erusahaan China Ciptakan Kalung AI yang Bisa Menerjemahkan Suara Anabul

H Herman 25 Mei 2026 6 dilihat 3 menit baca

Dunia teknologi kembali menghadirkan inovasi unik yang terdengar seperti adegan film fiksi ilmiah. Sebuah perusahaan asal China bernama Meng Xiaoyi resmi memperkenalkan perangkat berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang diklaim mampu menerjemahkan suara hewan peliharaan ke dalam bahasa manusia. Teknologi ini hadir dalam bentuk kalung pintar yang dikenakan di leher kucing maupun anjing, dan disebut mampu membantu pemilik memahami apa yang dirasakan hewan peliharaan mereka.

Perangkat tersebut langsung menarik perhatian publik dan pecinta hewan di berbagai negara karena menawarkan konsep yang selama ini hanya menjadi angan-angan para pemilik anabul. Dengan bantuan AI, suara gonggongan, meongan, hingga perilaku tertentu dari hewan dapat diterjemahkan menjadi kalimat sederhana yang mudah dipahami manusia.

Dalam video demonstrasi yang diunggah perusahaan di platform YouTube, terlihat beberapa kucing dan anjing mengenakan kalung pintar tersebut. Salah satu adegan yang paling menarik memperlihatkan seekor kucing mengeong sambil menatap pemiliknya, lalu perangkat menerjemahkan suara tersebut menjadi kalimat “aku ingin bermain.” Adegan lain menunjukkan seekor anjing yang menggonggong saat melihat makanan, dan sistem AI menerjemahkannya sebagai ekspresi rasa lapar atau antusiasme.

Teknologi ini dikembangkan menggunakan model AI Qwen milik Alibaba Cloud. Sistem tersebut dilatih menggunakan lebih dari satu juta data vokal hewan peliharaan, termasuk pola suara, ekspresi emosi, dan gerakan tubuh. Meng Xiaoyi mengklaim perangkat ini mampu membaca dan menganalisis data hanya dalam waktu sekitar 1,2 detik.

Tidak hanya menerjemahkan suara, perangkat ini juga dibekali kemampuan mengenali emosi hewan. Setidaknya terdapat 20 jenis emosi yang telah diintegrasikan ke dalam sistem AI, mulai dari rasa senang, takut, lapar, stres, cemas, hingga ingin bermain. Data tersebut dikembangkan berdasarkan penelitian profesional mengenai perilaku hewan peliharaan.

Pihak perusahaan menyebut tingkat akurasi perangkat dapat mencapai 95 persen. Meski begitu, sejumlah pakar teknologi dan peneliti perilaku hewan menilai klaim tersebut masih perlu diuji lebih lanjut secara ilmiah. Sebab, memahami komunikasi hewan bukan hanya soal suara, tetapi juga dipengaruhi konteks lingkungan, gerakan tubuh, hingga kebiasaan masing-masing hewan.

Meski demikian, kehadiran teknologi ini tetap dianggap sebagai langkah besar dalam perkembangan AI untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam beberapa tahun terakhir, AI memang semakin banyak digunakan untuk membantu manusia memahami pola perilaku hewan. Sebelumnya, berbagai perusahaan teknologi juga telah mengembangkan aplikasi untuk mendeteksi kesehatan hewan, memantau aktivitas, hingga membaca tingkat stres pada anjing dan kucing.

Kalung AI buatan Meng Xiaoyi ini pun diprediksi dapat membuka pasar baru di industri perangkat pintar hewan peliharaan. Saat ini, pasar produk teknologi untuk hewan terus berkembang pesat, terutama di negara-negara dengan tingkat kepemilikan hewan peliharaan yang tinggi seperti China, Jepang, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat.

Di media sosial, respons publik terhadap perangkat ini terbilang beragam. Banyak pengguna internet merasa antusias dan penasaran dengan kemampuan AI tersebut. Sebagian bahkan bercanda bahwa mereka akhirnya bisa mengetahui “isi hati” anabul kesayangan mereka. Namun, ada pula yang skeptis dan menganggap teknologi ini masih sebatas interpretasi AI terhadap pola suara, bukan benar-benar menerjemahkan bahasa hewan secara akurat.

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, inovasi ini menunjukkan bagaimana perkembangan kecerdasan buatan semakin masuk ke berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk hubungan antara manusia dan hewan peliharaan. Jika teknologi ini terus disempurnakan, bukan tidak mungkin di masa depan komunikasi antara manusia dan hewan akan menjadi jauh lebih interaktif dibanding saat ini.

Kalung AI penerjemah suara hewan tersebut kini mulai diperkenalkan secara luas di pasar China dan diperkirakan akan menarik minat para pecinta hewan di seluruh dunia. Inovasi ini juga menjadi bukti bahwa AI tidak hanya digunakan dalam industri besar atau kebutuhan bisnis, tetapi juga dapat menghadirkan pengalaman baru dalam kehidupan sehari-hari, termasuk untuk memahami bahasa para anabul kesayangan.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
H

Ditulis oleh

Herman

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait