NVIDIA Masuk Batam! Pembangunan Kampus AI Terbesar se-Asia Tenggara Resmi Dimulai

S Sawalika 15 Sep 2026 1 dilihat 4 menit baca

Batam kembali mencuri perhatian dunia investasi teknologi. Kota industri di Kepulauan Riau ini resmi terpilih sebagai lokasi pembangunan salah satu kampus kecerdasan buatan (AI) terbesar di kawasan Asia Tenggara. Proyek raksasa ini digarap melalui kemitraan strategis antara Firmus Technologies, perusahaan infrastruktur AI asal Australia, dengan NVIDIA Corp dan operator pusat data DayOne dari Singapura.

Rencana investasi ini pertama kali diumumkan oleh Firmus Technologies pada akhir Juni 2026. Nilainya tidak main-main: proyek ini diperkirakan akan menghasilkan kesepakatan pembelian (purchase agreement) senilai 25 hingga 30 miliar dolar AS, atau setara ratusan triliun rupiah, dalam enam tahun pertama masa operasionalnya. Kemitraan antara ketiga perusahaan ini dirancang untuk berlangsung selama delapan tahun, dengan fasilitas ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2027.

Fasilitas yang akan dibangun berupa kampus NVIDIA DSX AI Factory dengan kapasitas listrik mencapai 360 megawatt (MW). Angka ini menempatkan Batam sejajar dengan sejumlah lokasi pusat data AI berskala besar lainnya di dunia. Sepanjang periode 2027 hingga 2028, fasilitas tersebut diproyeksikan mampu menampung hingga 170.000 unit chip akselerator AI dari NVIDIA, mulai dari platform Grace-Blackwell, Vera-Rubin, hingga Vera, yang akan dipasang secara bertahap.

Dengan kapasitas sebesar itu, kampus AI di Batam digadang-gadang menjadi salah satu klaster komputasi grafis (GPU) terbesar yang pernah direncanakan di Asia Tenggara, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu proyek infrastruktur AI terbesar di kawasan Asia Pasifik.

Pemilihan Batam sebagai lokasi proyek bukan tanpa alasan. Letak geografisnya yang berdekatan dengan Singapura, salah satu pusat data terbesar di Asia Tenggara, menjadi salah satu daya tarik utama. Selain itu, Batam memiliki akses ke jaringan kabel bawah laut internasional serta dukungan kawasan industri yang sudah mapan, dua faktor krusial bagi proyek infrastruktur digital berskala besar.

Wakil Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Li Claudia Chandra, menyambut baik rencana investasi ini. Ia menyebut masuknya investor sekelas Firmus dan NVIDIA sebagai bukti nyata meningkatnya kepercayaan investor global terhadap iklim investasi di Batam. Menurutnya, kombinasi lokasi strategis, infrastruktur yang terus berkembang, serta dukungan regulasi yang kondusif menjadi keunggulan Batam dibanding daerah lain.

Sebagai bagian dari dukungan pemerintah daerah, BP Batam menyiapkan berbagai kebutuhan dasar agar proyek dapat berjalan sesuai rencana, mulai dari pasokan listrik, konektivitas digital, hingga kemudahan layanan investasi bagi perusahaan yang terlibat.

Salah satu aspek menarik dari proyek ini adalah pendekatan teknis yang digunakan Firmus. Perusahaan akan menggabungkan platform AI factory milik NVIDIA, yaitu DSX, dengan arsitektur HyperCube milik Firmus sendiri yang mengandalkan sistem pendingin cair. Pendekatan ini dirancang agar fasilitas mampu menjalankan komputasi AI dalam skala masif secara efisien, mengingat kebutuhan daya listrik dan pendinginan menjadi tantangan utama pusat data AI berkapasitas besar seperti ini.

Perlu dicatat, meski NVIDIA turut menanamkan modal ke Firmus dan teknologinya menjadi tulang punggung fasilitas ini, kampus AI di Batam bukanlah pusat data yang dimiliki langsung oleh NVIDIA. Firmus tetap menjadi pihak yang mengoperasikan fasilitas tersebut, dengan NVIDIA berperan sebagai mitra teknologi dan investor strategis.

Masuknya investasi berskala besar ini diyakini akan membawa sejumlah dampak positif bagi Indonesia. Selain memperkuat posisi Batam sebagai hub digital di kawasan, proyek ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru bagi tenaga profesional di bidang teknologi. Lebih jauh, kehadiran fasilitas ini diperkirakan turut memperkuat ekosistem AI nasional serta membuka peluang alih pengetahuan dan transfer teknologi.

Proyek ini juga menambah panjang daftar investasi infrastruktur AI berskala besar yang masuk ke Indonesia dalam beberapa waktu terakhir, seiring semakin banyaknya perusahaan, startup, dan lembaga pemerintah yang mengadopsi teknologi kecerdasan buatan. Kebutuhan akan GPU untuk melatih dan menjalankan model AI diperkirakan akan terus meningkat, dan kehadiran fasilitas sebesar ini di Batam menjadi sinyal bahwa Indonesia mulai mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok infrastruktur AI global.

Dengan target operasional pada awal 2027, dunia teknologi kini menanti bagaimana kampus AI raksasa ini akan mengubah lanskap digital Batam dan Indonesia secara keseluruhan.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait