Benua Eropa kembali dilanda krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas sepanjang musim panas 2026. Gelombang panas berturut-turut, kekeringan yang memecahkan rekor, serta angin kencang telah menciptakan kondisi ideal bagi api untuk berkobar dan menjalar dengan cepat di berbagai wilayah, mulai dari Semenanjung Iberia di barat hingga Balkan di tenggara. Suasana mencekam menyelimuti banyak kota, ketika ribuan warga terpaksa mengungsi dan layanan darurat kewalahan menangani lonjakan titik api yang datang hampir tanpa jeda.
Uni Eropa sempat memperingatkan bahwa pusat krisis karhutla bergeser ke arah timur, dengan Yunani dan Italia diperkirakan menghadapi bahaya yang semakin besar seiring gelombang panas, kekeringan, dan angin kencang yang berlanjut hingga awal Agustus. Peringatan tersebut terbukti akurat. Badan Kajian Bersama Komisi Eropa bahkan memperkirakan bahaya kebakaran berada pada level "sangat ekstrem" di sebagian besar wilayah Eropa tengah dan timur pada pertengahan Agustus, membentang dari Jerman dan kawasan Alpen, melintasi Polandia, hingga Balkan. Kondisi ekstrem serupa juga diprediksi melanda sebagian wilayah selatan Inggris, Irlandia, Prancis utara, dan Swedia selatan.
Pada Jumat, 14 Agustus 2026, kebakaran hebat melanda area berhutan dan permukiman di sekitar kota wisata Omis, Kroasia. Api yang mulai berkobar pada malam sebelumnya menjalar dengan cepat sehingga memaksa sedikitnya seribu orang mengungsi. Pihak kepolisian setempat melaporkan satu korban jiwa ditemukan di lokasi kejadian, sementara puluhan orang lainnya mengalami luka-luka.
Di saat bersamaan, gelombang panas yang memecahkan rekor juga melanda Prancis dan Inggris. Prancis mencatat salah satu tahun terkering dalam sejarahnya, kondisi yang membuat kebakaran baru berkobar dengan cepat di kawasan hutan wilayah Landes, pesisir barat daya negara itu. Ratusan penduduk di kota Luglon terpaksa mengungsi, sementara ratusan petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjinakkan api. Situasi serupa juga terjadi di berbagai penjuru Eropa, dengan laporan menyebutkan lebih dari seribu titik kebakaran hutan aktif membara di seluruh benua pada pertengahan Agustus ini.
Kebakaran juga merambah ke negara-negara yang biasanya jarang menghadapi ancaman semacam ini, seperti Belgia dan Jerman, memaksa ribuan orang mengungsi dan membebani kapasitas layanan kedaruratan di berbagai wilayah.
Yunani, yang sepanjang musim ini berulang kali menjadi episentrum karhutla, kembali melaporkan kebakaran baru di dekat ibu kota Athena pada 10 Agustus. Pemerintah mengerahkan ratusan petugas pemadam kebakaran beserta peralatan untuk menanganinya. Sebelumnya, kebakaran yang terjadi di sebelah barat laut Athena telah menghanguskan lebih dari 10.000 hektare hutan pinus.
Di Spanyol bagian barat daya, petugas pemadam kebakaran juga berjibaku mengendalikan api yang menyebar cepat, memaksa sekitar 800 orang mengungsi dengan jumlah yang terus bertambah. Sebelumnya pada akhir Juli, kebakaran besar juga melanda Pulau Kreta, memaksa evakuasi massal warga dan wisatawan dari sejumlah kota seperti Kyra Vrysi dan Agia Galini setelah angin kencang membuat api sulit dikendalikan di dekat kawasan wisata.
Musim panas 2026 disebut berpotensi menjadi salah satu musim kebakaran hutan terparah dalam sejarah Eropa. Ratusan ribu warga di Prancis dan Spanyol telah dievakuasi dari rumah mereka sepanjang musim ini. Kebakaran tidak hanya menghanguskan hutan, tetapi juga menghancurkan rumah dan permukiman, sementara sejumlah petugas pemadam kebakaran dilaporkan kehilangan nyawa saat bertugas. Di wilayah Gironde, Prancis, kebakaran bahkan telah melahap sekitar 42.000 hektare lahan, sehingga wisatawan diimbau untuk tidak mengunjungi kawasan tersebut hingga situasi dinyatakan aman.
Secara keseluruhan, badan PBB untuk Eropa (UNECE) mencatat lebih dari 434.000 hektare lahan telah hangus terbakar di seluruh Eropa sepanjang 2026. Angka ini menjadi pengingat betapa krisis iklim turut memperbesar risiko dan intensitas kebakaran hutan di kawasan yang sebelumnya relatif jarang menghadapi ancaman semacam ini.
Layanan darurat di seluruh Eropa tetap dalam status siaga tinggi seiring gelombang panas yang terus melanda. Otoritas di berbagai negara mendesak warga di wilayah-wilayah yang terancam untuk mematuhi perintah evakuasi dan mengambil langkah pencegahan guna mengantisipasi meluasnya kebakaran. Sejumlah negara juga saling membantu melalui mekanisme perlindungan sipil Uni Eropa, mengerahkan pesawat pemadam dan personel tambahan ke wilayah-wilayah yang paling parah terdampak.
Krisis karhutla yang berulang setiap musim panas ini semakin mendorong desakan bagi negara-negara Eropa untuk memperkuat strategi mitigasi jangka panjang, mulai dari pengelolaan hutan yang lebih baik, penguatan kapasitas pemadam kebakaran, hingga langkah-langkah adaptasi terhadap perubahan iklim yang menjadi pemicu utama di balik meningkatnya frekuensi dan intensitas bencana ini.