Bank Sentral Tambah Stok Emas, Harga Emas Antam Ikut Naik

T Tirza 08 Agu 2026 13 dilihat 5 menit baca

Harga emas Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kembali mengalami kenaikan pada perdagangan Sabtu, 8 Agustus 2026. Pergerakan harga emas domestik tersebut sejalan dengan penguatan harga emas dunia yang kembali mendapatkan dukungan dari meningkatnya permintaan bank sentral, terutama dari sejumlah negara di kawasan Asia.

Pada perdagangan hari ini, harga emas Antam tercatat sebesar Rp2.690.000 per gram, naik Rp40.000 dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp2.650.000 per gram. Kenaikan tersebut menunjukkan kembali menguatnya minat terhadap logam mulia setelah harga emas sempat mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya.

Tidak hanya harga jual, harga pembelian kembali atau buyback emas Antam juga mengalami peningkatan. Harga buyback pada Sabtu mencapai Rp2.511.000 per gram, naik Rp50.000 dibandingkan harga sehari sebelumnya yang berada di level Rp2.461.000 per gram.

Kenaikan harga emas Antam tersebut tidak terlepas dari perkembangan pasar emas global. Harga emas dunia tercatat mengalami penguatan sebesar 2,41% menjadi US$4.341,5 per troy ounce. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap emas masih cukup kuat di tengah dinamika pasar keuangan internasional.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral. Sejumlah bank sentral di dunia terus menambah cadangan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa. Kondisi ini memberikan dukungan terhadap harga emas karena pembelian dalam jumlah besar dapat meningkatkan permintaan global.

Analis Deutsche Bank, Michael Hsueh, menilai emas masih berada dalam fase penguatan yang cukup kuat. Menurutnya, pergerakan harga emas masih menunjukkan potensi kenaikan lebih lanjut seiring dengan meningkatnya permintaan dan kondisi pasar global yang mendukung.

Deutsche Bank bahkan menaikkan proyeksi harga emas. Bank tersebut memperkirakan harga emas dapat mencapai US$4.700 per troy ounce pada akhir tahun, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar US$4.600 per troy ounce pada kuartal IV.

Salah satu faktor utama yang mendukung proyeksi tersebut adalah meningkatnya akumulasi emas oleh bank sentral. Dalam beberapa tahun terakhir, bank sentral dari berbagai negara mulai meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap aset tertentu, termasuk mata uang asing.

China menjadi salah satu negara yang menjadi perhatian pasar. Bank sentral China dilaporkan kembali meningkatkan cadangan emas pada Juli 2026. Cadangan emasnya bertambah sekitar 640.000 ons atau sekitar 20 ton dalam satu bulan.

Langkah tersebut memperkuat sinyal bahwa bank sentral masih melihat emas sebagai aset strategis. Pembelian yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dukungan terhadap harga emas dalam jangka panjang, terutama ketika permintaan investasi dari sektor lain juga tetap tinggi.

Emas selama ini dikenal sebagai salah satu aset yang digunakan investor untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Ketika kondisi global mengalami ketidakpastian, sebagian investor cenderung meningkatkan kepemilikan aset yang dianggap mampu menjaga nilai.

Selain faktor geopolitik, arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia juga berpengaruh terhadap harga emas. Suku bunga, nilai dolar AS, inflasi, dan imbal hasil obligasi menjadi sejumlah indikator yang diperhatikan pelaku pasar sebelum mengambil keputusan investasi.

Emas merupakan aset yang tidak memberikan bunga atau imbal hasil secara langsung. Karena itu, ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat, emas dapat kehilangan sebagian daya tariknya dibandingkan aset berbunga. Sebaliknya, ketika ekspektasi suku bunga turun atau ketidakpastian meningkat, permintaan emas dapat kembali menguat.

Penguatan emas dunia sebesar 2,41% pada perdagangan terbaru menunjukkan bahwa sentimen terhadap logam mulia masih positif. Kondisi tersebut kemudian ikut memberikan pengaruh terhadap harga emas di pasar domestik, termasuk produk emas Antam.

Bagi investor Indonesia, harga emas domestik juga dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Emas dunia dihargai menggunakan dolar sehingga perubahan nilai tukar dapat memengaruhi harga emas ketika dikonversikan ke dalam rupiah.

Apabila rupiah melemah terhadap dolar AS, harga emas dalam rupiah dapat mengalami peningkatan meskipun perubahan harga emas dunia relatif terbatas. Sebaliknya, penguatan rupiah dapat mengurangi tekanan kenaikan harga emas domestik.

Kenaikan harga Antam sebesar Rp40.000 per gram pada perdagangan Sabtu menunjukkan bahwa pasar domestik merespons positif perkembangan harga emas global. Sementara kenaikan harga buyback sebesar Rp50.000 juga menunjukkan meningkatnya nilai emas ketika dijual kembali kepada Antam.

Bagi masyarakat yang telah memiliki emas, kenaikan harga dapat meningkatkan nilai aset yang mereka simpan. Namun, bagi calon pembeli, harga yang semakin tinggi juga berarti diperlukan dana lebih besar untuk mendapatkan jumlah emas yang sama.

Karena itu, keputusan membeli emas sebaiknya tetap disesuaikan dengan tujuan dan kemampuan finansial masing-masing. Emas lebih sering digunakan sebagai instrumen penyimpanan nilai dalam jangka menengah dan panjang, bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan dalam waktu singkat.

Pergerakan harga emas juga tetap memiliki risiko. Meskipun permintaan bank sentral menjadi faktor pendukung, perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat, penguatan dolar, perubahan imbal hasil obligasi, serta kondisi geopolitik dapat menyebabkan harga emas bergerak naik dan turun dengan cepat.

Dengan harga emas dunia yang telah mencapai US$4.341,5 per troy ounce, perhatian investor kini tertuju pada apakah tren penguatan tersebut dapat berlanjut. Proyeksi Deutsche Bank menuju US$4.700 per troy ounce memberikan gambaran bahwa ruang kenaikan masih terbuka, meskipun realisasi harga tetap akan bergantung pada perkembangan ekonomi global.

Bagi Indonesia, perkembangan harga emas global juga menjadi perhatian karena produk emas Antam merupakan salah satu instrumen investasi yang banyak digunakan masyarakat. Kenaikan harga emas dapat meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai aset penyimpan nilai, terutama ketika ketidakpastian ekonomi masih tinggi.

Pada akhirnya, tambahan cadangan emas oleh bank sentral menjadi salah satu faktor penting yang menopang harga logam mulia saat ini. Pembelian China sekitar 20 ton pada Juli menunjukkan bahwa permintaan institusional masih kuat. Jika tren pembelian bank sentral berlanjut, pasar emas berpotensi memperoleh dukungan dalam jangka panjang.

Dengan demikian, kenaikan harga emas Antam menjadi Rp2.690.000 per gram pada 8 Agustus 2026 mencerminkan kombinasi antara penguatan emas dunia, meningkatnya permintaan bank sentral, serta kondisi pasar keuangan global. Investor tetap perlu mencermati perkembangan harga emas dan faktor ekonomi lainnya sebelum mengambil keputusan, karena meskipun prospek emas masih positif, volatilitas tetap menjadi bagian dari investasi logam mulia.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
T

Ditulis oleh

Tirza

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait