Kebakaran melanda gedung Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jakarta yang berada di Jalan Abdul Muis, Petojo Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, pada Jumat malam (7/8/2026). Petugas Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta langsung dikerahkan untuk menangani kobaran api yang terjadi di bangunan tersebut.
Setelah berjam-jam dilakukan proses pemadaman, petugas akhirnya berhasil mengendalikan dan melokalisasi perambatan api pada Sabtu dini hari (8/8/2026). Meski api utama telah berhasil dipadamkan, petugas masih melakukan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala.
Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Bayu Meghantara mengatakan, petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi sekitar pukul 21.32 WIB pada Jumat (7/8/2026). Sebanyak 39 unit kendaraan pemadam kebakaran gabungan dengan total 195 personel dikerahkan untuk menangani kejadian tersebut.
Menurut Bayu, operasi pemadaman dimulai sekitar pukul 21.31 WIB. Petugas kemudian bekerja untuk mengendalikan kobaran api agar tidak merambat ke bagian lain gedung maupun bangunan di sekitar lokasi.
“Operasi pemadaman dimulai pada pukul 21.31 WIB, kemudian pukul 01.14 WIB perambatan api berhasil dilokalisir. Pada pukul 01.53 WIB hingga saat ini proses pemadaman dalam tahap pendinginan,” ungkap Bayu dalam unggahan resmi Dinas Gulkarmat Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Proses pendinginan menjadi tahapan penting setelah api berhasil dikendalikan. Dalam proses tersebut, petugas memastikan material yang terbakar benar-benar kehilangan sumber panas sehingga risiko munculnya kembali kobaran api dapat ditekan.
Pendinginan biasanya dilakukan dengan menyiram bagian bangunan atau material yang masih memiliki suhu tinggi. Petugas juga perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk menemukan kemungkinan adanya bara api yang tersembunyi di balik struktur bangunan, plafon, dinding, maupun benda-benda yang berada di dalam ruangan.
Kebakaran gedung pemerintahan seperti Bapenda menjadi perhatian karena bangunan tersebut berkaitan dengan pelayanan administrasi dan aktivitas pemerintahan. Selain potensi kerusakan bangunan, kejadian kebakaran juga dapat menimbulkan gangguan terhadap kegiatan pelayanan masyarakat apabila sejumlah ruangan atau fasilitas tidak dapat digunakan sementara waktu.
Dalam penanganan kebakaran, keselamatan petugas dan masyarakat menjadi prioritas. Banyaknya personel yang dikerahkan menunjukkan upaya petugas untuk memastikan kebakaran dapat dikendalikan dengan cepat sekaligus mencegah kemungkinan meluasnya api.
Informasi mengenai adanya pekerja yang dievakuasi juga menjadi bagian penting dari penanganan kejadian tersebut. Sebanyak satu pekerja dilaporkan dievakuasi dari lokasi kebakaran. Evakuasi dilakukan sebagai langkah keselamatan untuk menjauhkan pekerja dari area yang berpotensi membahayakan akibat asap, panas, maupun kondisi bangunan yang terdampak kebakaran.
Evakuasi menjadi prosedur penting dalam situasi kebakaran gedung karena kondisi di dalam bangunan dapat berubah dengan cepat. Asap tebal dapat mengurangi jarak pandang dan menyulitkan seseorang menemukan jalan keluar. Selain itu, struktur bangunan yang terkena panas juga dapat mengalami penurunan kekuatan.
Karena itu, petugas pemadam kebakaran tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga melakukan pencarian dan evakuasi terhadap orang-orang yang masih berada di dalam atau sekitar bangunan apabila kondisi memungkinkan.
Sementara itu, hingga tahap pendinginan berlangsung, penyebab pasti kebakaran belum disampaikan secara rinci. Penentuan penyebab kebakaran biasanya membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut setelah lokasi dinyatakan aman. Petugas dan pihak terkait dapat melakukan pengecekan terhadap sumber awal api, kondisi instalasi listrik, peralatan yang berada di sekitar titik kebakaran, serta faktor lain yang kemungkinan menjadi pemicu.
Pemeriksaan tersebut juga penting untuk mengetahui seberapa luas dampak kebakaran terhadap bangunan. Setelah proses pemadaman dan pendinginan selesai, pihak terkait dapat melakukan evaluasi terhadap kondisi struktur gedung dan fasilitas yang terdampak.
Besarnya pengerahan sumber daya dalam kejadian ini memperlihatkan tantangan yang dihadapi petugas ketika menangani kebakaran pada bangunan di kawasan perkotaan. Gedung yang berada di Jakarta Pusat memiliki lingkungan yang padat dengan berbagai aktivitas masyarakat dan bangunan di sekitarnya.
Dalam kondisi seperti itu, petugas harus memastikan api tidak menjalar ke bangunan lain. Pengendalian perambatan menjadi salah satu tujuan utama agar kerugian yang ditimbulkan dapat ditekan.
Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat mengenai pentingnya sistem keselamatan kebakaran di gedung perkantoran. Pemeriksaan instalasi listrik, ketersediaan alat pemadam api ringan, sistem alarm, jalur evakuasi, serta kesiapan petugas gedung merupakan sejumlah aspek yang perlu diperhatikan secara berkala.
Gedung pemerintahan yang melayani masyarakat juga perlu memiliki prosedur tanggap darurat yang jelas. Setiap pekerja sebaiknya mengetahui lokasi jalur evakuasi dan titik kumpul apabila terjadi keadaan darurat.
Selain itu, latihan evakuasi secara berkala dapat membantu pekerja memahami tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran. Kecepatan dalam melakukan evakuasi dapat menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko korban.
Bagi masyarakat yang berada di sekitar lokasi, kejadian tersebut juga menunjukkan pentingnya tidak mendekati area kebakaran ketika proses pemadaman berlangsung. Kehadiran masyarakat yang tidak berkepentingan dapat menghambat pergerakan kendaraan pemadam dan petugas yang sedang menjalankan operasi.
Setelah api berhasil dilokalisasi pada pukul 01.14 WIB, fokus petugas kemudian beralih pada proses pendinginan yang dimulai sekitar pukul 01.53 WIB. Tahap ini dilakukan hingga kondisi bangunan benar-benar dinyatakan aman dari potensi munculnya kembali api.
Dengan pengerahan 39 unit kendaraan dan 195 personel, penanganan kebakaran gedung Bapenda Jakarta menjadi salah satu operasi yang membutuhkan koordinasi cukup besar. Keberhasilan melokalisasi api menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Selanjutnya, perhatian akan tertuju pada pemeriksaan kondisi bangunan, pendataan kerusakan, penanganan pekerja yang terdampak, serta penyelidikan mengenai penyebab kebakaran. Informasi lebih lengkap mengenai kerusakan maupun penyebab kejadian diharapkan dapat diketahui setelah proses penanganan di lokasi selesai.
Kebakaran tersebut kembali menunjukkan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana di lingkungan perkantoran tidak dapat diabaikan. Sistem pencegahan, kesiapan petugas, jalur evakuasi, dan koordinasi dengan layanan darurat menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan pekerja sekaligus melindungi fasilitas publik.