Belakangan ini, label "generasi anti-cinta" atau "generasi paling kesepian" kerap disematkan pada Gen Z. Tuduhan ini muncul dari berbagai fenomena, mulai dari menurunnya angka pacaran di kalangan anak muda, maraknya istilah "singlehood era", hingga tren hidup sendiri yang justru dirayakan di media sosial. Namun, benarkah Gen Z benar-benar apatis terhadap cinta? Sejumlah riset justru menunjukkan gambaran yang lebih rumit: Gen Z bukan menolak hubungan romantis, melainkan menempatkannya di urutan yang berbeda dalam daftar prioritas hidup mereka.
Survei Indonesia Millennial and Gen Z Report yang dirilis IDN Research Institute pada 2025 mengungkapkan bahwa karier menjadi prioritas utama generasi muda Indonesia, dengan persentase 35 persen untuk Gen Z dan 30 persen untuk milenial. Sementara itu, hubungan asmara hanya menjadi prioritas utama bagi 21 persen Gen Z, jauh di bawah milenial yang mencatatkan angka 31 persen. Data ini menunjukkan adanya pergeseran yang cukup jelas: generasi yang lebih muda justru semakin menomorduakan urusan asmara dibanding generasi sebelumnya.
Pergeseran ini bukan berarti Gen Z tidak menghargai hubungan, melainkan mereka menaruh nilai lebih besar pada pencapaian yang dianggap fondasional bagi masa depan. Survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 yang melibatkan lebih dari 23 ribu responden dari 44 negara menemukan bahwa hanya sekitar 6 persen Gen Z dan milenial yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama. Sebaliknya, mayoritas dari mereka justru mengutamakan keseimbangan hidup, kesempatan belajar, keamanan finansial, kesehatan mental, dan pekerjaan yang bermakna.
Salah satu alasan utama di balik pergeseran prioritas ini adalah kesadaran Gen Z yang jauh lebih tinggi terhadap isu kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Riset LIMRA's 2024 BEAT mencatat bahwa sebagian besar pekerja Gen Z melaporkan pernah mengalami tantangan kesehatan mental, setidaknya sesekali dalam kehidupan kerja mereka. Kondisi ini membuat generasi ini lebih selektif dalam menentukan apa yang layak menyita energi dan waktu mereka, termasuk soal hubungan romantis.
Bukan rahasia lagi bahwa menjalin hubungan asmara membutuhkan sumber daya emosional yang besar. Bagi Gen Z yang sedang berjuang membangun stabilitas mental dan finansial di tengah ketidakpastian ekonomi global, memilih untuk menunda komitmen romantis sering kali menjadi keputusan yang sadar dan strategis, bukan bentuk penghindaran terhadap cinta itu semata.
Studi EY yang melibatkan lebih dari 10 ribu responden muda di sepuluh negara menjuluki Gen Z sebagai "generasi pragmatis" karena cara mereka memandang masa depan dengan skeptisisme yang rasional. Generasi ini menghadapi berbagai tonggak kehidupan tradisional, termasuk pernikahan dan membangun keluarga, dengan pertimbangan yang jauh lebih matang dibanding generasi sebelumnya. Bukan karena mereka tidak menginginkan hal tersebut, melainkan karena mereka ingin memastikan fondasi hidup mereka sudah cukup kuat sebelum melangkah ke sana.
Sikap ini tecermin dari bagaimana Gen Z mendefinisikan kesuksesan secara jauh lebih luas dibanding sekadar pencapaian finansial atau status hubungan. Kesehatan mental, hubungan sosial yang sehat, dan keseimbangan hidup kini dianggap sama pentingnya dengan pencapaian karier maupun kestabilan finansial. Dengan kata lain, cinta tetap menjadi bagian dari daftar keinginan Gen Z, hanya saja bukan lagi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan hidup seperti yang mungkin dipegang generasi sebelumnya.
Gen Z juga tumbuh di tengah ekonomi kreator, tren freelancing, dan gaya kerja fleksibel yang membuat mereka lebih menghargai otonomi atas hidup mereka sendiri. Karier portofolio, di mana seseorang menjalani lebih dari satu sumber penghasilan atau jalur profesional sekaligus, kini menjadi hal yang lumrah bagi generasi ini. Gaya hidup semacam ini membutuhkan fokus dan komitmen waktu yang besar, sehingga wajar apabila ruang untuk membangun hubungan romantis pun ikut menyesuaikan diri dengan ritme hidup yang lebih fleksibel dan tidak linear.
Pada akhirnya, menyebut Gen Z sebagai generasi anti-cinta tampaknya kurang tepat. Yang sebenarnya terjadi adalah pergeseran cara pandang terhadap apa yang dianggap penting dalam hidup. Gen Z tumbuh di tengah krisis ekonomi, ketidakpastian iklim, dan tekanan sosial media yang tidak dialami generasi sebelumnya dengan intensitas yang sama, sehingga wajar jika mereka membangun ulang skala prioritas mereka sendiri.
Cinta tidak hilang dari daftar keinginan Gen Z, ia hanya bergeser posisi, menunggu giliran setelah fondasi hidup lain dirasa cukup kokoh untuk dipijak. Bagi generasi ini, mencintai diri sendiri, menata karier, dan menjaga kesehatan mental bukanlah bentuk penolakan terhadap cinta romantis, melainkan cara mereka memastikan bahwa ketika hubungan itu datang, mereka sudah siap menjalaninya dengan lebih utuh dan sehat.