Tiap tahun ceritanya sama: siswa di kota besar lancar ujian, sementara yang di pinggiran berjuang melawan sinyal. Kapan ketidakadilan digital ini benar-benar diselesaikan?
Bayangkan sudah belajar mati-matian selama dua belas tahun. Hari ujian tiba. Kamu duduk di depan komputer. Soal terbuka. Lalu… loading. Loading. Loading. Koneksi putus. Panitia datang, minta sabar. Timer terus berjalan.
Ini bukan cerita fiktif. Setiap musim UTBK, laporan serupa datang dari berbagai penjuru Indonesia — Kalimantan pedalaman, NTT, Papua. Siswa yang secara akademis mungkin sama cerdasnya dengan teman mereka di Jakarta, tapi kalah bukan karena nilai, melainkan karena infrastruktur.
Masalahnya berlapis. Server yang tidak siap menampung lonjakan traffic. Pusat ujian yang kekurangan komputer layak. Dan yang paling mendasar: koneksi internet yang tidak merata. Indonesia memang sudah memiliki program Palapa Ring untuk memperluas jangkauan internet, tapi kualitas sinyal di titik-titik terpencil masih jauh dari ideal.
Para pendidik dan aktivis pendidikan sudah lama menyuarakan solusi alternatif: ujian berbasis kertas untuk daerah 3T, perpanjangan waktu otomatis ketika sistem bermasalah, atau pengembangan aplikasi ujian yang bisa berjalan secara offline lalu sinkronisasi ketika ada sinyal.
Sementara solusi sistemik belum datang, yang paling dirugikan adalah anak-anak yang tidak punya pilihan tempat lahir. Dan itu, bagaimanapun kita memandangnya, bukan salah mereka.