JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca ekstrem. BMKG memprediksi bahwa periode musim kemarau dengan intensitas yang lebih kering (dry spell) diprakirakan masih akan berlanjut hingga bulan September. Sementara itu, potensi curah hujan dengan intensitas tinggi diprediksi baru akan muncul secara bertahap pada periode Oktober hingga November.
Kondisi kemarau yang lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya ini dipicu oleh masuknya puncak fenomena kemarau serta dinamika suhu permukaan laut di kawasan Samudra Hindia dan Pasifik. Karakteristik cuaca ini berpotensi memicu lonjakan risiko krisis air bersih dan penurunan ketersediaan air tanah di berbagai wilayah Indonesia.
Wilayah Rawan dan Puncak Cuaca Kering
Berdasarkan pemantauan indikator iklim terbarunya, BMKG mencatat bahwa sejumlah kawasan di Indonesia terutama wilayah selatan Khatulistiwa seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) akan merasakan dampak fenomena cuaca kering yang paling signifikan.
Imbauan BMKG: BMKG meminta sektor pertanian dan pengelola sumber daya air untuk segera mengambil langkah penyesuaian. Tanpa adanya hujan dengan intensitas cukup hingga bulan September, potensi kekeringan meteorologis yang berdampak pada lahan pertanian dan krisis air baku harian masyarakat dipastikan kian meningkat.
Minimnya pembentukan awan hujan di kawasan tersebut juga berisiko memperpanjang durasi cuaca panas terik pada siang hari serta memicu risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di titik-titik rawan.
Meski kemarau kering diprediksi mendominasi hingga September, BMKG memproyeksikan bahwa pola angin dan kelembapan udara akan mulai beranjak mengalami transisi pada awal kuartal keempat tahun ini. Masuknya musim pancaroba dan dimulainya awal musim hujan akan terjadi secara tidak serentak di tiap wilayah.
Beberapa hal penting terkait peralihan musim yang disampaikan BMKG meliputi:
-
Pancaroba di Akhir September: Wilayah bagian barat dan utara Indonesia diprediksi mulai memasuki masa transisi dengan ditandai munculnya hujan lokal berdurasi singkat namun berintensitas lebat.
-
Hujan Tinggi Oktober–November: Potensi curah hujan intensitas sedang hingga tinggi diprakirakan baru aktif secara bertahap mulai bulan Oktober dan meluas ke seluruh wilayah Indonesia pada bulan November.
-
Antisipasi Cuaca Ekstrem: Masyarakat diminta mewaspadai potensi angin puting beliung, petir, dan hujan es yang kerap mengintai saat transisi dari musim kemarau menuju musim hujan tiba.
Menanggapi laporan prediksi dari BMKG ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama kementerian terkait mengimbau seluruh pemerintah daerah untuk segera menetapkan status siaga darurat kekeringan serta mengoptimalkan pendistribusian air bersih ke zona-zona kritis.
Para petani juga disarankan untuk mengatur strategi pola tanam dengan memilih varietas komoditas yang lebih tahan terhadap cuaca kering (drought-resistant) serta memaksimalkan penggunaan teknologi irigasi hemat air. Langkah edukasi hemat air di tingkat rumah tangga juga menjadi kunci utama agar kebutuhan air baku nasional tetap terjaga aman hingga hujan mulai turun secara merata pada bulan Oktober dan November mendatang.