi percepatan kenaikan suku bunga adalah pelemahan nilai tukar yen yang terus berlanjut. Meski Jepang dan Amerika Serikat sempat melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing untuk menopang yen, mata uang tersebut tetap tertekan dan sempat menyentuh level 160 per dolar AS. Tekanan impor akibat yen lemah, ditambah lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah serta permintaan global yang kuat terhadap kebutuhan energi untuk industri kecerdasan buatan (AI), semuanya menambah risiko inflasi yang membebani perekonomian Jepang.

Faktor lain yang turut mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga adalah komentar dari Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang disebut-sebut mendorong Jepang untuk menaikkan suku bunga lebih cepat. Kombinasi antara tekanan domestik berupa inflasi yang terus meningkat dan tekanan eksternal ini membuat banyak analis kini meyakini bahwa rapat kebijakan BOJ pada 17-18 September 2026 berpotensi menghasilkan kenaikan suku bunga lanjutan.

Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan internal BOJ menyebutkan bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan September semakin besar. Bahkan ada indikasi bahwa BOJ berpotensi mempercepat laju kenaikan suku bunga secara keseluruhan, tidak hanya sekali menaikkan dalam waktu dekat. Pergeseran sikap ini merupakan perubahan signifikan dibandingkan pendekatan hati-hati yang selama ini dianut BOJ sejak mengakhiri kebijakan suku bunga negatif pada 2024.

Bank sentral juga tengah melanjutkan proses pengurangan pembelian obligasi pemerintah Jepang (JGB) secara bertahap sebesar 200 miliar yen per kuartal, sebelum rencananya menghentikan pengurangan tersebut dan mempertahankan pembelian bulanan sebesar 2 triliun yen mulai April 2027. Langkah ini menjadi bagian dari upaya normalisasi kebijakan moneter yang lebih luas, seiring bank sentral secara perlahan melepaskan diri dari kebijakan stimulus besar-besaran yang telah berlangsung sejak 2013.

Kenaikan suku bunga BOJ yang lebih agresif dari perkiraan berpotensi mengguncang pasar keuangan global, khususnya terkait fenomena "carry trade" yen—strategi investasi di mana investor meminjam dalam yen berbunga rendah untuk membeli aset di negara dengan imbal hasil lebih tinggi. Ketika BOJ menaikkan suku bunga secara mengejutkan pada Agustus tahun lalu, langkah tersebut sempat memicu gejolak signifikan di berbagai mata uang negara berkembang akibat pembongkaran posisi carry trade secara mendadak.

Bagi investor dan analis, arah kebijakan BOJ ke depan juga akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi domestik, perkembangan harga energi global, serta dinamika hubungan dagang dan mata uang antara Jepang dan Amerika Serikat. Dengan inflasi inti yang terus mendekati bahkan berpotensi melampaui target 2 persen, banyak pihak kini melihat era suku bunga ultra-rendah di Jepang—yang telah menjadi ciri khas kebijakan moneter negara tersebut selama puluhan tahun—benar-benar berada di ambang berakhir.

Meski demikian, BOJ tetap menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam menyesuaikan kebijakan, mengingat suku bunga riil di Jepang masih berada pada level yang sangat rendah. Keputusan final tetap akan bergantung pada perkembangan data ekonomi dalam beberapa minggu ke depan menjelang rapat kebijakan berikutnya.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait