Bye-Bye Flexing! China Resmi Larang Konten Pamer Harta di Media Sosial

S Sawalika 12 Jun 2026 1 dilihat 3 menit baca

Era digital memang identik dengan gaya hidup yang terlihat sempurna di layar. Siapa sih yang belum pernah pengin pamer liburan ke luar negeri, barang mewah terbaru, atau makan di tempat fancy lewat media sosial? Kebiasaan yang sering disebut flexing ini sudah jadi tren global. Tapi kalau kamu tinggal di China, sepertinya kebiasaan itu harus segera dihentikan.

Pemerintah China melalui badan pengawas internetnya, Cyberspace Administration of China (CAC), resmi melarang keras pembuatan dan penyebaran konten yang memamerkan kekayaan secara berlebihan di berbagai platform media sosial. Kebijakan ini bukan sekadar gerakan moral semata, melainkan aturan tegas yang langsung mengancam keberadaan akun-akun influencer lavish lifestyle.

Di balik larangan ini, ada kekhawatiran besar soal rusaknya moral dan nilai sosial masyarakat, terutama anak muda. Pemerintah China merasa konten flexing hanya mengajarkan cinta materi yang berlebihan, mendorong gaya hidup konsumtif, dan memperparah kesenjangan sosial. Bagi mereka, pamer harta secara berlebihan justru bikin orang lain merasa iri, gelisah, bahkan tertekan karena merasa hidupnya tidak "se-wah" yang mereka lihat di layar.

Aturan baru ini melarang keras segala jenis konten 'pamer kemewahan' (flexing). Mulai dari konten tumpukan duit segepok, unboxing tas dan jam tangan mewah miliaran rupiah, gaya-gayaan pamer mobil sport, sampai konten kehidupan ala playboy atau sugar daddy. Semua itu dilarang karena dinilai bisa merusak moral dan nilai-nilai keluarga.

Platform-platform besar seperti Douyin (TikTok China), Weibo, Xiaohongshu (Red Note), hingga WeChat langsung kompak merespons kebijakan ini. Mereka menggelar operasi pembersihan massal, menurunkan konten-konten yang melanggar, hingga membekukan atau menghapus akun para influencer yang bandel.

Aturan dilarang pamer ini sebenarnya muncul karena kondisi ekonomi China lagi seret. Saat ini, negara itu lagi pusing karena ekonomi melambat, banyak anak muda menganggur, dan bisnis properti lagi anjlok. Di masa-masa sulit seperti ini, melihat beberapa influencer pamer harta tanpa kerja keras yang jelas tentu bikin sensitif dan gampang menyulut kecemburuan sosial di masyarakat.

Pemerintah sangat menyadari potensi ledakan kemarahan publik jika disparitas ekonomi terus dipertontonkan secara vulgar di ruang digital. Fenomena gerakan Tang Ping (Berbaring) dan Bai Lan (Membiarkan Busuk) yang dilakukan oleh anak muda China sebagai bentuk protes pasif terhadap budaya kerja dan tekanan hidup, menjadi alarm bagi pemerintah. Menciptakan ruang digital yang "sehat" dan tidak memicu tekanan berlebih adalah cara Beijing menjaga stabilitas sosialnya.

Konsekuensinya, para influencer penikmat konten kemewahan ini dihadapkan pada pilihan mutlak: menyesuaikan diri atau gulung tikar. Tren digital di China pun mengalami pergeseran radikal. Orientasi konten kini beralih dari pamer saldo rekening menuju konsep Zheng Nengliang ('Energi Positif') yang diresmikan oleh otoritas setempat.

Para kreator konten kini berbondong-bondong membuat video tentang hidup sederhana di pedesaan, memasak makanan rumahan, bercocok tanam, membaca buku, hingga menunjukkan semangat kerja keras dan nasionalisme. Platform seperti Xiaohongshu yang dulunya identik dengan review produk mewah, kini ramai dengan tips keuangan yang realistis, wisata hemat, dan gaya hidup minimalis.

Langkah ekstrem China ini jelas memicu perdebatan dunia. Ada yang menganggap pemerintahnya terlalu ikut campur dan mengekang kebebasan berekspresi warganya sendiri. Tapi tidak sedikit juga yang merasa kebijakan ini seperti tamparan keras yang menyadarkan kita, betapa beracunnya tren pamer harta buat mental masyarakat secara keseluruhan.

Di zaman ketika harga diri kerap diukur dari jumlah likes dan komentar atas barang bermerek, kebijakan China ini sukses membuka ruang diskusi: apakah hidup kita memang wajib dipamerkan demi pengakuan orang lain? Larangan flexing ini mungkin terasa mengekang, namun bisa jadi inilah momentum bagi kita untuk kembali pada nilai-nilai autentik, alih-alih terjebak dalam ilusi kemewahan di media sosial.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait